Add This...^^d!!

RSS

Sabtu, Agustus 03, 2013

Iman dan Takwa-catatan sharing ilmu

~Catatan sharing ilmu kajian dhuha pagi. Ahad, 14 Juli 2013 @ mesjid Agung Al-Azhar Jakarta (iman dan takwa)~
Rumus takwa = iman + amal sholeh
>> albaqarah 2-5
Amal sholeh itu bukti keimanan
Allah menyebut "hai orang2 yang beriman" dalam al-qur'an sebanyak 89 kali
Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat (an nisa 51)
Brbuat baik kepada tetangga termasuk bagian dari amal sholeh yang menandakan keimanan seseorang (an nisa 36)
¤ Iman itu pemisah antara penghuni syurga dan neraka
¤ Amal menentukan kedudukan dan derajat kita di mata Allah
¤ Orang beriman tidak berbuat syirik tapi ada dosa amalnya tidak terhapus semua, maka selama ia tidak membatalkan imannya...dia akan masuk neraka dulu tapi kemudian akan dibalas dengan syurga (tapi tentu saja di tingkatan syurga yang berbeda dengan mereka yang memiliki banyak amal baik, ibaratnya satu perumahan di Firdaus estate tapi beda komplek dan fasilitas)>> ini yang dimaksud dengan amal menentukan kedudukan, derajat, dan tingkatan kita dihadapan Allah
¤ Orang kafir berbuat baik tidak akan dihitung amal nya, jadi dia akan kekal di dalam neraka dan tidak akan dibalas dengan syurga karena nilai amalannya tidak ada, nol besar
Lihat Rasulullah! Kaki nya sampai bengkak krena terlampau lama berdiri ketika sholat, sholatnya Rasulullah itu dalam sehari tidak kurang dari 40 rakaat (17 wajib, 12 rawatib, 11 qiyam al lail), dan itu bahkan di luar Ramadhan!
>> Bandingkan dengan diri kita...kalau kita gimana? Ramadhan aja gak kayak gitu, apalagi di luar Ramadhan )':??
Sholat di mesjid itu sangat2 dianjurkan oleh laki2 muslim (bahkan abdullah ibn ummi maktum pernah ditegur Rasulullah karena minta izin untuk sholat di rumah)
>> Tapi lihatlah kita sekarang! Di saat Ramadhan sengaja maghrib atau bahkan isya di rumah dan kemudian baru tarawih di mesjid, ini adalah sebuah ironi...karena tarawih bahkan bukan sholat wajib dan tidak ada dorongannya dari Rasulullah mengenai keutamaan sholat sunnah di mesjid.
>> Dan itu bahkan di saat Ramadhan, di luar Ramadhan bagaimana )':?
=========================================
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu" (an nahl 99)
"Dan bertakwalah kamu kepada Allah kapan dan dimana saja" (al hadits)

==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.com

[+/-] Selengkapnya...

5 kiat menghadapi persoalan hidup-catatan sharing ilmu

Catatan sharing ilmu, sabtu 13 juli 2013

~5 kiat menghadapi persoalan hidup : ~
1. Siap pada berbagai kemungkinan (meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar)
>> al baqarah 216
¤ Berprasangka baik pada Allah (Bukankah Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya?)
¤ Ingat teori tukang parkir, siap menerima sebanyak2nya dan siap kehilangan sebanyak2nya
2. Ridho pada apa yang terjadi
¤ Ingat teori menanak nasi, kalau sudah terlanjur lembek dan jadi bubur kan gak mungkin diubah...ridho dan terima saja. "Nasi sudah jadi bubur"? >> Maka...jadikan ia bubur spesial ;D!!
¤ (Hr tirmidzi) "Barangsiapa yang ridha kepada Allah maka Allah akan ridha kepadanya"
3. Jangan suka mempersulit diri
¤ Ingat al baqarah 286, masalah yang kita terima gak mungkin melebihi kesanggupan kita kok, percaya deh, janji Allah loh itu^^. Sedangkan janji Allah itu jauh lebih pasti dari matahari yang akan terbit esok hari, masya Allah (: ♡
4. Evaluasi diri
>> masalah yang ada bisa jadi karena diri sendiri, bukan (:?
¤ Teringat ucapan sayyidina Ali bin Abi Thalib "Tiadalah sebuah musibah turun melainkan karena dosa, dan tiadalah ia bisa diangkat melainkan dengan taubat", jadi...yuk evaluasi diri (:!
5. Jadikan Allah, dan hanya Allah, sebagai satu-satunya penolong

