Senin, November 22, 2010
Allah adalah Tuhan saya
Karakter seperti apa yang diketahui orang-orang terhadap diri saya?
Ya Allah...benarkah pujian-pujian mereka?
Saya hanyalah pembohong besar!
Pemimpi yang berharap mimpinya dianggap hebat oleh orang lain!!
Atau ketakutan saya ini yang merupakan kebenaran sesungguhnya?
Ya Allah, ampuni saya, saya sungguh takut terlena dengan semua pujian-pujian ini...)’:
Ampuni saya ya Allah...
Apakah saya harus berhenti menulis kalau semua tulisan ini justru menghantarkan saya ke depan jurang kesombongan? menghantarkan saya dengan sukses untuk semakin menjauhkan diri ini dari cahaya cintaMU???
Ya Allah, saya sungguh ingin meninggal dalam keadaan mengingatMu, namun tentu saja saya tak tahu dan tak akan pernah tahu kapan waktunya engkau akan menjemput saya, lantas apa yang harus saya lakukan??
Dalam salah satu tulisan saya ya Allah...saya sendiri sadar dengan mengutarakan bahwa itu berarti bahwa saya tidak boleh lengah sedikitpun! Ya, sedikitpun saya tidak boleh lengah!!
Karena jemputan mautMu bisa datang kapan saja
Tapi ya Allah...sungguh saya sedang berada dalam titik terendah seorang hamba, titik terendah di mana tepat luar biasa posisi saya sekarang menggambarkan kemampuan diri yang menangis karena ketidakmampuan untuk menangis, benarkah tangisan saya ini adalah tangisan ketidakmampuan saya untuk menangisi diri yang lalai?
Ingin rasanya saya membela diri dan mengatakan tidak!
Bukan, ini memang tangisan penyesalan tulusmu, nestri! Tapi saya rasa hati saya saat ini begitu keruhnya hingga tak mudah lagi bagi saya untuk mempercayai diri saya sendiri..):
Ya Allah, jauhkanlah saya dari segala apa yang bisa membuat saya menjauhkan diri saya sendiri darimu ya Rabb..):
Saya mohon ya Allah...
Saya mohon ya Allah..
Saya sungguh ingin memiliki ketakutan hanya padaMu, dengan mewujudkannya dalam bentuk kehati-hatian diri dalam menjalankan hidup dan mewaspadai hidup itu sendiri untuk tidak mendekati hal-hal yang membangkitkan murkaMu. Namun kenapa terkadang untuk memohon hal ini saja saya merasa tidak pantas?? Saya merasa saya adalah serendah-rendahnya hamba dihadapanMu ya Allah, setidak berartinya makhluk di hadapanMu
Padahal tentu saja bukan itu yang terjadi, dalam janjiMu bahkan Engkau lebih dekat dari urat nadi saya sendiri, bukan begitu duhai kekasih? Dan bukankah tidak mungkin Engkau berada sedekat itu pada ia yang tidak berharga bagiMu?
Namun sungguh hati ini begitu picik mengharapkan cintaMu tanpa memberikan banyak cinta saya untukMu, ya Allah...seandainya penghalang cinta saya ini padaMu adalah karena sedikitnya kecintaan dan rasa cinta yang saya miliki terhadap apapun yang ada, kumohon bantulah saya ya Allah, bantulah saya untuk dapat jadi lebih peka terhadap apapun di dunia ini, karena sungguh siapa saya? Siapa saya tanpa pertolongan dan rahmat dariMu ya Allah?
Sungguh saya bukan siapa-siapa, sungguh saya tidak berharga sampai saya memberi harga pada diri saya sendiri..)’:
Karenanya ya Allah, saya yakin saya berharga, dan saya harus menjaga harga ini! Saya tidak ingin lengah lagi, kapanpun, mulai saat ini, saya sungguh tidak ingin lengah dan terjerumus lagi dalam jurang kelalaian, sehingga apapun itu yang akan saya sebarkan, apakah itu untuk para adik, orangtua para adik, dan siapapun itu, bukanlah suatu kebohongan, dan bukan pula khayalan semu buah dari imajinasi penciptaan karakter seorang nestri yang mereka inginkan
Karena saya berhak utuk lebih mengenal diri saya sendiri! Saya berhak untuk menjadi diri saya sendiri!!
ya Allah, ijinkanlah saya menjadi orang beriman yang dalam setiap tatapanku adalah pandanganMu, yang dalam setiap hembusan nafasku adalah deru cinta padaMu, sang pemilik cinta sejati..
ya Allah, saya ingin membangun cinta karenaMu, dan hanya karenaMu. Maka ridhoilah usaha saya untuk menjaga diri ini dari siapapun yang belum halal bagi saya, menjaga hati ini dari keakraban yang berlebih dari mereka yang belum tentu adalah imam bagi saya dan buah hati saya. Menjaga ucapan agar tidaklah berlebihan dan membuat orang lain mengelu-elukan saya, karena saya sama sekali tidak ingin terjebak dalam perangkap kesombongan! Menjadi seseorang yang jujur, dengan menjadikan orang lain hanya sebagai sosok pembelajaran, dan bukan sebagai kerangka pembentukan pribadi diri.
