Add This...^^d!!

RSS

Sabtu, Januari 22, 2011

inilah seni mempersiapkan shalat!

Malu rasanya setiap ada adik yang memuji dan berkali-kali mengatakan ingin jadi seperti saya, memangnya saya seperti apa..:D??

Tapi satu hal yang pasti, mereka mengingatkan saya untuk terus dan terus berusaha untuk jadi lebih baik, karena kalaulah ada sikap saya yang kebetulan menginspirasi mereka, saya harap inspirasi itu bertahan untuk selamanya, tidak diam di tempat, tapi terus mengalir dan terus bermakna

Dengan menjadikan diri sendiri yang kian membaik tiap harinya, tentu saja..;D!!

Ah, seandainya mereka tahu, bukan sayalah yang pantas mendapat ungkapan terimakasih dari mereka. Tapi merekalah! Merekalah yang sangat berjasa bagi saya! Merekalah yang kerap kali menjadi alarm bagi diri saya untuk tak lengah, untuk terus memperbaiki diri, untuk menjadi kakak yang baik bagi mereka, dan tentu saja menjadi hamba Allah dengan penghambaan terbaik dari yang terbaik, insyaAllah..(‘:

Hari ini saya sekali lagi diingatkan oleh kemurnian hati mereka, oleh pengharapan tulus dari jiwa yang merindu syurga, jiwa yang juga ingin terus berusaha jadi lebih baik

Bagaimana tidak? Sms dari si adik yang datang tadi sangat menyentil saya dengan kepolosannya, “..teteh bentar lagi isya, pasti mau sholat dulu..”, padahal seandainya sang adik tahu, saya saat itu sedang bersantai membaca komik..-___-“

Kalau mau membela diri, wajar saja saya masih bersantai karena toh azan belum berkumandang. Tapi, bukankah dulu saya sendiri yang mengatakan bahwa alangkah baiknya jikalau diri ini mempersiapkan hati terlebih dahulu sebelum datang kewajiban bagi fisik untuk datang menghadap Allah? Tapi kenapa ini saya sudah tahu mau azan malah baca komik dulu? Persiapan hati menuju shalat kok ya baca komik sih jeng nestriiii?? Kacau berat ini mah..:D

Agak geli sebenarnya mendapat sms “tuduhan” yang sangat melenceng dari si adik ini, tapi seketika rasa geli itu berubah menyengat seperti kejutan aliran listrik yang datang tanpa menyapa terlebih dahulu

Saya malu

Pada siapa?

Pada si adik?

Betul. Saya sangat malu pada si adik

Tapi saya lebih malu karena malu itu muncul karena adik ini, bukan karena Dia yang selalu memperhatikan saya—bahkan tanpa perlu memberi sms peringatan pada saya

Padahal, Ali bin Abi Thalib selepas wudhu biasanya gemetar. Ketika ditanya sebabnya, beliau mengatakan, “Sekarang aku sedang memikul amanah yang pernah disodorkan kepada langit dan bumi serta gunung, tapi mereka semua menolaknya. Namun aku kemudian maju dan bersedia menerima amanah tersebut.”

Inilah seni mempersiapkan shalat!

Selanjutnya perhatikan bagaimana Al-Hasan, putra Ali. Selepas wudhu biasanya beliau gemetar, ketakutan, menghiba, dan air mukanya berubah, Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab, “Tahukah kalian, di hadapan Siapa aku akan berdiri?”

Subhanallah..

Dahulu, Sayyidina Abdullah bin Mas’ud pun pernah berkata, “Tatkala turun ayat:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”
(QS. Al Hadid: 16)

Waktu itu baru empat tahun kami masuk islam. Namun Allah telah menegur kami dalam hal kekhusyukan shalat. Kami pun kemudian keluar untuk saling menegur satu sama lain, dengan mengatakan, ‘Sudahkah kalian mendengar bahwa Allah telah berfirman, ‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?’ Salah seorang lelaki pun kemudian sempat terjatuh akibat menangis atas teguran Allah terhadap diri kami ini”

Subhanallah..

Inilah seni mempersiapkan shalat!

Atau dalam cerita lain, Hatim Al-Islam pernah ditanya tentang shalatnya, ia pun menjawab, “Jika waktu shalat telah tiba, aku berwudhu dengan sempurna, dan menghampiri tempat di mana aku akan mengerjakan shalat. Aku pun lantas duduk di sana sampai seluruh tubuhku terkonsentrasi. Kemudian aku pun memulai shalat dengan menjadikan Ka’bah seolah berada dihadapanku, jembatan Ash-Shirath terletak di bawah kakiku, Surga di samping kananku, dan neraka di sebelah kiriku, serta Malaikat Maut berada tepat di belakangku. Aku pun menganggap shalat ini sebagai shalatku yang terakhir...”

Subhanallah..

Inilah seni mempersiapkan shalat!

Luar biasa memang contoh-contoh tadi! Lalu saya?? Mau sholat malah baca komik, nanti pas takbir malah jadi penasaran kan jadinya sama lanjutan cerita si komik..-____-“

Saya tak mau kalah! Dengan seni mempersiapkan shalat yang sudah ada tadi, saya juga tak mau kalah!!

