Add This...^^d!!

RSS

Selasa, Agustus 31, 2010

Kenapa Harus Curiga Kalau Dengan Tanpa Kecurigaan Kita Bisa Menjalani Hidup Yang Lebih Berkualitas?


31 Agustus 2010

“Kenapa sih harus FK?? Kenapa cuma Fakultas kita sama FKG aja yang kayak gini coba??”, keluh seorang teman saya, menyikapi pengumuman fakultas mengenai keputusan wajib dari pemerintah kepada seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia bahwa mulai angkatan di atas kami (tentu saja berarti angkatan kami juga termasuk) untuk mengikuti magang selama setahun terlebih dahulu baru kemudian diperbolehkan membuka praktek di manapun yang disukai.


Kemudian, makian kepada pemerintah mulai keluar dari mulutnya, “akal-akalan doang tuh”, “biar gak keluar banyak uang”, “dasar licik”, “arggghhhh!!”
“iya gak nes?”, tanya dia akhirnya setelah panjang mengeluarkan unek-uneknya. Saya hanya manggut-manggut cepat mendengar ucapannya yang juga cepat itu, meski terkadang saya timpali dengan “oo..” di sela-sela ucapannya yang memang terdengar banyak argumentasi yang kuat itu

Obrolan entah kenapa merambat ke kenangan KKN kami di tempat masing-masing. Pada akhirnya saya ingin mengangkat profil seorang tokoh yang luar biasa (menurut saya) di desa tempat saya melaksanakan KKN tersebut ke dalam topik obrolan kami
Tokoh itu bernama Pak Agus, beliau adalah seorang mantri (perawat) yang mendirikan klinik desa di bekas Puskesmas Pembantu di desa Karyamukti, kecamatan Cibalong, Garut. Klinik Desa itu didirikannya sendiri karena Puskesmas Pembantu yang tadinya bertempat di tempat Klinik Desa tersebut berada telah dipindahkan ke desa sebelah

Namun, meski pindahnya Puskesmas Pembantu tersebut disertai dengan perbaikan kualitas Puskesmas baru di desa sebelah (yang kini tak lagi menyandang kata “Pembantu” di belakangnya), itu berarti kalau ada warga desa Karyamukti yang memiliki permasalahan kesehatan maka warga tersebut tidak akan bisa segera ditangani, karena harus pergi ke desa sebelah terlebih dahulu. Atau bahkan ke kecamatan sebelah jika ia ingin diobati oleh seorang dokter (Karena tetap belum ada eorang dokter yang bertugas di puskesmas baru)
Akhirnya atas dasar pemikiran seperti itulah Pak Agus mendirikan Klinik untuk warga desa Karyamukti, dengan usaha sendiri, dengan biaya sendiri
Sungguh inspirasi yang luar biasa

Namun teman saya ini menanggapi cerita saya dengan tanggapan yang sungguh membuat saya tersentak.
Ia meminta saya untuk tidak percaya begitu saja dengan cerita semacam itu, bisa jadi hal itu hanya bualan Pak Agus, karena pemerintah desa pastilah memiliki anggaran untuk masalah se-crusial permasalahan kesehatan macam tak adanya sarana kesehatan di sebuah desa seperti itu. Bisa jadi dananya dimakan sendiri oleh Pak Agus, namun ia bercerita seolah ia tidak mendapat bantuan apapun hanya demi mendapat pujian atau—lebih diharapkan lagi—sebuah bantuan (yang bahkan  mungkin akan dimakan sendiri lagi oleh beliau)
Inalillahi..sebuah pemikiran yang kejam

Saya tahu, pemikiran teman saya ini bisa saja memang benar-benar terjadi—sangat mungkin terjadi bahkan. Namun tidakkah ia berpikir kata-kata itu sangat menyakitkan bagi saya? Tidakkah ia mengetahui seberapa dekat saya dengan Pak Agus? Tidakkah ia malu jikalau seandainya saya berkata jikalau Pak Agus tersebut adalah saudara saya sendiri??

Pak agus memang nyatanya bukan saudara saya. Namun saya sudah sangat menganggap seluruh warga desa tersebut selayaknya saudara saya sendiri. Tidakkah akan sedih hati seseorangg jikalau mendengar saudaranya sendiri ditimpa kecurigaan keji seperti itu?