Karena saya adalah saya, dan cukuplah Engkau Ya Rabb sebagai sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik tempat bertanya..(:
ya Allah, saya sungguh ingin mengatakan bahwa saya mencintaiMu, saya tau bahwa Engkau bahkan tak perlu kata-kata romantis dari saya untuk membuktikan cinta saya padaMu, tapi saya ingin sekali mengatakan dan berteriak bahwa saya memiliki Engkau, Engkau yang begitu luar biasanya sehingga saya tak lagi memerlukan tempat lain untuk bersandar
Dan meski terasa konyol, tapi layaknya kalimat cinta yang kerap saya ungkapkan seperti “saya mencintaimu karena Allah”, rasanya ingin juga saya ungkapkan padaMu ya Rabb
Tapi bagaimana? Saya benar-benar merasa konyol saat ini, bukankah aneh bagi saya untuk mengatakan “Allah, saya mencintaiMu karenaMu”..:D
Wah, saya benar-benar makin merasa konyol karenanya
Tapi setelah berpikir ulang, agaknya tidak ada yang salah bukan duhai kekasih hati dengan kalimat saya tadi?
“Saya mencintaiMu karenaMu” berarti Saya mencintaiMu karena Engkau adalah Tuhan saya. Karena bukankah nikmat terbesar dalam hidup adalah Engkau, ya Allah, adalah Tuhan Kami..(‘:??
“Allah, saya sungguh mencintaiMu karenaMu...”
Bismillah, semoga saya berhasil menjemput syurgaMu, dan setiap detik yang akan datang hingga mautMu menjemputku adalah tiap detik di mana akan semakin bertambah kecintaanMu padaku, karena meski Engkau Maha Adil, saya adalah pencemburu yang handal, hingga rasanya saya tidak rela kalau saya tidak dicintai olehMu..^^V
ya..meskipun Engkau tentu saja lebih cemburu ketika hambaMu mendekatkan diri pada hal lain dengan kedekatan yang lebih besar daripada kedekatannya padaMu
Jadi...karena saya sangat ingin dicintai olehMu, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tiap denyutan jantung yang masih akan berdetak akan semakin menambah rasa cinta saya pula padaMu, kan tidak adil kalau saya hanya ingin menerima tanpa memberi apapun. Rasanya saya malu karena Engkau telah banyak memberi saya nikmat dan karuniaMu sedangkan saya bahkan belum memberi apa-apa yang berarti untukMu, meski tentu saja di lain sisi Engkau tidak membutuhkan apapun dari saya..:D
Ahh...ingin sekali rasanya saya berteriak,
“Allah, saya sungguh mencintaiMu karenaMu...”
Dan sekali lagi, saya benar-benar bersyukur karena Engkau Allah, adalah Tuhan saya..(:
Jumat, November 19, 2010
menjadi syurga
Then she makes something warm for me to drink -
‘Coz it’s cold out there, she thinks
Then she walks me to school - yes, I ain’t no fool, i just think my mum is amazing
(Lalu ia membuatkan sesuatu yang hangat untuk kuminum, karena menurutnya diluar sangat dingin.
Lalu ia mengantarkanku ke sekolah, dan aku tidak perlu merasa malu karenanya, yang kurasakan hanyalah ibuku adalah seorang ibu yang luar biasa)
She makes me feel - Like I can do anything
And when she’s with me there’s nowhere else I’d rather be
(ia selalu membuatku seolah dapat melakukan semua hal, dan ketika ia berada di dekatku, tidak ada satu tempat lainpun bagiku yang lebih baik dari sisinya)
After school, she’s waiting by the gate
I’m so happy that I just can’t wait to get home to tell her how my day went
Eat the yummy food only my mum makes
(sepulangnya dari sekolah, ia sudah menungguku di gerbang sekolah,
aku sungguh merasa senang hingga tak sabar untuk segera pulang dan menceritakan bagaimana aku menghabiskan hari di sekolah, sambil makan makanan lezat yang hanya mampu dibuat oleh ibuku)
Then I wind her up ‘coz I don’t want to bath
And we run around the house with a laugh
No matter what I say, she gets her way
I think my mum is amazing
(Kemudian aku melarikan diri darinya karena aku tidak mau mandi,
dan kamipun berlari berkejar-kejaran mengelilingi rumah dengan senangnya,
namun tidak peduli apapun yang aku katakan, ia selalu saja berhasil menangkapku,
sungguh ibuku adalah ibu yang luar biasa)
In the evening, she tucks me into bed
And I wrap my arms around her head
Then she tells me a tale of a girl far away - who one day became a princess
(Setiap malam ia menghantarku ke tempat tidur, dan akupun melingkarkan tanganku untuk memeluknya, kemudian ia akan mulai bercerita tentang kisah seorang gadis nun jauh di sana yang suatu hari akan menjadi seorang putri)
I’m so happy - I don’t want her to leave
So she lies in bed with me