==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.comq

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Mei 01, 2013

Untuk mereka yang akan segera tiba di bumi Allah

Yuk ciptakan sarana yang mendukung ajaran islam dalam tayangan pendidikan atau media2 lain!


Minimal kalau bukan kita yang pegang...ajarkan anak-anak kita nanti untuk mengkreatifkannya.

Kalau anak kita suka program...arahkan untuk membuat games-games islami, daripada games angrybird kan? Kasian games nya marah-marah terus, padahal islam kan mengajarkan kesabaran^^.

Kalau anak kita suka broadcasting...arahkan untuk membuat tayangan-tayangan islami, musnahkan sinetron minim manfaat dari muka bumi!

Kalau anak kita suka nyanyi...arahkan supaya melantunkan kalimat-kalimat kebaikan, kalahkan lagu-lagu gegalauan itu!

Kalau anak kita pandai bicara...arahkan supaya mereka jadi orator ulung yang siap menyuarakan suara-suara kebaikan di pelosok bumi.

Kalau anak kita suka menulis...arahkan agar tiap tulisan nya mengandung keindahan nilai-nilai islam, yang kelak akan terabadikan dalam sejarah perjuangan dakwah islamiah tercinta.

Kalau anak kita suka memimpin...arahkan ia jadi pemegang posisi dalam pemerintahan, agar parlemen kita kaya akan mereka yang lebih cinta pada Allah dan RasulNya daripada cinta pada harta dan jabatan, apalagi cuma demi mobil dinas yang mewah atau pun toilet yang cantik.


Yuk, yuk (: !!

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Maret 16, 2013

Al bashirah, memandang dengan hati. Catatan kajian

"Al bashirah: memandang dengan hati"

Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta
16 Maret 2013
ustadz bachtiar nasir


-pembukaan-
qs. az zumar 22

beruntunglah kita yang tidak melihat segala sesuatu hanya dengan pandangan mata (fisik) tapi juga dengan pandangan hati

qs. yusuf 108-111

salah satu gelar dajjal adalah al masih, kenapa? karena dajjal terhapus mata kanan nya, padahal mata kanan adalah simbol kebenaran, mata yang melihat yang baik, mata keimanan.
------------------------------------------------

al bashira, adalah melihat dengan hati, merupakan tahapan awal menurut ibnu qayyim bagi mereka yang sudah paham iyyaakana'budu wa iyyaa kanasta'iim (hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan), untuk menuju pemaknaan dari kalimat itu

Pada kenyataannya, melihat, bukan hanya karena mata, tapi juga dipengaruhi dengan keberadaan cahaya. Studi kasus: sesuatu yang haram tetap disentuh dan dilakukan padahal mata berfungsi baik dan cahaya pun ada, kenapa? --> Karena cahaya dalam hatinya redup

al bashira, adalah cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, syurga dan neraka, serta meyakini apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para wali dan musuhnya. Orang yang berada di persinggahan bashirah akan selamat dari kebingungan


-Melihat dengan hati-

Di dalam bashira ada kekuatan penglihatan, kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman.