“Maaf ya nes udah meracuni pikiranmu dengan pemikiran seperti ini…”, ucap teman saya tersebut sambil menepuk-nepuk pundak saya, “Tapi terlalu percaya sama orang lain itu gak bagus tau….”
“Nestri tuh gak pernah percaya sama orang lainnnn…..”, ucap saya mencoba menanggapi
“Wah, bagus, bagus itu…”, potongnya
Pembicaraanpun entah mengapa tiba-tiba terhenti di situ

Benar. saya memang tidak percaya dengan orang lain, saya pernah mengalami saat-saat sulit dulu dimana saya sama sekali tidak percaya dengan orang lain.
Semua ucapan orang hanya basa-basi!
Banyak penjilat di mana-mana!!
Jijik sekali saya dulu dengan orang dewasa yang memang dalam diri merekalah sifat basa-basi dan penjilat itu saya temui.

Tapi itu dulu

Saat ini, pemikiran saya sama sekali berbeda (meski saya masih tidak suka dengan orang yang hanya berbasa-basi manis di depan namun membicarakan lawan bicara dengan gelinya di belakang)

Tapi saya yang sekarang beda. Insya allah..

Kalimat saya yang terpotong tadi, ”Nestri tuh gak pernah percaya sama orang lainnnnnnnn….”,  sesungguhnya ingin sekali saya lanjutkan di hadapan teman saya itu, “…tapi Nestri INGIN percaya sama mereka”

Ya, saya ingin percaya
Sudah cukup masa-masa kelam saya
Sudah cukup semua itu!

Masih teringat jelas dalam benak saya kelamnya diri ini ketika hati saya menaruh kecurigaan kepada siapapun, sungguh perasaan seperti itu sangat tak mengenakkan jiwa. Hati saya serasa kosong, karena ia telah penuh terisi dengan makian kepada orang lain, dengan kecurigaan-kecurigaan. Sungguh saya muak dengan diri saya yang penuh kecurigaan seperti itu

Karenanyalah saya ingin mempercayainya.
Saya ingin percaya!!

Karena sebuah kepercayaan akan mengisi jiwa dengan sebuah harapan, dengan sebuah do’a tulus
Kalaulah ternyata kepercayaan saya disalahgunakan oleh orang yang saya percayai, berarti sayalah yang salah, karena saya hanya menaruh sebuah kepercayaan tanpa menularkan harapan saya pada orang tersebut. Atau mungkin saya lupa mendo’akannya untuk tetap menjadi orang yang yang seperti saya harapkan, yang membuat kepercayaan saya jatuh padanya
Saya yang salah

Saya ingin sekali menularkan kepercayaan itu, ingin sekali saya dengan tanpa berpikir panjang memberikan pujian yang tulus pada seseorang meski hal luar biasa yang diucapkannya sebenarnya kurang logis.

Namun coba kita renungkan kata-kata bijak yang mungkin sudah sering kita dengar, “Sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati”

                Saya sungguh ingin memberikan kepercayaan dan pujian tulus itu!!
Sebuah kepercayaan dan pujian yang datang dari hati, karena bukankah dengan begitu hanya dua hal luar biasa yang bisa terjadi?
Jika ia berkata benar, maka ia akan semakin memperjuangkan dan mempertahankan apa yang telah ia lakukan. Atau, jika ia berbohong, maka ia akan malu, hatinya akan terusik mendengar kepercayaan dan pujian yang saya sampaikan padanya, sehingga ia akan bersemangat untuk mewujudkan kebohongannya itu menjadi sebuah kebenaran, menjadi sebuah kenyataan

Kalaupun bukan dua hal tersebut yang terjadi, tanyakanlah pada diri… ”Sudahkah saya menyampaikan hati saya dalam setiap kepercayaan dan pujian yang saya sampaikan padanya?, Mungkinkah saya lupa memasukkan hati saya? Atau mungkin hati saya sedang tak ada? Tertutup oleh kelamnya prasangka??”

Sungguh, saya pernah terjebak dalam prasangka-prasangka dan kecurigaan keji yang terus terbesit dalam benak saya. Dan sungguh, saya menjalani hidup yang tidak tenang karenanya. Karena hanya keluhan demi keluhanlah yang meluncur keluar dari bibir, membelok kembali ke telinga, menyebar ke seluruh sel-sel tubuh, dan mengakar di jiwa. Padahal, kehidupan seperti apa yang bisa saya lewati dengan jiwa seperti itu?

Lantas kenapa saya harus menaruh kecurigaan kalau dengan tanpa kecurigaan saya bisa menjalani hidup yang lebih berkualitas?




[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Agustus 15, 2010

sebuah janji masa depan..