As I close my eyes, how lucky am I - to have a mum that’s so amazing
(Begitu senangnya aku hingga aku tidak mau ia meninggalkanku,
maka ia pun ikut berbaring menemaniku, dan ketika aku menutup mataku, aku berpikir betapa beruntungnya diriku karena memiliki seorang ibu yang luar biasa)
Then I wake up in the morning - she’s not there
And I realise she never was
And I’m still here in this lonely orphanage - with so many just like me
(Kemudian akupun bangun kembali di pagi hari, tapi ia tidak ada, dan akupun menyadari bahwa ia memang tidak pernah ada, sedangkan aku tetap berada di sini dengan kesendirianku sebagai seorang anak yatim-piatu, dengan masih banyak lagi anak lain sepertiku)
And as my dreams begin to fade
I try hard to look forward to my day
But there’s a pain in my heart that’s a craving:
How I wish I had a mum that’s amazing
(Dan ketika mimpi itu semakin memudar, akupun berjuang keras untuk tetap mampu melangkah ke depan, tapi tetap saja rasa sakit karena harapan yang membuncah itu menusuk-nusuk jiwaku, sungguh, betapa aku menginginkan kehadiran seorang ibu yang luar biasa)
Would be amazing
(Karena ia pasti adalah seorang ibu yang luar biasa)
Lagu yang sangat menyentuh di awal, tapi menyentak di akhir
Sebuah nyanyian rindu seorang anak yang mencoba membayangkan ibu yang kasihnya tidak pernah ia rasakan
Saya benar-benar kaget ketika ternyata kisah sang anak dan ibunya di awal lagu ini yang begitu manis ternyata hanyalah bayangan sang anak yang hanya bermimpi, bermimpi bahwa ia memiliki seorang ibu, yang bahkan ketika bangun pun ia yakin bahwa seandainya ia memiliki ibu, ibunya pasti adalah seorang ibu yang luar biasa
Betapa kita bukanlah anak yang baik
Betapa SAYA sangatlah jauh dari sifat seorang anak yang baik
Padahal, seperti apapun seorang ibu—bahkan seburuk apapun, ia tetaplah seorang ibu, wanita biasa dengan status luar biasa: IBU
Bukankah menjadi ibu adalah menjadi syurga? Dan bukankah membesarkan seorang anak sama halnya dengan membesarkan masa depan?
Sebuah tugas yang luar biasa bukan untuk dilakukan oleh seorang wanita biasa?
Dan betapa saya juga sangat merindukan status mulia itu...(‘:
untuk mendownload lagu yang saya maksud, mangga klik myMOMisAMAZING ini^^
Kamis, November 18, 2010
panggilah dengan indah..(:
“Aku gemes deh sama teteh, pengen aku cubit rasanya”, kalau yang ini dari adik kelas 5 SD yang ngeliat saya autis sendiri main muter-muterin badan karena terlampau asik nikmatin cuaca pagi di lapangan sekolahnya
“Loh? Emang kenapa dek?”
“Abis teteh lucu kayak anak kecil”
“....”
Sebenarnya bukan masalah saya yang seperti anak kecil yang ingin saya utarakan di sini, tapi betapa jujurnya mereka berkata. Memang tidak selalu hal yang baik dan merupakan pujian yang mereka utarakan, dan saya ingat sekali dengan kata-kata seorang adik lain yang berkata “teh nestri mah meni judes”, atau “teh nestri pelit”, dan lain sebagainya. Tapi itulah mereka: jujur (meski terkadang mereka memang sengaja menggoda saya..-_-a)
Kenapa mereka bisa begitu jujurnya? Karena mereka masih kecil? Ah, agaknya tidak. Masih tersimpan dengan rapi dalam inbox sms saya ungkapan jujur dari seorang adik SMKN 2 Sumedang di hari setelah saya mengisi acara pesantren kilat Ramadhan di sekolah mereka,
“Aku dari awal melihat teteh, subhanallah seperti ada seorang remaja muslim yang membangkitkan semangat dalam hati aku. Aku senang melihat cara teteh bicara begitu halus dan sopan.. Aku melihat teteh seperti siti aisyah yang cantik juga cerdas.. InsyaAllah, kalau aku dekat atau jadikan sahabat teteh alangkah bahagia.. Tapi aku malu.. :)”
Dan entah kenapa hanya selang 3 menit datang sms yang nyaris sama dengan konteks yang sedikit berbeda dari adik yang mengirim sms tadi,
“Aku dari awal melihat teteh, subhanallah seperti ada sayap putih yang mengepakan semangat dalam hati. Aku senang melihat cara teteh bicara begitu halus dan sopan.. Aku melihat teteh seperti siti aisyah yang cantik juga cerdas.. Sehingga aku malu.. :)
Sungguh saya masih sangat jauh dari sayidina Aisyah dengan akhlaq dan kecerdasannya yang luar biasa, dan kalimat adik ini tentu bukanlah sebuah fakta, tetapi hanyalah sebuah opini semata. Sebuah ungkapan jujur dari seorang adik
Kenapa mereka bisa begitu jujurnya? Karena masih kecil?
Tapi adik ini adalah pelajar SMK! Kelas dua pula..
