Selasa, Agustus 31, 2010
Kenapa Harus Curiga Kalau Dengan Tanpa Kecurigaan Kita Bisa Menjalani Hidup Yang Lebih Berkualitas?
Minggu, Agustus 15, 2010
sebuah janji masa depan..
Minggu, 1 Agustus 2010
“…kak Nestri sudah sholat belum? Kalau tidak sholat nanti saya pukul”
Pesan tersebut diterima handphone saya di hari ketika saya baru saja menginjakkan kaki di Jatinangor kembali setelah sebulan penuh melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa di Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Pesan singkat tersebut datang dari Yudi, anak kelas enam SD dimana saya dan rekan-rekan KKNM lainnya melakukan salah satu program kerja kami, program pendidikan, dengan mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris selama dua minggu di SD Karyamukti I dan SD Karyamukti II.
Dulu selama saya masih tinggal di desa tersebut, saya sangat dekat sekali dengan anak-anak kecil di sana, baik anak-anak di SD tempat saya mengajar, maupun anak-anak warga di dusun Cibaregbeg, tempat saya tinggal selama sebulan di Garut. Menurut saya, bermain adalah jiwa anak-anak, hingga sungguh tak mungkin memisahkannya dari seorang anak. Namun hidup harus seimbang, belajar dan beribadah juga harus selalu ditanamkan dalam diri anak.
Karena itulah, semasa saya tinggal di sana, meski saya selalu menemani anak-anak bermain, tak lupa saya tetap mengajak mereka belajar, mengerjakan PR bersama misalnya. Beribadah pun begitu, saya selalu mengajarkan agar anak-anak mengerjakan sholat terlebih dahulu ketika adzan berkumandang, meskipun mereka sedang asyik bermain.
“Teh Nestri mah meni judes!”, ledek seorang anak kalau saya sudah mulai mengambil mainan yang mereka pegang ketika mulai terdengar suara adzan. Ya, main boleh diteruskan kembali asalkan sholat telah mereka tunaikan, sebuah pola pikir yang selalu saya tanamkan dalam diri mereka. Karena sekali lagi, main memang adalah jiwa mereka, namun tentu saja tak berarti mereka boleh melepas jiwa lain yang juga sudah seharusnya ada dalam diri mereka: ilmu yang terus mengalir dan ibadah yang mengakar di jiwa.
Anak-anak di sana memiliki potensi sangat besar sebagai sebuah janji bagi masa depan, karena penanaman nilai-nilai agama dan moril sungguh sangat mudah dilakukan dalam diri mereka. Bangun ketika adzan subuh berkumandang cukup mudah bagi kebanyakan anak di sana, karena ada pengajian subuh yang dilaksanakan bagi anak kecil sesaat setelah sholat subuh ditunaikan. Bahkan, teman-teman saya dikelompok KKNM tak jarang yang baru bangun dari tidur dan hendak menunaikan sholat ketika matahari mulai mengintip dari kejauhan! Sungguh ironi yang pahit mengingat anak kecil mampu bangun lebih awal dan menjalani kehidupan dengan senyum mengembang di bibir disaat orang dewasa yang seharusnya lebih dewasa dalam menjalani hidup, justru semakin dalam menarik selimut mereka demi kembali terlelap dalam tidur.
Terbayang pula dalam benak saya indahnya kebersamaan dengan anak-anak di sana saat itu. Berlari-larian di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggal kami—hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki—sering sekali kami lakukan sebagai salah satu cara saya untuk menanamkan nilai pembelajaran. Karena meski yang mereka tahu mereka hanya sedang bermain di pantai, namun sesungguhnya tanpa mereka sadari mereka sedang belajar hal-hal baru bersama saya dan beberapa teman lain dengan berjalan di sekeliling alam. Dimana di sepanjang perjalanan, kami mencoba membaca pesan kebesaran illahi, sebuah pesan yang dapat terbaca nyata dengan hanya melihat segalanya yang telah nampak sempurna: gunung, ladang, air, dan angkasa raya. Hingga akhirnya hanya satu kata yang bisa terucap, Maha Suci Allah pencipta alam semesta ini.
Pesan singkat dari Yudi tadi menyadarkan saya kembali di masa kini, betapa anak-anak di sana selalu mengingat hal-hal yang saya ajarkan. Padahal kebanyakan dari apa yang saya ajarkan hanya terlontar sesaat dari mulut saya ketika mereka sedang asyik bermain. Tapi mereka mampu mengingatnya dengan baik! Sungguh sesuatu yang luar biasa.