Minggu, 1 Agustus 2010


“…kak Nestri sudah sholat belum? Kalau tidak sholat nanti saya pukul”


Pesan tersebut diterima handphone saya di hari ketika saya baru saja menginjakkan kaki di Jatinangor kembali setelah sebulan penuh melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa di Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Pesan singkat tersebut datang dari Yudi, anak kelas enam SD dimana saya dan rekan-rekan KKNM lainnya melakukan salah satu program kerja kami, program pendidikan, dengan mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris selama dua minggu di SD Karyamukti I dan SD Karyamukti II.


Dulu selama saya masih tinggal di desa tersebut, saya sangat dekat sekali dengan anak-anak kecil di sana, baik anak-anak di SD tempat saya mengajar, maupun anak-anak warga di dusun Cibaregbeg, tempat saya tinggal selama sebulan di Garut. Menurut saya, bermain adalah jiwa anak-anak, hingga sungguh tak mungkin memisahkannya dari seorang anak. Namun hidup harus seimbang, belajar dan beribadah juga harus selalu ditanamkan dalam diri anak.


Karena itulah, semasa saya tinggal di sana, meski saya selalu menemani anak-anak bermain, tak lupa saya tetap mengajak mereka belajar, mengerjakan PR bersama misalnya. Beribadah pun begitu, saya selalu mengajarkan agar anak-anak mengerjakan sholat terlebih dahulu ketika adzan berkumandang, meskipun mereka sedang asyik bermain.


“Teh Nestri mah meni judes!”, ledek seorang anak kalau saya sudah mulai mengambil mainan yang mereka pegang ketika mulai terdengar suara adzan. Ya, main boleh diteruskan kembali asalkan sholat telah mereka tunaikan, sebuah pola pikir yang selalu saya tanamkan dalam diri mereka. Karena sekali lagi, main memang adalah jiwa mereka, namun tentu saja tak berarti mereka boleh melepas jiwa lain yang juga sudah seharusnya ada dalam diri mereka: ilmu yang terus mengalir dan ibadah yang mengakar di jiwa.


Anak-anak di sana memiliki potensi sangat besar sebagai sebuah janji bagi masa depan, karena penanaman nilai-nilai agama dan moril sungguh sangat mudah dilakukan dalam diri mereka. Bangun ketika adzan subuh berkumandang cukup mudah bagi kebanyakan anak di sana, karena ada pengajian subuh yang dilaksanakan bagi anak kecil sesaat setelah sholat subuh ditunaikan. Bahkan, teman-teman saya dikelompok KKNM tak jarang yang baru bangun dari tidur dan hendak menunaikan sholat ketika matahari mulai mengintip dari kejauhan! Sungguh ironi yang pahit mengingat anak kecil mampu bangun lebih awal dan menjalani kehidupan dengan senyum mengembang di bibir disaat orang dewasa yang seharusnya lebih dewasa dalam menjalani hidup, justru semakin dalam menarik selimut mereka demi kembali terlelap dalam tidur.



Terbayang pula dalam benak saya indahnya kebersamaan dengan anak-anak di sana saat itu. Berlari-larian di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggal kami—hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki—sering sekali kami lakukan sebagai salah satu cara saya untuk menanamkan nilai pembelajaran. Karena meski yang mereka tahu mereka hanya sedang bermain di pantai, namun sesungguhnya tanpa mereka sadari mereka sedang belajar hal-hal baru bersama saya dan beberapa teman lain dengan berjalan di sekeliling alam. Dimana di sepanjang perjalanan, kami mencoba membaca pesan kebesaran illahi, sebuah pesan yang dapat terbaca nyata dengan hanya melihat segalanya yang telah nampak sempurna: gunung, ladang, air, dan angkasa raya. Hingga akhirnya hanya satu kata yang bisa terucap, Maha Suci Allah pencipta alam semesta ini.


Pesan singkat dari Yudi tadi menyadarkan saya kembali di masa kini, betapa anak-anak di sana selalu mengingat hal-hal yang saya ajarkan. Padahal kebanyakan dari apa yang saya ajarkan hanya terlontar sesaat dari mulut saya ketika mereka sedang asyik bermain. Tapi mereka mampu mengingatnya dengan baik! Sungguh sesuatu yang luar biasa.


Saya, Nestri, Saat ini menginjak tingkat terakhir di Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran, yang sampai saat ini memiliki sebuah angan kecil untuk menjadi seorang dokter anak, merasa sangat terpanggil untuk turut membesarkan mereka, membesarkan anak-anak di sana. Karena sungguh, bukankah membesarkan anak sama halnya dengan membesarkan masa depan?