“Terbang aja”, sms yang ini meski tidak masuk akal, tetap saja menggelitik perut saya karena polosnya seorang adik kelas enam SD yang meminta saya yang sedang ada di Jakarta untuk main ke Garut detik itu juga. Adik ini bercerita kalau ia sedang sangat merindukan saya saat itu. Jujur sekali bukan? Meski sangat khas anak kecil..:D
“Kak, di sana hujan gak? Di sini hujan besar, mau ikutan dingin-dinginan kak? Kakak lagi di rumah atau di kampus? Kak, kak wita mau maafin aku? Aku sudah minta maaf sama kak wita, hanya satu yang maafin aku yaitu bintang. Bintang itu sangat manis tetapi dia di Jakarta bersama bulan yaitu kak Nestri dan naoval. Tolong dibales kak. BALES”, ini adalah sms dari adik yang sama dengan yang menyuruh saya terbang ke Garut tadi..:D
Naufal itu adik kandung saya (meski adik ini tadi salah menyebut nama naufal..-__-“) yang sering saya ceritakan pada adik lain yang saya kenal, jadi wajar kalau para adik seolah sangat mengenal naufal saya ini...(:
Dan waooo, saya adalah “bintang” dan naufal adalah “bulan”...*-*/!!, benar-benar senyum-senyum sendiri saya dibuatnya. Sekali lagi ini bukanlah fakta, ini hanyalah opini, sebuah ungkapan jujur dari para adik...(:
Sikap mereka yang seperti inilah yang membuat saya semakin menyayangi mereka, ya saya sangat menyayangi mereka, saya sayang mereka karena Allah..(:!!
Belakangan ini saya membandingkan bagaimana para adik bersikap dengan sikap beberapa orang dewasa yang lain. Saya sungguh heran ketika dalam pergaulan rasanya sangat biasa sekali memanggil orang dengan sebutan, “nyet” (agaknya berasal dari kata monyet), “ ‘ndut” (gendut), “sapi”, “jelek”, atau sebutan-sebutan lain yang tidak ada unsur mesranya sama sekali
Kenapa ya?
Yang terkadang membuat saya semakin heran adalah ketika orang yang dipanggil demikian terlihat senang dengan panggilan barunya. Kenapa?
Apakah karena orang ini berjiwa besar yang demikian besarnya sehingga mampu terus bersabar meski dihina?
Begitukah?
Tapi kalaupun begitu, bukankah Rasulullah menganjurkan kita untuk memanggil teman kita dengan panggilan yang disukainya? Layaknya panggilan “ya khumaira” (yang kemerah-merahan) yang Rasul sematkan pada sayidina Aisyah?
Bukankah begitu?
Mungkin panggilan-panggilan aneh tadi memang terkadang disukai dan terkesan mampu lebih mengakrabkan diri satu sama lainnya (mungkin karena dianggap hanya orang-orang terdekat yang berani memanggil seperti itu), tapi saya yakin pasti ada setidaknya setitik bentuk penolakan dalam diri orang yang diberi “nama panggilan” itu
Saya teringat ketika saya harus mencari suatu data dari teman saya yang sering dipanggil “nenek”, saat itu saya mengetik nama “nenek” di searching list facebook saya untuk melihat informasi yang ada, tapi namanya tidak ada di friend list saya (secara nama aslinya bukan “nenek”..-__-), dan saya sungguh menghabiskan banyak waktu untuk berfikir siapa nama asli teman saya ini (untuk mengingat kacamata yang baru saya letakkan saja bisa makan waktu berhari-hari, apalagi untuk mengingat hal-hal semacam ini..-__-a??)
Begitulah nama panggilan, terkadang disematkan dengan alasan yang juga mengatakan sebagai sebuah ungkapan kejujuran untuk menggambarkan kepribadian diri, tapi kan...panggilan yang bagaimanaaaaa?? Panggilan-panggilan yang menegaskan kekurangan seseorang?
Bingung sendiri saya dibuatnya, apa karena mereka dewasa dan para adik masih kecil? Inikah pergaulan orang dewasa saat ini? Kalau iya, saya tidak ingin bergabung dalam geng orang dewasa itu, biarkan saja saya tetap menjadi anak-anak seperti dalam kisah peter pan..d;
Tapi rasanya tidak, anak kecil juga banyak yang menggunakan “nama panggilan” semacam itu, sebaliknya orang dewasa (atau remaja menengah?) seperti adik SMKN yang saya ceritakan tadi juga banyak yang mampu memberi panggilan yang sangat mesra
Lantas kenapa? kalau seperti ini berarti bukan faktor usia dan kedewasaan yang berperan kan? Lantas apa?
Bersihnya hati adalah jawabannya
Terkadang ketika kita ingin memberikan sebuah pujian yang ikhlas, kalimat pujian itu terhenti begitu saja di tenggorokan
Kenapa?
Susah sekali rasanya memuji orang lain jika hati kita tidak bersih, tidak ikhlas dengan apa yang ingin kita sampaikan. Sehingga kalaupun berhasil terlontar, kalimat tersebut terasa sebagai kalimat kosong tanpa makna dengan bumbu kebohongan sebagai kemasannya
Karenanya, bersihkan hati, sucikan jiwa.