Saya, Nestri, Saat ini menginjak tingkat terakhir di Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran, yang sampai saat ini memiliki sebuah angan kecil untuk menjadi seorang dokter anak, merasa sangat terpanggil untuk turut membesarkan mereka, membesarkan anak-anak di sana. Karena sungguh, bukankah membesarkan anak sama halnya dengan membesarkan masa depan?
KKNM kali ini sungguh menginspirasi masa depan saya. Terpikirkan oleh saya untuk ikut mengabdi di desa Karyamukti, karena selain keberadaan dokter memang tidak ada sama sekali di Kecamatan tersebut—sehingga warga harus naik angkutan umum selama setengah jam dengan terlebih dahulu harus menunggu angkutan umum yang datangnya tak jarang lebih dari setengah jam sendiri—dokter anak memiliki potensi yang besar untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak dan membantu mengarahkan anak-anak di sana agar tidak pantang menyerah dalam menjalankan kehidupan dan memenuhi janji yang mereka miliki, sebuah janji masa depan.
Insya Allah…
Sabtu, Maret 06, 2010
Assalamu’alaykum pak siput...(:
Sore kemarin perasaan saya sesungguhnya biasa saja, sedikit melankolis bahkan, namun tiba-tiba saya teringat bahwa saya belum mengucap nama Allah dalam perjalanan pulang menuju kosan.
Bismillah, dengan menyebut namaMu ya Allah…
Lalu saya berpikir sendiri, saya telah menyebut nama Allah dalam perjalanan ini, maka saya lihat kedua kaki di ba sesaat, kaki ini berjalan dengan namaMu ya Rabb…Mau saya bawa ke mana kaki yang dipersembahkan atas namaNya ini? Ke kosan?
Ya. Ke kosan, namun karena Allah..
Segala sesuatu yang saya lewati entah mengapa jadi terasa saaaangaaat indahh. Hati pun terasa jadih lebih cerah, senandung ringan terlontar dari bibir, rintik hujan pun membalut mesra dedaunan hijau di lingkungan Unpad, dan, ah, apa itu?
Pak siput! Ada siput besar di antara tangga yang terlihat saat ingin melewati Fisip menuju Sastra (Karena memang itulah rute saya sebelum pulang ke kosan...:D). Siput itu pada awalnya membuat saya merasa agak ingin menjaga jarak.
Tapi hei! Atas dasar apa saya menjauhinya? Lihatlah gerakannya yang sangat perlahan namun pasti itu. Bukankah dalam keperlahanannya itu dia pun berjalan dengan nama Allah? Bukankah alam dan malaikat senantiasa selalu berzikir menyebut asma Allah? Bukankah itu tadi hal yang juga ingin saya coba lakukan?
“Assalamu’alaykum pak siput…(:!!”, ujar saya sambil melewatinya, senang, karena merasa ada teman seperjuangan (hihi, siput adalah teman saya^^!!)
Senyum. Itulah hal yang kulakukan ketika saya melihat dua anak kecil muslim yang mengenakan pakaian koko, sepertinya mereka baru selesai mengaji. Bukankah mereka pun berusaha menyebut nama Allah?
“Haloooooooooooo, assalamu’alaykumm…”
Yang satu tersenyum malu-malu, yang satunya sudah berlalu lebih dahulu, namun setelah anak-anak itu melewatiku, terdengar bisik-bisik lucu di antara mereka,
“Gak tau”
“Tanya dongg..”
“Gak tauuuu, gak kenal”
“Yeee…makannya tanya dongg..”
Hihi, dasar bocahh, apa tadi pak siput juga berpikir seperti itu yaaaa…d;??
Ah, tampaknya tidak, manusia—bahkan anak kecil sekalipun—memang terkadang berpikir terlalu rumit, kenapa kita harus mengenal seseorang terlebih dahulu kalau kita ingin mengucap salam kepadanya??
Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu Anhu, "Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri."
Kalau tidak salah ada juga sabda beliau—gak tau diriwayatkan oleh siapa—yang kurang lebih begini: “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya melebihi dirinya sendiri. Dan maukah kalian kuberitahu bagaimana cara agar dapat saling mencintai diantara kalian? Tebarkanlah salam”
Salam. Kasih. Cinta. Iman. Mereka adalah suatu kesatuan yang saling memunculkan satu sama lain, sebagaimana ucapan seseorang:
“Jika iman adalah salju maka cinta adalah dinginnya. Karena rasa pertama dari iman adalah cinta. Sehingga semakin beriman seseorang, semakin penuh kasih ia”
Karenanya saling mengasihilah karena Allah.
Kasihilah saudara kita sesama makhluk ciptaan Allah.