KKNM kali ini sungguh menginspirasi masa depan saya. Terpikirkan oleh saya untuk ikut mengabdi di desa Karyamukti, karena selain keberadaan dokter memang tidak ada sama sekali di Kecamatan tersebut—sehingga warga harus naik angkutan umum selama setengah jam dengan terlebih dahulu harus menunggu angkutan umum yang datangnya tak jarang lebih dari setengah jam sendiri—dokter anak memiliki potensi yang besar untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak dan membantu mengarahkan anak-anak di sana agar tidak pantang menyerah dalam menjalankan kehidupan dan memenuhi janji yang mereka miliki, sebuah janji masa depan.


Insya Allah…



[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Maret 06, 2010

Assalamu’alaykum pak siput...(:

Sore kemarin perasaan saya sesungguhnya biasa saja, sedikit melankolis bahkan, namun tiba-tiba saya teringat bahwa saya belum mengucap nama Allah dalam perjalanan pulang menuju kosan.

Bismillah, dengan menyebut namaMu ya Allah…


Lalu saya berpikir sendiri, saya telah menyebut nama Allah dalam perjalanan ini, maka saya lihat kedua kaki di ba sesaat, kaki ini berjalan dengan namaMu ya Rabb…Mau saya bawa ke mana kaki yang dipersembahkan atas namaNya ini? Ke kosan?

Ya. Ke kosan, namun karena Allah..


Segala sesuatu yang saya lewati entah mengapa jadi terasa saaaangaaat indahh. Hati pun terasa jadih lebih cerah, senandung ringan terlontar dari bibir, rintik hujan pun membalut mesra dedaunan hijau di lingkungan Unpad, dan, ah, apa itu?

Pak siput! Ada siput besar di antara tangga yang terlihat saat ingin melewati Fisip menuju Sastra (Karena memang itulah rute saya sebelum pulang ke kosan...:D). Siput itu pada awalnya membuat saya merasa agak ingin menjaga jarak.

Tapi hei! Atas dasar apa saya menjauhinya? Lihatlah gerakannya yang sangat perlahan namun pasti itu. Bukankah dalam keperlahanannya itu dia pun berjalan dengan nama Allah? Bukankah alam dan malaikat senantiasa selalu berzikir menyebut asma Allah? Bukankah itu tadi hal yang juga ingin saya coba lakukan?

“Assalamu’alaykum pak siput…(:!!”, ujar saya sambil melewatinya, senang, karena merasa ada teman seperjuangan (hihi, siput adalah teman saya^^!!)

Senyum. Itulah hal yang kulakukan ketika saya melihat dua anak kecil muslim yang mengenakan pakaian koko, sepertinya mereka baru selesai mengaji. Bukankah mereka pun berusaha menyebut nama Allah?

“Haloooooooooooo, assalamu’alaykumm…”

Yang satu tersenyum malu-malu, yang satunya sudah berlalu lebih dahulu, namun setelah anak-anak itu melewatiku, terdengar bisik-bisik lucu di antara mereka,


“Siapa itu?”

“Gak tau”

“Tanya dongg..”

“Gak tauuuu, gak kenal”

“Yeee…makannya tanya dongg..”

Hihi, dasar bocahh, apa tadi pak siput juga berpikir seperti itu yaaaa…d;??


Ah, tampaknya tidak, manusia—bahkan anak kecil sekalipun—memang terkadang berpikir terlalu rumit, kenapa kita harus mengenal seseorang terlebih dahulu kalau kita ingin mengucap salam kepadanya??


Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu Anhu, "Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri."

Kalau tidak salah ada juga sabda beliau—gak tau diriwayatkan oleh siapa—yang kurang lebih begini: “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya melebihi dirinya sendiri. Dan maukah kalian kuberitahu bagaimana cara agar dapat saling mencintai diantara kalian? Tebarkanlah salam”


Salam. Kasih. Cinta. Iman. Mereka adalah suatu kesatuan yang saling memunculkan satu sama lain, sebagaimana ucapan seseorang:

“Jika iman adalah salju maka cinta adalah dinginnya. Karena rasa pertama dari iman adalah cinta. Sehingga semakin beriman seseorang, semakin penuh kasih ia”

Karenanya saling mengasihilah karena Allah.

Kasihilah saudara kita sesama makhluk ciptaan Allah.