Saya pribadi tidak menyarankan untuk selalu memuji orang lain, pujian memang perlu, tapi rasanya tidak untuk selalu dielu-elukan
Sebuah pujian sangat rentan mengantarkan orang ke jurang kesombongan, padahal bukankah inahu la yuhibbu manka la munta lan fakhuur?? Sesungguhnya Allah membenci orang yang sombong dan membanggakan diri
Tapi rasanya kalau untuk panggilan, tidak ada yang salah dengan memanggil dengan panggilan yang disukai seseorang. Kalaulah sulit menentukan panggilan apa yang disukai, bukankah setiap orang memiliki sebuah do’a yang melekat dalam dirinya: nama
Sebuah perwujudan harapan orangtua yang diberikan pada buah hatinya yang berharga. Kalau begitu, panggil saja dengan namanya yang sudah ada. Tidak sulit bukan..(:??
Nama saya Nestri, dan meski terdengar hebat, saya tidak suka dipanggil “bu dokter”, jadi saya cukup senang kalau dipanggil dengan Nestri..(:
“Anggap aja do’a nes”, kata seorang teteh ketika saya mengutarakan ketidaksukaan saya dengan sebutan bu dokter tadi
Tadinya sih saya mengiyakan, “iya juga ya teh? teteh pinter!”, tapi kok...asa tetap saja saya tidak suka ya?? Selain karena saya memang belum jadi seorang dokter, menjadi dokter memang bukan sesuatu yang saya sukai. Sehingga mendengar seseorang memanggil saya dengan sebutan ini membuat saya merasa sangat tidak nyaman (inilah salah satu alasan mengapa saya sangat sadar betapa memanggil seseorang dengan panggilan yang disukainya sangat penting)
Dan itulah pelajaran berharga yang kembali saya dapatkan dari para adik, panggilah dengan jujur, panggilah dengan panggilan yang disukai seseorang, karena ucapan adalah do’a, dan apa-apa yang kita sebutkan juga berarti adalah do’a kita untuk orang lain. Karenanya, panggilah ia dengan indah..(:
Senin, November 01, 2010
bermain dengan alam
saya sukaaaaaa sekali dengan wangi rumput
saya juga sukaaaaaaa sekali dengan wangi tanah yang terkena siraman air hujan
tak kalah juga rasa sukaaaaaaaaa ini terhadap bulan dan bintang yang kini jarang sekali terlihat di langit malam....)’:
saya juga sukaaaaaaaa sekali dengan serangga-serangga, meski kalau untuk yang ini saya lebih suka mengamati mereka dari jarak jauh, maaf ya pak serangga, ibu hexapoda, saya sedikit takut dengan bapak dan ibu, apalagi sama om periplaneta americana yang menulisnya di tulisan ini saja sudah membuat saya merinding berkali-kali (maaf lohh om peri, seandainya waktu kecil dulu saya gak ditakut-takuti sama om peri...T^T)
eh? apa? ada yang gak tau apa itu periplaneta americana?? itu nama latin dari kecoa (tuh kan, saya merinding lagi...T________T)
gyuuuu...
di samping saya sekarang juga ada serangga yang sedang bingung karena posisi badan nya dalam keadaan terbalik (dan agaknya ia kesulitan membaliknya ke posisi semula), tapi.....nanti ya tante serangga, saya kumpulin keberanian dulu buat ngebantu tante...;D
kenapa saya jadi merambat ke duni per-serangga-an ya? bingung sendiri saya...(-_-a)
sebenarnya saya juga tidak tahu mau saya bawa ke mana arah tulisan ini, saya hanya ingin sedikit melarikan diri dari segala penat diri dengan apa-apa yang saya suka ini
Tapi belakangan ini kalaupun saya sempat berjalan di dekat bu rumput, jarang sekali saya sempat untuk menghirup aromanya sepuas hati, bahkan lebih sering bagi saya tidak dapat menghirup apa-apa karena terlalu tergesa-gesa
Bulan dan bintang juga kian hari kian jarang menampakkan dirinya (sepertinya karena sekarang sudah resmi masuk musim penghujan, jadi langit semakin jarang terlihat cerah..T^T), padahal saya sangat merindukan kehadiran mereka...
Pak siput pun sudah lama tidak terlihat, padahal sekarang sudah musim hujan, ke mana perginya yaaaa?? Pak siput, saya rindu ingin menyapa bapak lagi...)’:
Kalau dipikir-pikir, saya sering ditertawakan kalau terlihat oleh teman sedang menyapa bu rumput atau dek kucing, padahal kan seru... \(´▽`)/!! Tapi agak seram juga ya kalau mereka membalas sapaan saya... (¬_¬"). Tapi sebenarnya senang juga kalau sapaan saya dibalas dengan “meongg” dari dek kucing atau sekedar lambaian mesra dari bu rumput yang tertiup angin... (◦'⌣'◦) (meski kalau dengan pak ayam saya lebih senang kalau mereka bereaksi dengan melarikan diri dari kejaran saya, entah kenapa saya suka sekali mengejar-ngejar ayam, jadi ingat waktu di Garut dulu saya pernah main kejar-kejaran di lapangan bola dengan keluarga ayam di sana... (◦'⌣'◦), wah, seru sekali pokoknya^^/!!)
Saya benar-benar merindukan itu semua...
Tapi kapan ya saya bisa meluangkan waktu untuk bernostalgia dengan mereka? Bercanda riang dengan alam?