Tebarkanlah salam kepada siapapun, atau bahkan apapun, karena memberi salam kepada pak siput atau mungkin bu rumput adalah salam kepada alam, dan mencintai alam adalah mencintai sang pencipta alam…(:
Jumat, Januari 22, 2010
find the way
Kamis, Januari 14, 2010
Berat tuk dilepas, meski letih kurasa…
MedIs sendiri bergerak dalam bidang dakwah yang berkaitan dengan kedokteran islam, dimana dengan background kerja MedIs yang berdasarkan pada kajian, MedIs tentu saja akan berkaitan dengan pengkajian islam terkait dengan bidang kedokteran, dan kemudian berbagi informasi penuh makna tersebut kepada sesama muslim lain. Sebuah jalan dakwah yang sangat Subhanallah, begitu pikir saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dalam jalan ini
Manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya. Sudah 2 tahun kepengurusan saya berada dalam divisi ini. Tahun pertama cukuplah saya hanya sebagai pengamat dan pembelajar yang mengamati gerak dan arah kerja MedIs yang 'seharusnya', tapi justru karena pemikiran seperti itulah maka yang saya dapatkan sampai akhir kepengurusan di tahun pertama pun hanya sekedar tahu MedIs seharusnya seperti apa.
Sehingga di akhir tahun pertama dan menuju awal tahun kedua saya sempat goyah untuk keluar dari naungan DKM, karena pada saat yang sama saya masih belum merasakan feel MedIs terikat pada hati saya, Kalau tidak tetap di MedIs, lantas untuk alasan apa lagi saya bertahan di DKM? Begitu pikir saya saat itu
Tapi entah mengapa hati ini terasa berat, hati nurani saya seolah berteriak, saya belum melakukan apa-apa!! Ya. SAYA-BELUM-MELAKUKAN-APA-APA!! Belum untuk DKM AsySyifAa. Belum untuk MedIs. Hingga akhirnya ada suatu event besar yang diadakan dan hanya bisa diikuti oleh anggota DKM AsySyifAa, yaitu pelatihan TMA (Tim Medis AsySyifAa), Kata 'Medis' dalam tim ini adalah 'Medis' yang berkaitan dengan keperluan-keperluan Medis seperti kegiatan Balai Pengobatan, Khitan, maupun bantuan medis lainnya
Tertarik bergabung? Sebenarnya tidak juga, meskipun banyak orang yang rela bergabung dengan DKM AsySyifAa dan hanya menjadi anggota 'bayangan' demi memenuhi syarat dan mendapat 1 tiket untuk ikut bergabung dengan Tim Medis ini. Entah mengapa saya merasa bahwa seolah event ini berkata pada diri saya untuk tidak keluar dari DKM, dan itu artinya tentu saja tetap bertahan dalam divisi MedIs DKM AsySyifAa
Tapi sekali lagi, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya
Meski tekad saya sudah sangat bulat untuk tetap bertahan dalam MedIs. Meski 100% adalah angka yang meluncur keluar dari mulut saya ketika Yasser, sang ketua MedIs baru saat itu, bertanya mengenai seberapa yakin saya dengan keberadaan diri dalam MedIs. Meski banyak impian yang ingin saya torehkan bersama rekan MedIs lainnya dalam tahun itu. Meski banyak agenda-agenda kecil yang indah yang terangkai untuk dilaksanakan bersama.
Namun…ketika saat ini saya bertanya pada diri sendiri apa yang saat ini telah MedIs berikan? Tapi tunggu! Mungkin lebih tepatnya apa yang telah SAYA berikan? Apa saja yang telah saya lakukan?? Masya Allah, saya lagi-lagi telah lengah, membiarkan jiwa MedIs saya menguap dalam diam.
Padahal, bukankah pengkerdilan terkejam adalah membiarkan pikiran cemerlang diam dalam tubuh yang malas??
Saya punya banyak impian untuk Medis, begitupun (saya yakin) dengan rekan MedIs lainnya yang itulah mengapa menjadi alasan kehadiran kita dalam pertemuan dalam satu divisi ini, Medis
Itulah akhir perenungan saya di akhir masa kepengurusan tahun kedua saya berada di MedIs ini, ingin menangis rasanya, ampuni aku ya Ghaffaar, ampuni hamba yang lalai ini
Berhenti. Keluar dari DKM. Itulah lagi-lagi pikiran yang sama keluar dari benak saya kali ini, menjelang kepengurusan tahun ketiga saya (jikalau saya masih mau meneruskan keberadaan saya di MedIs)
Tapi itulah, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya
Letih, saya letih berada dalam MedIs, dalam kesendirian yang mengiris hati, dalam diam di tengah pikiran cemerlang diri
Padahal semestinya saya tidak boleh letih, walau dua tahun yang telah saya lewati seolah tanpa hasil, seolah tanpa makna. Karena sengguhnya bukan usaha saya tidak ada hasil. Tapi usaha saya belum cukup, dan tak akan pernah cukup, karena ibadah yang baik adalah yang meski dilakukan sedikit tapi kontinyu
Semestinya letih tak boleh terlintas dalam diri ini, meski dua tahun ini telah terlewati, bahkan meski lima atau sepuluh tahun mendatang hidup saya
Semestinya….