Tebarkanlah salam kepada siapapun, atau bahkan apapun, karena memberi salam kepada pak siput atau mungkin bu rumput adalah salam kepada alam, dan mencintai alam adalah mencintai sang pencipta alam…(:

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, Januari 22, 2010

find the way

Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
_Al Qur'anulkarim, Al Fatihah ayat 6 dan 7_







 Persepsi, baik yang keluar dalam diri maupun yang dilihat dari diri kita adalah buah dari sebuah rumusan universal sederhana:

k  Pengetahuan + Kepribadian = Persepsi

dengan k adalah konstanta yang menunjukkan banyak-sedikitnya pengetahuan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu

Begitupun dengan islam, agama universal yang, dalam penerapannya membutuhkan sebuah pencarian nurani demi menemukan jalan menuju taman surga. Berbagai persepsi akan tercipta dalam diri terhadap islam, pengertiannya, penerapannya, tujuannya, dan kelengkapan lainnya. Persepsi yang tercipta tentu sebanding dengan besarnya pengetahuan tentang islam dan juga jenis kepribadian seperti apa yang kita miliki.
Lantas bagaimana menciptakan sebuah persepsi yang benar mengenai islam?
Tentu saja jawabannya adalah dengan menyesuaikannya terhadap besarnya rasa haus akan ilmu keislaman dalam diri serta menciptakan kepribadian diri yang terbaik.
Teorinya tidaklah sulit, cukup mempelajari apa yang rasulullah salallahu 'alaihi wa salam lakukan, dan meneladaninya. Sehingga setidaknya kepribadian diri yang tercipta pun adalah kepribadian yang mendekati nabiyullah, sang kekasih Allah. Karena sungguh, siapakah suri tauladan yang lebih baik dari beliau?

Muhammad salallahu 'alaihi wa salam, apa yang ia lakukan adalah apa yang ia pelajari langsung dari Allah, Al-Waasi'. Nafasnya adalah Al-Qur'an, hidupnya dipersembahkan demi menegakkan agama Allah. Ia lah manusia yang paling sempurna dari manusia terbaik lainnya. Karenanya, siapakah suri tauladan yang lebih baik dari beliau?
Magnet Muhammad. Adakah kekuatan yang lebih dahsyat dari daya tarik memukau yang beliau miliki? Bahkan Michael H. Hart pun menempatkannya dalam urutan teratas dalam tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia dalam bukunya yang berjudul THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTAL PERSONS IN HISTORY.

Sekarang beliau telah tiada. Namun beliau pernah berkata bahwa suatu saat nanti akan lahir umat terbaik dari segala umat yang pernah ada, yaitu umat yang mencintai Allah dan rasulullah walaupun tidak pernah bertemu dengan beliau, itulah umat yang lahir ketika beliau telah tiada.
Kitakah?

Bagaimana caranya menjadi umat yang bahagia itu? Umat yang dirindukan dan didamba surga Allah.
Bagaimana?

Semua itu butuh pencarian. Semua itu butuh perjuangan. Berjuang untuk menghasilkan persepsi islam yang benar bisa dilakukan dengan belajar dan terus mempelajari kebenaran dalam islam, dan kuncinya adalah belajar tanpa henti.

Lantas bagaimana caranya menciptakan kepribadian terbaik dalam diri? Bagaimana caranya agar kita mampu meniru, atau setidaknya menyerupai...rasulullah?
Bagaimana?

Kesempatan adalah kuncinya, mencari kesempatan atau menciptakan kesempatan untuk mampu mengikuti jejak rasulullah bukanlah hal yang sulit dilakukan jikalau kita memang mau mencobanya. Fasilitas demi fasilitas terbentang, seandainya kita mau mencari tahu.
Organisasi keislaman adalah salah satu kesempatan yang tercipta. Karena di sana terdapat sekelompok orang dengan tujuan yang sama, meraih ridha Allah, menempuh jalan orang yang Allah karuniakan nikmat kepadanya. Jalan yang lurus, sebagaimana yang selalu kita inginkan tatkala terucap dari bibir kita tatkala membacakan surat Al-Fatihah ketika menghadap kepadaNya dengan penghambaan terbesar ketika melakukan sholat lima waktu setiap hari
            Ya, organisasi keislaman, di mana terdapat sekelompok manusia yang saling mencintai dan mendukung karena Allah, dalam sebuah pencarian yang sama, dan dengan niat tulus yang akan saling menguatkan tatkala melemah dan mengokohkan tatkala goyah. Itulah kekuatan indah dari organisasi keislaman, apapun itu, termasuk DKM Asy-SyifAa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran...(:



Nestri, 17 Januari 2010
dalam sebuah perenungan diri

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Januari 14, 2010

Berat tuk dilepas, meski letih kurasa…

MedIs atau Medical Islam adalah salah satu divisi dalam DKM Asy-SyifAa Fakultas Kedokteran Unpad

MedIs sendiri bergerak dalam bidang dakwah yang berkaitan dengan kedokteran islam, dimana dengan background kerja MedIs yang berdasarkan pada kajian, MedIs tentu saja akan berkaitan dengan pengkajian islam terkait dengan bidang kedokteran, dan kemudian berbagi informasi penuh makna tersebut kepada sesama muslim lain. Sebuah jalan dakwah yang sangat Subhanallah, begitu pikir saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dalam jalan ini

Manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya. Sudah 2 tahun kepengurusan saya berada dalam divisi ini. Tahun pertama cukuplah saya hanya sebagai pengamat dan pembelajar yang mengamati gerak dan arah kerja MedIs yang 'seharusnya', tapi justru karena pemikiran seperti itulah maka yang saya dapatkan sampai akhir kepengurusan di tahun pertama pun hanya sekedar tahu MedIs seharusnya seperti apa.

Sehingga di akhir tahun pertama dan menuju awal tahun kedua saya sempat goyah untuk keluar dari naungan DKM, karena pada saat yang sama saya masih belum merasakan feel MedIs terikat pada hati saya, Kalau tidak tetap di MedIs, lantas untuk alasan apa lagi saya bertahan di DKM? Begitu pikir saya saat itu

Tapi entah mengapa hati ini terasa berat, hati nurani saya seolah berteriak, saya belum melakukan apa-apa!! Ya. SAYA-BELUM-MELAKUKAN-APA-APA!! Belum untuk DKM AsySyifAa. Belum untuk MedIs. Hingga akhirnya ada suatu event besar yang diadakan dan hanya bisa diikuti oleh anggota DKM AsySyifAa, yaitu pelatihan TMA (Tim Medis AsySyifAa), Kata 'Medis' dalam tim ini adalah 'Medis' yang berkaitan dengan keperluan-keperluan Medis seperti kegiatan Balai Pengobatan, Khitan, maupun bantuan medis lainnya

Tertarik bergabung? Sebenarnya tidak juga, meskipun banyak orang yang rela bergabung dengan DKM AsySyifAa dan hanya menjadi anggota 'bayangan' demi memenuhi syarat dan mendapat 1 tiket untuk ikut bergabung dengan Tim Medis ini. Entah mengapa saya merasa bahwa seolah event ini berkata pada diri saya untuk tidak keluar dari DKM, dan itu artinya tentu saja tetap bertahan dalam divisi MedIs DKM AsySyifAa

Tapi sekali lagi, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya

Meski tekad saya sudah sangat bulat untuk tetap bertahan dalam MedIs. Meski 100% adalah angka yang meluncur keluar dari mulut saya ketika Yasser, sang ketua MedIs baru saat itu, bertanya mengenai seberapa yakin saya dengan keberadaan diri dalam MedIs. Meski banyak impian yang ingin saya torehkan bersama rekan MedIs lainnya dalam tahun itu. Meski banyak agenda-agenda kecil yang indah yang terangkai untuk dilaksanakan bersama.

Namun…ketika saat ini saya bertanya pada diri sendiri apa yang saat ini telah MedIs berikan? Tapi tunggu! Mungkin lebih tepatnya apa yang telah SAYA berikan? Apa saja yang telah saya lakukan?? Masya Allah, saya lagi-lagi telah lengah, membiarkan jiwa MedIs saya menguap dalam diam.

Padahal, bukankah pengkerdilan terkejam adalah membiarkan pikiran cemerlang diam dalam tubuh yang malas??