Jalan pintas memang, tapi yang terpikirkan oleh saya saat ini adalah jalan-jalan ke kebun binatang, meski tidak bisa bermain secara bebas dengan binatang-binatang di sana, saya toh tetap bisa berbincang dengan mereka^^ (asal tidak ada yang menganggap saya aneh saja..-_-a)
Tapi kapan ya? Rencana saya ke Garut untuk bertemu dengan para adik saja harus saya tunda terus dan terus..)’:
Agaknya ujung dari ini semua adalah manajemen waktu! Kalau banyak yang harus dilakukan, jangan lengah untuk melakukannya seefisien mungkin, betul?
Okay, i’ll try it.
And now, for sure, i’ll do it
Minggu, Oktober 10, 2010
what kind of life?
“Ihh..kakak gak takut gitu? entar masuk ke kamar mayat..”, kata seorang adik yang saya kenal dari SMKN tempat saya pernah jadi pembicara di acara pesantren kilat di Sumedang dulu, lewat chatting
“Kenapa harus takut? Toh nanti kakak juga jadi mayat..(:”, jawab saya singkat
Benar kan? Bukan cuma dokter kok yang harus berhubungan dengan kamar mayat. Kalau kita meninggal..masuknya kemana coba? Kamar mayat kan? (Lain lagi ceritanya kalau nanti akhirnya kita dimasukkin ke kuburan, dan lain pula ceritanya kalau setelah itu kita diputuskan tuk masuk ke tempat lain—entah surga, entah neraka)
Jadi kalaupun kita masuk kamar mayat, anggap saja kita sedang mensurvey “tempat perhentian sementara” kita setelah amanah kehidupan dalam diri kita diambil kembali oleh Allah, sang pemilik
Dibandingkan takut masuk kamar mayat atau takut ketemu mayatnya sendiri, saya lebih takut kalau saya jadi si mayat. Saya memang pasti akan jadi mayat, cepat atau lambat. Bisa 40 tahun lagi ketika saya sedang melihat cucu-cucu saya bermain, atau lima detik setelah tulisan ini selesai saya ketik.
Yang manapun, saya pasti akan jadi mayat
Tapi saya sungguh takut kalau saya jadi mayat yang lalai, yang meninggal tidak dalam keadaan mengingat Allah
Sekitar satu minggu yang lalu saya tepat berumur 21 tahun. Mau saya pertanggung jawabkan bagaimana umur saya ini? Sudah saya pergunakan untuk apa saja 21 tahun waktu saya? Malu sendiri saya dibuatnya
Di hari ulang tahun saya kemarin, banyak sekali do’a-do’a yang saya dapatkan dari teman-teman, adik-adik, dan saudara-saudara saya
Senangnya luar biasa, hingga meski memakan waktu berjam-jam untuk sekedar membalas semua do’a yang ada dengan ucapan “amin insyaAllah^^”, saya dengan sangat bersemangat mengirim balasan ke semua yang menghanturkan do’a untuk keberkahan sisa waktu hidup saya itu
Saat itu, ada seorang kakak yang bertanya pada saya kira-kira kalau saya mendapat satu kesempatan do’a yang mujarab, apa do’a yang saya inginkan?
Sebuah pertanyaan yang menarik. Saya pun ingin tahu bagaimana jawaban orang-orang yang lain, do’a apa ya yang mereka inginkan kalau hanya ada satu kesempatan saja untuk do’a itu dikabulkan?
Via Yahoo Messenger, saya iseng bertanya pada beberapa kenalan saya, jawabannya bermacam-macam,
“Masuk syurga" merupakan jawaban dari dua orang kenalan saya
“doa untuk orang tua”
“bahagia dunia akhirat buat saya, keluarga, dan orang-orang yang memperjuangkan jalan Nya :)”
“punya istri seiman yang bisa diajak menjalani kehidupan baik suka maupun duka”
“Selamat dan bahagia dunia akhirat”
“Gw mau hidup gw bermakna”
“pengen semua doa terkabul”
“pengen jadi orang yang keislamannya keren banget biar bener-bener bisa jadi hamba yang menghambakan diri buat Allah”
“mau jadi dokter bedah yang bisa ngebantu banyak orang, terus punya keluarga yang sakinah, terus meninggal masuk syurga”
“menjadi seperti sahabat usman bin affan seorang yang kaya dan dermawan...sehingga bisa membantu banyak orang”
“kebahagiaan buat seluruh umat muslim di dunia”
“sukses dunia akhirat”
“Ya Allah, ijabahlah doa-doa saya selanjutnya”
“Pengen Indonesia jd sejahtera :) Fisik-Spiritual”
“jadi manusia cerdas, bermanfaat, bahagia dunia akhirat”
“Bahagia di dunia ama di surga :D”
“Kebahagiaan hidup akhirat dan dunia bersama keluarga”
Jawaban-jawaban yang membuat saya merinding sendiri, mengingat beberapa alasan luar biasa yang mereka jabarkan mengenai do’anya itu
Ini bukan masalah menentukan do’a siapa yang paling benar, saya tidak punya hak untuk itu
Tapi jawaban mereka sungguh luar biasa, mengingat itu juga adalah pertanyaan yang luar biasa: Do’a apa yang kita inginkan jika hanya ada satu kemungkinan untuk dikabulkan?