Dan lagi-lagi ada suatu kejadian yang seolah menunjukan jalan pada saya untuk tidak keluar dari kesempatan luar biasa dan bertahan lagi dalam MedIs, bukan TMA (meski kemarin saya gagal masuk, dan saya memang berniat mengulangi pelatihan untuk masuk tim ini, tapi bukan untuk bergabung, karena saat ini bahkan tidak terpikir sama sekali untuk menjadi bagian dari tim Medis, karena saya hanya ingin mengikuti pelatihannya saja, berhubung pelatihannya sangat menyenangkan^^)

Kali ini, lagi, saya memiliki banyak impian untuk saya goreskan dalam perjalanan dakwah ini, bersama MedIs. Karena ya…saya akan tetap bertahan di sini, dalam kesempatan indah yang Allah karuniakan pada saya, MedIs
Dan manusia TAK AKAN pernah bisa hidup sendiri, begitupun saya
Sehingga kali ini saya tak pula akan membiarkan pikiran cemerlang ini diam dan mengendap dalam diri, karena saya tak sendiri, saya memiliki rekan MedIs lainnya, yang mungkin juga memiliki pikiran cemerlang yang pula terdiam dan berhenti dalam tubuh yang sendiri
Karena saya tak sendiri….
Karena kita akan bersama…
Menggores catatan perjalanan…
Meniti jalan dakwah…
Dan tak akan pernah berhenti, meski nanti MedIs bukan lagi jalan dipilih..
Sabtu, Desember 12, 2009
Peraih Nobel Fisologi dan Kedokteran, Daya Tarik Magis untuk Sebuah Motivasi Luar biasa
Kamis, Agustus 13, 2009
Gak ada uang Gak ada kuliah

Gak ada uang Gak ada kuliah, benarkah?
Hari ini, Rabu 12 Agustus 2008, saya mengikuti FKL (Forum Ketua Lembaga) yang diadakan oleh Departermen Dalam Negeri BEM Unpad.
Di mana agenda dalam forum tadi adalah membahas mengenai penangguhan maupun pembebasan biaya yang diajukan terhadap biaya regristrasi calon mahasiswa baru 2009 di Unpad yang sekarang ini sedang sibuk-sibuknya melakukan regristrasi ulang.
Apakah ada yang butuh bantuan?
Adakah yang mengajukan permohonan penangguhan pembayaran?
Atau…Adakah yang tidak mampu sama sekali untuk membayar—bahkan hanya sekedar—biaya regristrasi?
Ada.
Ya, ada.
Lalu bagaimana?
Setidaknya Unpad melalui para pembantu rektor sendiri langsung menyatakan bahwa masalah-masalah seperti itu tidak lantas akan menjadikan calon mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat melanjutkan pendidikannya di Universitas Padjadjaran ini.
Para calon mahasiswa bisa 'dipermudah' dengan mengajukan beberapa berkas ke pihak Fakultas—di mana calon mahasiswa ini diterima—untuk kemudian mendapatkan Surat Rekomendasi dari Fakultas tersebut.
Setelah Surat Rekomendasi Fakultas tersebut ada di tangan, bisa dikatakan bahwa sudah tidak ada masalah lagi dalam regristrasi akademik. Calon mahasiswa tetap dapat melakukan regristrasi, walaupun dikatakan bahwa ada beberapa fasilitas yang kemudian tidak dapat diberikan selayaknya yang diberikan pada calon mahasiswa yang lainnya, seperti tidak diberinya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)
Tapi bisakah melanjutkan kuliah?
Bisa, tentu bisa.
Bahkan, pihak BPM-Univ (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) pun turut serta menjembatani apabila dirasa masih ada masalah dalam regristrasi tersebut.
Caranya?
Cukup datangi sekretariat BPM-Univ, dan ceritakan permasalahan seperti apa yang dihadapi.
Selebihnya?
Mari berjuang bersama demi melanjutkan pendidikan
Seterusnya?
Informasi-informasi beasiswa menanti
Jadi…masih mau bilang "Gak ada uang Gak ada kuliah"?
Tergantung sampai dimana usaha anda