Orang2 yang melihat berdasarkan bashira akan berpegang pada aqidah dan berhujjah

Ia akan jadi orang benar dan jujur

Ketika mata didukung dengan bashirah, ia akan menjangkau tangan yang tidak pendek dalam bentuk usaha dan upaya


-Melihat, memandang, meyakini. Apa bedanya?-

Contoh, selalu ribut menjelang ramadhan dalam menentukan awal ramadhan menggunakan cara melihat hilal (awal bulan), karena ada yang bilang melihat itu dengan mata, sedangkan muhammadiyah melihat tidak hanya dengan mata tapi juga dengan tekhnologi, dengan mata pikiran (itulah yang disebut dengan memandang), karena di atas 2 derajat bulan itu sudah di atas ufuk walaupun tidak terlihat oleh mata telanjang


Mata biologis atau mata fisik seringkali membutakan mata hati, contoh: ibu2 yang belanja ke mall, sebenarnya mereka tidak butuh, tapi dengan 'melihat', semua jadi terasa penting untuk dibeli

Jangan tergoda dengan hal2 yang kilat, yang boleh langsung ditaati ketika didengar itu hanya Allah dan rasulNya, bukan manusia!

Melihat dengan hati adalah melihat dengan kekuatan pemahaman, kecerdasan, dan analisis ilmiah yang valid, menggunakan pengalaman empiris yang sudah terbukti

Bashira = cahaya, cahaya di dalam hati


-Melihat janji dan ancaman-

Kasus: Ketika kita dihadapkan dengan 2 hal: pertama adalah hal yang masuk akal, kedua adalah hal yang dijanjikan Allah tapi nampak tidak masuk akal. Yang mana yang biasa dipilih orang? Dan yang mana yang akan kita ambil sebagai pilihan?

Berpeganglah pada apa yang dijanjikan pada Allah, karena ketika apa yang menurut kita tidak masuk akal...sebenarnya otak kita yang belum sampai! (ingat "sami'na wa atho'na", kami dengar maka kami taat!)

Biasanya orang merubah dari luar, dari performance. Padahal dari sudut pandang bashirah, seharusnya dari sisi dalam dulu yang diperhatikan.

tanya: bagaimana caranya?

jawab: BEST OF THE BEST IKHTIAR adalah...Tanyakan dalam diri:
Satu: bagaimana hubungan kita dengan Tuhan?
Dua: bagaimana sholat kita?

Cukup 2 itu, itulah sebenar2 penghantar perubahan
(bahasa aku mah...perbaiki dulu sinyal dengan langit, karena dengannya maka sinyal ke seluruh penjuru bumi sama sekali bukan masalah )

Harusnya kita bersyukur tiada tara ketika kita mendapatkan kesempatan untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan pada uang yang kita dapatkan, sebesar apapun jumlahnya yang kita terima. Kenyataannya?


Perhatikan lagi kehalalan uang kita: Mukena yang dipakai sholat, peci, sejadah, halal kah?

Perhatikan lagi bacaan sholat kita: Ketika kita berkata "inna sholati wanusuki wamahyahya wamamati lillahirobbil'alamin, sesungguhnya sholatku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah" dalam bacaan sholat, kita beneran bermaksud begitu atau hanya sekedar dibaca saja tanpa sadar arti dari yang kita baca?
------------------------------------------------

-Rahasia jantung/qolbu, berdasarkan lebih dari 70 referensi ilmiah-

Jantung, dianggap tak lebih dari hanya alat pompa, tapi mulai abad 21 ada fenomena aneh dari proses pencangkokan jantung, ternyata jantung mempengaruhi psikologi pasien yang jantungnya dicangkok. Terjadi perubahan pada apa yang ia cintai dan benci, bahkan hingga perubahan pada keimanan.

Jantung menemani otak, usia 21 hari dalam masa embrio sudah mulai bekerja. Saat usia beranjak dewasa, 70ribu liter darah setiap hari dipompa ke seluruh tubuh, bayangkan energinya!