Kalau begitu, bukankah berarti jawaban yang diberikan juga adalah jawaban yang mewakili keinginan terbesar dalam hidup? Hidup seperti apa yang ingin kita jalani?
Hidup seperti apa yang ingin SAYA jalani?
Saya pribadi ketika ditanya oleh sang kakak, kira-kira kalau saya mendapat satu kesempatan do’a yang mujarab, apa do’a yang saya inginkan?
Saya memberikan jawaban “meninggal dalam keadaan penuh cinta pada Allah^^/!!” (lengkap dengan smiley dan dua tanda seru..:D)
Karena saya sungguh ingin seperti itu
Saya tidak ingin menjadi hambaNya yang melupakan Allah dan menghabiskan penghujung umur saya dalam kelalaian, ataupun dalam maksiat
Seperti cerita Barseso, seorang ahli ibadah yang zahid—menjauhkan diri dari kehidupan dan godaan duniawi. Barseso menghabiskan hidupnya hanya untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Allah, hingga akhirnya sebuah kelalaian dan godaan syaitan datang menghampirinya di ujung hidupnya (yang tadinya ingin ia luruskan kembali dengan bertaubat). Ia menutup hidupnya dalam keadaan lalai, mulai dari melakukan dosa yang dianggapnya paling ringan, ia pun meminum khamar. Kemudian dosanya dengan segera bertambah menjadi berzina, dan bahkan membunuh. Hidupnya pun akhirnya berakhir dengan hukuman mati
Saya tidak ingin seperti itu!
Saya ingin akhir yang baik, meninggal dengan tidak melupakan Allah, meninggal dengan penuh rasa cinta hanya pada Allah
Bukan pada manusia
Bukan pada dunia
Tapi saya kan tidak tahu kapan akhir hidup saya, kisah Barseso tadi adalah contohnya, kalau misalkan saya lalai dan melupakan Allah meski untuk sebentar saja, dan ternyata waktu yang sebentar itulah waktu dimana akhir hidup saya berada, bagaimana?
Menunda shalat misalnya. Kalau misalnya saya sedang berada di luar dan sedang ingin naik angkutan umum untuk pulang ke rumah ketika azan tiba-tiba berkumandang, apa saya akan tetap naik angkot dan berpikir untuk sholat di rumah saja? Lantas bagaimana kalau angkot yang saya naiki tiba-tiba tertabrak oleh truk besar dan saya pun meninggal? Saya kan belum sampai rumah, berarti saya mengakhiri hidup saya dalam keadaan belum sholat, dalam keadaan sedang melalaikan Allah
Atau misalnya saya melakukan tindakan lain yang memaksa saya untuk meletakkan keimanan saya barang sejenak. Namun bagaimana kalau ternyata yang “sejenak” itu justru menjadi saat terakhir hidup saya?
Apa saya bisa menjamin bahwa saya masih mampu mencapai “segera” ketika pikiran untuk segera bertaubat setelah sedikittttttt saja melalaikan diri dalam kehidupan dunia terlintas dalam benak?
Tidak
Tidak saya
Tidak siapapun
Tidak akan ada yang bisa
Lantas ingin kita habiskan seperti apa hidup ini?
Senin, Oktober 04, 2010
Profesi yang paling tidak saya suka adalah dokter
see what everyone else choose not to see
on a fear conform in relation
see a whole world a new, each day..
_patchADAMS
...(lihatlah dunia dengan cara yang tak biasa^^/!!)
Profesi yang paling tidak saya suka adalah dokter
That’s the true rightness in my mind
Tapi saya kan bukan mereka, dan saya tak bisa memaksakan mereka untuk menjadi seperti saya
Yasudahlah yaaa..
Mereka ya mereka, saya ya saya
Dokter kan hanya sekedar tittle, gelar, yang diberikan oleh manusia
Bukankah dokter adalah seseorang yang membantu orang lain?
Itu kan yang selalu disebutkan oleh polosnya anak kecil ketika ditanya alasannya mengapa ingin menjadi dokter? Ingin membantu orang lain
Karenanya saya yakin, tak perlu menjadi dokter untuk menjadi dokter
Namun dokter yang sesungguhnya adalah dokter yang mampu menyewa ruangan dalam hati pasien
Mengisinya dengan obat yang tak disediakan oleh pabrik obat manapun, bukan untuk mencegah kematian, tapi untuk meningkatkan kualitas dari kehidupan sang pasien
Mengisinya dengan kegembiraan
Mengisinya dengan tawa
Bukan dengan tekanan
Ah, bukan berarti saya akan menghentikan perjuangan ini
Saya akan tetap berjuang menjadi dokter, dalam arti meraih gelarnya
Tapi bukan tulisan “dr” yang ingin saya kejar, bukan sebutan “bu dokter” yang ingin saya dengar
Saya ingin menjadi dokter dalam arti sesungguhnya
Menolong orang lain
Tanpa basa
Tanpa basi
Kamis, September 30, 2010
CELOTEH DI USIA BARU
Rabu-Kamis, tengah malam, 29-30 September 2010
Kemarin pagi saya bermimpi, mimpi indah, sekaligus mimpi buruk. Indah karena dalam mimpi itu saya akhirnya pergi ke Garut, kembali mengunjungi adik-adik kecil yang sangat saya sayang di tempat KKNM (kuliah Kerja Nyata Mahasiswa) dulu. Buruk karena di tengah-tengah mimpi itu saya menyadari kalau itu hanyalah mimpi, sayapun menangis.