Saya punya banyak impian untuk Medis, begitupun (saya yakin) dengan rekan MedIs lainnya yang itulah mengapa menjadi alasan kehadiran kita dalam pertemuan dalam satu divisi ini, Medis

Itulah akhir perenungan saya di akhir masa kepengurusan tahun kedua saya berada di MedIs ini, ingin menangis rasanya, ampuni aku ya Ghaffaar, ampuni hamba yang lalai ini

--------------



Berhenti. Keluar dari DKM. Itulah lagi-lagi pikiran yang sama keluar dari benak saya kali ini, menjelang kepengurusan tahun ketiga saya (jikalau saya masih mau meneruskan keberadaan saya di MedIs)

Tapi itulah, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya

Letih, saya letih berada dalam MedIs, dalam kesendirian yang mengiris hati, dalam diam di tengah pikiran cemerlang diri

Padahal semestinya saya tidak boleh letih, walau dua tahun yang telah saya lewati seolah tanpa hasil, seolah tanpa makna. Karena sengguhnya bukan usaha saya tidak ada hasil. Tapi usaha saya belum cukup, dan tak akan pernah cukup, karena ibadah yang baik adalah yang meski dilakukan sedikit tapi kontinyu

Semestinya letih tak boleh terlintas dalam diri ini, meski dua tahun ini telah terlewati, bahkan meski lima atau sepuluh tahun mendatang hidup saya

Semestinya….

Dan lagi-lagi ada suatu kejadian yang seolah menunjukan jalan pada saya untuk tidak keluar dari kesempatan luar biasa dan bertahan lagi dalam MedIs, bukan TMA (meski kemarin saya gagal masuk, dan saya memang berniat mengulangi pelatihan untuk masuk tim ini, tapi bukan untuk bergabung, karena saat ini bahkan tidak terpikir sama sekali untuk menjadi bagian dari tim Medis, karena saya hanya ingin mengikuti pelatihannya saja, berhubung pelatihannya sangat menyenangkan^^)



---------


Kali ini, lagi, saya memiliki banyak impian untuk saya goreskan dalam perjalanan dakwah ini, bersama MedIs. Karena ya…saya akan tetap bertahan di sini, dalam kesempatan indah yang Allah karuniakan pada saya, MedIs

Dan manusia TAK AKAN pernah bisa hidup sendiri, begitupun saya

Sehingga kali ini saya tak pula akan membiarkan pikiran cemerlang ini diam dan mengendap dalam diri, karena saya tak sendiri, saya memiliki rekan MedIs lainnya, yang mungkin juga memiliki pikiran cemerlang yang pula terdiam dan berhenti dalam tubuh yang sendiri

Karena saya tak sendiri….

Karena kita akan bersama…

Menggores catatan perjalanan…

Meniti jalan dakwah…

Dan tak akan pernah berhenti, meski nanti MedIs bukan lagi jalan dipilih..

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Desember 12, 2009

Peraih Nobel Fisologi dan Kedokteran, Daya Tarik Magis untuk Sebuah Motivasi Luar biasa






            "Anak yang sangat baik, tapi bakatnya sangat kurang dan tidak bertenaga"

            Itulah yang dilontarkan oleh rektor tempat Niels Ryberg Finsen bersekolah sebagai lukisan dirinya, terutama karena semasa sekolah ia kerap diolok teman-temannya


            "…bakatnya sangat kurang…" ??
            Ia orang ketiga yang berhasil meraih penghargaan di bidang fisiologi dan kedokteran. Nobel, siapa yang tidak pernah mendengar penghargaan bergengsi yang didedikasikan oleh Alfred Benhard Nobel khusus untuk mereka yang, sepanjang tahun sebelumnya, telah memberikan jasa besar bagi umat manusia?
            Ya, penghargaan luar biasa inilah yang menjadi bukti bahwa Niels Ryberg Finsen adalah seorang penemu berbakat! Bahkan hasil penelitiannya diakui sebagai penemuan penting bagi dunia kedokteran


            "…tidak bertenaga…" ??
            Sejak usia 23 tahun—bahkan mungkin 7 tahun sebelumnya—Finsen menderita penyakit pick, yakni penyakit yang memacu penebalan jaringan penghubung pada selaput-selaput tertentu pada jantung, hati, dan limpa, sehingga menghalangi fungsi organ-organ tersebut
            Namun bahkan penderitannya yang diperparah juga dengan anemia dan kelelahan justru banyak berperan pada permulaan penelitian luar biasa yang ia lakukan. Sinar matahari yang dirasa mampu menyebabkan keadaan yang lebih baik bagi kesehatannya, mendasari penemuannya mengenai penyembuhan beberapa penyakit seperti cacar, TBC, lupus vulgaris, dan berbagai penyakit kulit lain dengan menggunakan metode penyembuhan sinar, baik menggunakan sinar matahari maupun sinar kimiawi lainnya
            Ide-ide mengalir tanpa henti dalam benaknya, kesehatan yang memburuk seolah tak mampu menahan gelora kemauan diri untuk terus meneliti. Bahkan meski tubuhnya harus tertahan dalam sokongan kursi roda ketika ia menerima penghargaan nobel, ia justru semakin berperan dalam kemajuan institut yang ia dirikan, dan ide-idenya pun tetap tak berhenti mengalir
            Tahun terakhir hidupnya pun tetap tak terlepas dari karya. Diet garam yang ia lakukan demi kesehatan lagi-lagi membuahkan sebuah ide dan menuntunnya untuk menulis laporannya yang terakhir, sebuah studi lengkap mengenai En Ophobning of Salt (Penimbunan Garam pada Organisme) yang ia tulis pada tahun 1904, di tahun yang sama ketika ia meninggal dunia karena penyakitnya