Jantung dapat mengingat, merasa, dan mengirim perintah ke seluruh organ tubuh. Berisi jaringan neuron yang rumit, mengeluarkan hormon yang mengendalikan tubuh. Dapat mengendalikan emosi dalam setiap detakannya dengan mengirim sinyal ke otak. 

Jantung mengontrol seluruh badan tidak hanya otak

Prof Gary Schwartz, dokter jiwa di arizona melakukan penelitian kepada 300 orang pasien yang melakukan cangkok jantung, dan terdapat perubahan2 pada psikologi pasien sebelum dan sesudah menerima cangkok jantung

Jantung memiliki fungsi memahami, sebagaimana dipastikan dalam Al qur'an, "mereka punya qolbu (jantung), tapi tidak digunakan untuk memahami" --> al araf (7: 179)

Fungsi al bashirah
- melihat apa yang terjadi pada akhirat
- menyaksikan betapa hina dan rendahnya dunia (sebagaimana sabda rasulullah, dunia bahkan lebih hina dari bangkai kambing! jadi tiada guna berpegang teguh pada dunia)
- memastikan bahwa akhirat jauh lebih baik dan lebih memuaskan serta kekal abadi

Proses al bashirah
cahaya yang disusupkan ke dalam hati, dengannya kebenaran risalah para Nabi & Rasul begitu terang

Tingkatan al bashirah
1. Asma wa sifat (asmaul husna)
2. Perintah dan larangan
3. Janji dan ancaman 

Tanda terpenuhinya tingkatan dari al bashira:
1. Mengenal sifat2 Allah

2. Membebaskan hati dari penentangan! Akibat melakukan ta'wil, taqlid atau 
mengikuti hawa nafsu, sehingga hati bersih dari syubhat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah

3. Mempersaksikan pengendalian Allah terhadap apapun yang dilakukan setiap manusia, bahwa segala sesuatu yang terjadi baik di dunia maupun di akhirat, dibawah kendali Allah
--> Meragukan janji Allah, berarti meragukan keberadaan Allah

Output /hasil akhir dari kemampuan melihat dengan hati (al bashira):
- bangkitkan diri, bebaskan diri dari keragu2an
- singkirkan rintangan, hadapi tantangan
- cari ilmu pengetahuan dan dengarkan nasihat orang bijak

Pasca al bashira:
bulatkan tekad dan kuatkan tawakkal (ali imran 159)




Sekian, semoga bermanfaat ♡


[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Januari 01, 2013

Mencapai target karena Allah

2013 sudah tiba, 2012 telah tergantikan, orang-orang biasanya akan ramai membicarakan resolusi tahun baru, pembuatan target tahunan sekaligus merombak ulang target di tahun sebelumnya yang belum tercapai. Apa memang harus seperti itu?
Rencana, atau planning dalam beraktivitas sangat penting maknanya. Ia adalah cara untuk mencapai tujuan hidup bagi seorang muslim yaitu beribadah. Seorang muslim sejati akan bertindak didasarkan pada kecintaannya pada Sang Pencipta agar apa yang ia lakukan mendapatkan ridhoNya, agar apa yang ia lakukan bernilai ibadah.
Dan karena berakhirnya kontrak di dunia bagi  tiap manusia adalah misteri, maka sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita menenggelamkan diri dalam ibadah di tiap detik yang tersisa. Dan merencanakan akan dihabiskan dengan cara apa sisa waktu yang ada itu adalah sebuah kecerdasan spiritual tersendiri dalam mencari ridhoNya.
Merencanakan sering dikaitkan dengan membuat target. Sebagaimana kata seorang bijak, “Hati-hatilah dengan pandangan orang beriman. Karena ada pandangan Allah dalam tiap tatapannya.”
Lantas, seperti apa pandangan orang beriman itu? “Pandangan orang beriman adalah pandangan yang jauh ke depan.".
Karena itulah, seorang muslim yang cerdas adalah muslim yang selalu berpandangan jauh ke depan, yang merencanakan masa depannya dengan perencanaan terbaik.