Kenapa cuma mimpi?
Kenapa?
Bangun dari tidurpun ingin sekali rasanya melanjutkan tangis di dalam mimpi, tapi yang lebih menyakitkan adalah ternyata airmata itu tak bisa keluar, entah kenapa.
Sekarangpun kalau mengingat mimpi itu lagi saya akan kembali dilanda sedih yang mendalam. Dalam mimpi itu saya dipeluk oleh seorang adik dari belakang, ia adalah Juang, adik yang paling sulit saya hubungi ketika saya sudah pulang dari sana.
Juang ditinggal ibunya yang menjadi tenaga kerja di Saudi Arabia, ayahnya masih ada meski telah bercerai dengan ibunya. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama neneknya, seorang nenek yang sangat luar biasa—bahkan saya sulit menggambarkan ke-luarbiasa-an nenek ini. Sang nenek sering kali menitikkan air mata ketika bercerita mengenai nasib Juang—cucu satu-satunya, meski tak jarang pula kemilau matanya digantikan oleh binar yang sangat indah tatkala beliau bercerita tentang kelebihan Juang.
Saya iri sebenarnya, mengingat saya sudah tidak mempunyai nenek. Tapi rasa bangga sesungguhnya jauh lebih besar mengalahkan kilasan iri yang muncul dan mengisi ruang hati, saya bangga bisa mengenal nenek yang luar biasa ini!!
Dalam mimpi, Juang memeluk saya dengan sangat erat, seolah tidak ingin saya tinggalkan lagi. Begitupun adik-adik yang lain, mereka mengeluh dengan jujurnya, “teteh…kenapa baru datenggggg??”
Sedih sekali saya dibuatnya. Karena bahkan saya belum datang ke sana lagi sampai sekarang. Itu hanyalah mimpi. Mimpi yang terlihat begitu nyata.
Kapan saya bisa kembali ke sana?
Padahal saya masih harus menunda rencana saya untuk mengunjungi mereka meski hanya untuk memastikan di mana surat yang telah lebih dari sebulan saya kirim namun masih belum sampai ke sana.
Ya, saya harus kembali menunda rencana yang tadinya sudah sangat matang: pergi ke Garut minggu ini juga.
Tapi saya kembali harus menundanya. Masih ada masalah lain yang harus saya selesaikan di sini.
Lantas kapan? Kapan saya bisa ke sana dalam waktu dekat?
Sedih sekali rasanya tiap membaca pesan dari adik-adik di sana yang menanyakan mengapa surat kiriman saya tak kunjung sampai.
Kapan saya bisa kembali ke sana? Kapan saya bisa segera ke sana dan membantu menemukan surat yang sangat mereka nantikan??
Ya, kemarin perasaan saya sungguh melankolis, penuh dengan sesal dalam diri, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang tak pasti. Ditambah lagi beberapa masalah yang datang bersamaan dan sangat menyayat hati, ingin sekali diri ini menangis.
feel so sad, mau nangis boleh ya Allah? boleh ya?? saya tau kok ini adalah salah satu ujian cintaMu, tapi gak papa yaaa nangis dikiiiiiiitt ajaaa...??
Fyuhh..
Akhirnya meski saya adalah tipe yang tidak suka keluar rumah ketika sedang sedih, saya membulatkan tekad untuk datang ke tempat les tempat saya mengajar yang hanya setengah jam dari kampus. Ingin sekali diri ini melihat senyum dan canda adik-adik di tempat les.
Saya tahu mereka bukanlah adik-adik yang hadir dalam mimpi saya. Namun mereka memiliki kesamaan yang sangat kental dengan adik-adik saya di Garut: senyum yang membangkitkan semangat.
Sebagaimana adik-adik di Garut yang mampu membuat saya melupakan lemasnya tubuh setelah beberapa jam sebelumnya saya terserang demam hingga 39,8⁰ C. Adik-adik di tempat les selalu mampu membuat saya lupa dengan masalah yang membebani diri.
Ya Allah, di awal usiaku yang baru, semakin bulat tekadku untuk melakukan sesuatu untuk mereka, meski mungkin baru dapat terlaksana 15-20 tahun ke depan…kumohon ridhoilah jalan yang akan mulai kutempuh ini, jalan cintaku pada para adik, dan jadikanlah pula jalanku ini sebagai perantara cintaMu pada adik-adik yang luar biasa ini
pasti akan kuwujudkan!! that's not just manifest in my life in a dream form...yeah, i can do it, and i'll do it..(:!!
Adik-adik, teteh sayanggggg sekali dengan kaliannn, teteh sayang kalian karena Allah..(‘:!!
Dan teteh tidak akan pernah berhenti menyayangi kalian, insyaAllah…