            Jadi, benarkah ia tidak bertenaga??
            Salah! Ia justru berkarya!!


Sebuah Inspirasi
            Pengamen di perempatan jalan, pelajar sekolah, anda, saudara saya, dan bahkan saya sendiri tentu tak pantas merendahkan diri mengingat kisah luar biasa dari seorang Finsen

            Orang lain boleh menatap kita dengan sebelah mata, tapi jangan biarkan tatapan mata itu muncul dari diri kita sendiri terutama ketika kita sedang menatap cermin!
            Jangan! Sama sekali jangan!

            Bayangan yang terpantul di cermin itu mungkin saja sering diolok

            Bayangan yang terpantul di cermin itu mungkin saja diragukan orang lain

            Bayangan yang terpantul di cermin itu mungkin saja memiliki halangan fisik maupun kesehatan untuk berkarya

            Tapi, bayangan yang terpantul di cermin itu mampu! Andai saja ia memang mau

            Cukuplah dengan usaha dan kemauan yang kuat dalam diri. Mengenai persepsi orang lain pada kita, jadikan yang positif sebagai tambahan motivasi, sedangkan yang negatif sebagai cambuk diri—dan bukan pembunuh kreasi



Karena kita pun hebat, dan bisa lebih hebat lagi…




[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Agustus 13, 2009

Gak ada uang Gak ada kuliah


Gak ada uang Gak ada kuliah, benarkah?

Hari ini, Rabu 12 Agustus 2008, saya mengikuti FKL (Forum Ketua Lembaga) yang diadakan oleh Departermen Dalam Negeri BEM Unpad.

Di mana agenda dalam forum tadi adalah membahas mengenai penangguhan maupun pembebasan biaya yang diajukan terhadap biaya regristrasi calon mahasiswa baru 2009 di Unpad yang sekarang ini sedang sibuk-sibuknya melakukan regristrasi ulang.

Apakah ada yang butuh bantuan?

Adakah yang mengajukan permohonan penangguhan pembayaran?

Atau…Adakah yang tidak mampu sama sekali untuk membayar—bahkan hanya sekedar—biaya regristrasi?

Ada.
Ya, ada.

Lalu bagaimana?

Setidaknya Unpad melalui para pembantu rektor sendiri langsung menyatakan bahwa masalah-masalah seperti itu tidak lantas akan menjadikan calon mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat melanjutkan pendidikannya di Universitas Padjadjaran ini.

Para calon mahasiswa bisa 'dipermudah' dengan mengajukan beberapa berkas ke pihak Fakultas—di mana calon mahasiswa ini diterima—untuk kemudian mendapatkan Surat Rekomendasi dari Fakultas tersebut.

Setelah Surat Rekomendasi Fakultas tersebut ada di tangan, bisa dikatakan bahwa sudah tidak ada masalah lagi dalam regristrasi akademik. Calon mahasiswa tetap dapat melakukan regristrasi, walaupun dikatakan bahwa ada beberapa fasilitas yang kemudian tidak dapat diberikan selayaknya yang diberikan pada calon mahasiswa yang lainnya, seperti tidak diberinya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)

Tapi bisakah melanjutkan kuliah?

Bisa, tentu bisa.

Bahkan, pihak BPM-Univ (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) pun turut serta menjembatani apabila dirasa masih ada masalah dalam regristrasi tersebut.

Caranya?
Cukup datangi sekretariat BPM-Univ, dan ceritakan permasalahan seperti apa yang dihadapi.

Selebihnya?
Mari berjuang bersama demi melanjutkan pendidikan

Seterusnya?
Informasi-informasi beasiswa menanti


Jadi…masih mau bilang "Gak ada uang Gak ada kuliah"?
Tergantung sampai dimana usaha anda

[+/-] Selengkapnya...