Manusia tempatnya lupa, sehingga rencana atau target hidup yang dituliskan dalam lembaran kertas akan sangat bermanfaat untuk mengingatkan diri agar dapat tetap bertindak dalam koridor ibadah, dalam naungan islam. Jadi sebenarnya membuat target pun tak bisa sembarangan, seandainya apa yang ingin dicapai itu karena Allah dan memiliki nilai kebermanfaatan, maka tuliskan. Seandainya tidak, jangan.
                “Karena Allah” dan “memiliki nilai kebermanfaatan” memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lainnya. Karena kebermanfaatan sesungguhnya adalah kebermanfaatan yang dilakukan karena Allah, dan sesuatu yang bermanfaat akan bertahan sebagai amalan yang kekal nilainya. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah dalam surat Ar Rad ayat 17, Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi.

Mencapai target karena Allah, caranya?
1. Buat terlebih dahulu targetnya, tuliskan dalam bentuk nomor-nomor atau poin-poin.
2. Tuliskan target yang ingin dicapai yang pencapaiannya tidak akan menjauhkan diri dari Allah tapi justru mendekatkan diri padaNya. (Misalnya, ketika muncul ide untuk menargetkan memiliki toko pribadi, jangan lupa targetkan pula pengalokasian dana CSR dari toko tersebut, dialokasikan ke anak-anak yatim misalnya.)
3. Rincikan targetnya, kalau perlu tidak hanya target tahunan tapi juga target bulanan, mingguan, atau bahkan harian.
4. Tuliskan target atau rencana dengan serinci mungkin, kalau perlu tuliskan tempat dan tanggal ingin dicapainya target.
5. Tuliskan target atau rencana terkecil sekalipun, bahkan sekedar rencana untuk membalas sms atau email dari teman (terutama untuk target harian)
6. Tempelkan target tahunan di dinding kamar yang sering dilihat mata, di atas meja belajar atau meja kerja misalnya.
7. Buat kopian target tahunan di buku kecil yang bisa dibawa kemana-mana, tuliskan juga target bulanan, mingguan, dan harian di buku tersebut.
8. Luangkan waktu setiap harinya (lebih baik di sepertiga malam terakhir) untuk memuhasabahi diri sekaligus membaca kembali setiap target yang dibuat.
9. Evaluasi target. Seandainya target yang ingin dilakukan tidak terpenuhi, lakukan evaluasi untuk mengetahui apa yang salah. Seandainya masih mungkin dilakukan, tuliskan ulang target yang sama dengan waktu pencapaian yang diundur. Seandainya terjadi perubahan kecenderungan minat atau peluang, hapus target yang lama dan buat target yang baru.
10. Selalu berprasangka baik pada Allah. Lakukan yang terbaik untuk dapat mencapai target, namun tetap mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, yaitu tidak tercapainya target yang telah direncanakan.

Karena ridho Allah dalam tiap tindakan yang kita jalani sangat penting, maka melibatkan Allah harus selalu dilakukan agar kita bisa mendapatkan keberkahan untuk target yang kita rencanakan serta untuk pencapaiannya kelak. Dan satu hal yang paling penting untuk mengawali itu semua, sertakan nama Allah dalam tiap prosesnya! Bismillahirrahmanirrahiim.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, November 16, 2012

Manajemen masalah part 2 of 3: Bersihkan hati, senandungkan asmaNya!

Ketika masalah tiba, tak jarang kita mengeluarkannya dalam bentuk keluhan. Bahkan tak jarang kita membela diri dan merasa tidak mengeluh, dengan alasan hanya sekedar bercerita atau berbagi kisah. Padahal Rasulullah mendidik kita untuk tidak mengeluh, sebagaimana sabdanya, “Ada tiga pusaka kebajikan, merahasiakan musibah, merahasiakan sedekah, dan merahasiakan keluhan”. Kenapa? Karena merahasiakan keluhan akan mendatangkan kebaikan, kebaikan bagi kita, kebaikan bagi orang sekitar, insya Allah. Jadi jangan mengeluhkan masalah kita, apapun masalahnya, bagaimanapun bentuk keluhannya.

Tidak boleh dikeluhkan tapi harus diselesaikan, tapi bagaimanaaa?

Padahal masalah yang menimpa sangat berat dirasa, hingga pikiran pun terasa keruh hingga tak jarang menutupi jalan keluar, seolah memang jalan keluar dari masalah yang dihadapi memang tak ada, dan takkan pernah ada. Lantas bagaimana?

Ingat kalau masalah yang Allah berikan pasti dalam batas kesanggupan kita untuk menyelesaikannya, kalau terasa susah mah wajar, karena perjuangan menuju syurga memang tidak mungkin semudah terjerumus ke neraka toh? Tapi  jangan lantas dengan “susahnya” itu kita justru melarikan diri dari masalah, karena jalan keluarnya ada, Allah yang menjamin bahwa tidak akan seorang hamba dibebani masalah di luar kesanggupannya.  Sedangkan janji Allah itu pasti, jauh lebih pasti dari matahari yang akan terbit esok hari.

Karenanya, ketika pikiran terkeruhkan oleh masalah, bersihkan keruhnya! Jernihkan hati. Tenangkan jiwa. Caranya? Dalam surat cinta Allah di surat Ar Rad ayat 28 Allah telah mengajarkan bagaimana cara kita untuk menenangkan segala kemelut yang terasa: Dengan mengingat Allah!

“...ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Jadi, cerdaslah kita yang ketika masalah datang kita bersyukur dengan mengingat bahwa masalah adalah bukti dari cintaNya, maka ucapkan : Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Jadi, cerdaslah kita yang ketika masalah datang kita senantiasa mengingat dengan menyenandungkan asmaNya untuk membersihkan jiwa, menjauhi diri dari kecenderungan untuk mengeluh.


Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Quddus, Ya salaam, Ya Mukmin, Ya Muhaimin, Ya Aziz, Ya Jabbar, Ya Mutakabbir, Ya Khaaliq, Ya Baari, Yaa Musawwir, Ya Ghaffar, Ya Qahhar, Ya Wahhab, Ya Razzaq, Ya Fattah, Yaa ‘Alim, Ya Qaabidh, Yaa Baasith, Yaa Khaafidh, Yaa Rafi’, teruuuuus hingga tersebut kesembilan puluh sembilan nama indahNya. Ulangi lagi, lagi, dan lagi. Ulangi tiap hati terasa gundah, karena dengan mengingat Allah dengan keMahaKuasaanNya maka hati yang bergemuruh sekalipun akan tenang dengan sebenar-benarnya ketenangan, insya Allah.

Dan ketika hati telah terlepas dari kemelutnya, pikiran pun akan terlepas dari keruhnya. Sehingga pintu jalan keluar dari masalah pun akan berbaik hati memperlihatkan rupanya dari jalan yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Try and prove it by yourself (:!
Karena teori selamanya hanya teori sampai ada yang mempraktekkannya, maka...yuk^^!





[+/-] Selengkapnya...

Rabu, November 07, 2012

Manajemen masalah. Part 1 of 3: Berat, tapi manis luar biasa!

Beberapa bulan ke belakang saya mengalami hal-hal luar biasa. Sekumpulan masalah datang silih berganti, menyapa diri yang seringkali terlalaikan, menegur hati yang seringkali mengikrarkan kebaikan yang hampa.

Dan yang paling berkesan adalah betapa masalah-masalah yang muncul datang seolah ingin membuktikan teori-teori yang seringkali saya jelaskan pada orang lain, pada tulisan, teman, ataupun adik-adik angkatan. Kakak saya pernah mengomentari, “Adek tuh udah tau teorinya kalau dicubit itu sakit, nah sekarang adek lagi ngerasain sedihnya, lagi ngerasain sakitnya”. Subhanallah, benar sekali.

Teorinya, Allah tidak akan membebani seorang hamba di luar kesanggupannya, begitu firman Allah dalam surat cintaNya, alQur’anul Kariim. Prakteknya, banyak orang berguguran ketika berhadapan dengan cobaan, melarikan diri untuk melupakan. Bukan karena tidak sanggup menghadapi ujian yang datang, tapi MERASA tidak sanggup. Kita kah?

Teorinya, salah satu alasan kedatangan musibah adalah karena dosa, dan tidaklah akan hilang kesalahannya jikalau tak disertai dengan taubat, begitu ucap sayyidina Ali ibn Abu Thalib. Prakteknya, seringkali kita menyalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpa diri: nilai jelek karena dosennya pelit dan banyak maunya, handphone hilang karena pencuri menyebalkan yang mengintai diri, absen dicoret karena dosen hadir terlampau pagi, tugas tertinggal karena ada jarkom kuliah mendadak untuk datang lebih cepat, gagal ujian karena pertanyaan lontaran dosen terlampau aneh dan detail, janji tak tertepati karena macet menghadang tanpa ampun, materi tak bisa dimengerti karena penjelasan dosen berputar-putar tanpa arti, kepribadian rapuh karena didikan lingkungan yang tak benar, dan lain sebagainya.

Jarang, atau mungkin tak pernah, memikirkan kalau sumber masalahnya adalah diri sendiri, tak terlintas dalam benak bahwa kesalahan terbesar adalah khilaf diri terhadap beberapa hal di masa lampau. Nampaknya diri terlalu asik menyalahkan orang lain sehingga tanpa sadar merasa dirilah yang paling benar dan paling layak mendapat segala jenis kebaikan. Sombong. Loh? Kenapa sombong? Bukankah akar kesombongan ada dua? Pertama, ketika diri merasa lebih baik dari orang lain. Kedua, ketika diri merendahkan orang lain, baik sadar maupun tidak. Padahal sesungguhnya, Allah membenci orang-orang yang sombong dan membanggakan diri! Naudzubillah. Tsumma Naudzubillah.

Teorinya, Apabila Allah menghendaki kebajikan pada seorang hamba, maka akan diperlihatkanNya kekurangan hamba tersebut, begitu sabda Rasulullah Muhammad ibn Abdullah yang diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailami. Prakteknya, ketika diri merasa kurang, akanlah kita membandingkan diri dengan mereka yang nampak “lebih” segala-galanya, merasa diri tak berguna. Jauh dari syukur. Padahal bukankah seharusnya tak ada rasa lain selain syukur yang menggema di hati? Bukankah ketika kita mampu melihat kesalahan diri maka terdapat kehendak Allah akan kebaikan atas diri kita? Subhanallah walhamdulillah!

Namun mengapa dengan semua teori yang ada semua masih terasa berat? Yeee....syurga itu indahnya kebangetan guys! Semena-mena banget mau masuk syurga tapi usaha melawan beratnya ujian aja gak mau kan?



Di kala seburuk-buruk ujian adalah bukti cintaNya, maka nikmat Tuhan yang mana yang perlu kudustakan??

Sungguh Allah, skenarioNya begitu indah, sentuhanNya untuk mengajarkan hambaNya begitu dashyat. Masya Allah. Masya Allah.

Segala puji bagi Allah, bahagia rasanya ditempa untuk menerapkan teori yang diucap diri. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Semoga disayangNya.

Dan, manisnya kebahagiaan pun akan terasa dalam seringnya helaan nafas karena ujianNya. Berat. Tapi manis luar biasa (:!

[+/-] Selengkapnya...