Karena shalat bukanlah sekedar gerakan tanpa makna, ia tidak hanya sekedar ada, karena dengannya lah kita mampu pergi meninggalkan dunia untuk bertemu dengan Allah, Sang kekasih

Sebagaimana Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang pernah berkata, “Carilah hatimu di tiga tempat: pertama, ketika membaca Al-Qur’an; kedua, ketika shalat; dan ketiga, ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau tidak sedang mempunyainya!”

Di mana hati saya Allah? Semoga saya tidak kehilangannya!!

Hushh...kamu komik, pergi sana jauh-jauh..d;




[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Januari 05, 2011

Allah, di mana jilbab saya??

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia juga rajin menjalankan ibadah sunnah. Tapi ada satu kekurangannya yaitu ia tidak mau berjilbab dan menutup auratnya.

Setiap kali ditanya, ia hanya tersenyum dan menjawab, ”Insya Allah nanti, yang penting hati dulu yang berjilbab.”

Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama, “yang penting hati dulu yang berjilbab”

Hingga di suatu malam ia bermimpi berada di sebuah taman yang sangat indah. Taman itu memiliki rumput yang sangat hijau dengan berbagai macam bunga bermekaran, yang bahkan segarnya udara dan wanginya bunga di taman itu dengan sangat jelas dapat dirasakannya. Terlihat pula sebuah sungai yang sangat jernih melintas dipinggir taman. Semilir angin pun seolah tak mau kalah menyapanya dan hadir dengan kelembutannya yang menembus tiap sela jarinya.

Wanita itu ternyata tidak sendiri, ada beberapa wanita lain di situ yang juga terlihat sedang menikmati keindahan taman.

Ia pun menghampiri salah satu wanita di sana. Wajah wanita yang dilihatnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu'alaikum, saudariku”, sapanya

“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”, jawab wanita yang ditegurnya

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita yang ditegurnya tersenyum, “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum lagi, ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”

“Alhamdulillah..”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu perlahan terbuka, dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman yang sama satu-persatu mulai memasukinya.

“Ayo kita ikuti mereka”, ajak wanita yang ditegurnya tadi setengah berlari.

“Ada apa di balik pintu itu?”, katanya sambil mengikuti wanita itu

“Tentu saja surga saudariku”, jawabnya

“Tunggu, tunggu aku!”, dia berlari sekuat tenaga namun tetap tertinggal meskipun wanita yang dikejarnya hanya setengah berlari

Meski telah mencoba meningkatkan kecepatan larinya, ia tetap tak mampu mengejar wanita tadi, ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan?”

“Sama dengan engkau saudariku”, jawab wanita tadi sambil tersenyum, ia telah mencapai pintu dan sebelah kakinya pun telah melewati pintu.

Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia kembali berteriak, sebuah teriakan keputusasaan, “Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?”

Wanita itu menatapnya dengan senyum lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan apa yang membedakan dirimu dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, hingga tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan wanita tadi

“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-Nya tanpa jilbab menutup auratmu?”, lanjut wanita tadi

Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun, beristighfar, dan segera mengambil air wudhu. Ia menunaikan shalat malam untuk menenangkan hatinya, ia pun menangis dan menyesali perkataanya dulu.

sumber: http://www.facebook.com/IndahnyaBerjilbab?ref=ts&v=info#!/note.php?note_id=476150587504&id=100000335554930*

http://www.facebook.com/note.php?note_id=182967568380456&id=98932247389*

*dengan sedikit perubahan..:D

-------------------


Membaca tulisan tadi seringkali membuat saya merinding, jilbab bagi seorang muslimah bukanlah pilihan, tapi kewajiban!

Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadist riwayat Muslim,

“Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain dan para wanita yang berpakaian tapi auratnya terlihat, yang berjalan melenggak-lenggok, sedangkan kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring. Mereka itu tidak akan masuk ke dalam surga dan juga tidak akan mencium bau surga. Padahal, harum semerbak surga itu dapat dirasakan dari jarak yang begini dan begini”

Berpakaian tapi auratnya terlihat! Sungguh ironi, untuk apa berpakaian kalau tidak seperti berpakaian? Untuk apa berpakaian kalau fungsi pakaian itu sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya?

Pakai jilbab kan gak keren, percuma dong tadi abis ke salon kalo gak bisa diliatin ke orang lain, mana ini baju dapetinnya susah banget! saya kan cuma butuh sedikit penghargaan!! Gak salah toh?

Penghargaan?

Penghargaan yang bagaimanaaaaaa??

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Al Ahzab: 59)

Sekali lagi, penghargaan yang bagaimanaaaaaa??

Cukupkah “harga” yang kita inginkan itu dibayar dengan dipandang dan dilihat oleh manusia lain?

Cukupkah?

Tidak! Wanita lebih berharga dari itu!!

Sayang sekali bukan? Padahal Allah menjanjikan harga yang lebih baik untuk wanita yang memuliakan dirinya sendiri. Dan jilbab? itu salah satu caranya..(:!! Ia adalah awal untuk akhir yang baik! Siapa tak ingin akhir yang baik?

“Hijab saya bukan hanya bagian dari identitas agama saya (Islam)
tetapi juga bagian dari keberadaan saya. It is me.” _Hasina, My Name is Khan

Saya teringat pertama kali saya mengenakannya, senangnya luar biasa! Bertingkah seperti bocah labil yang baru pertama kali mendapatkan mainan baru, di rumahpun tak mau ia saya lepas, sampai-sampai kakak saya mengira kalau jangan-jangan saya berpikir kalau ia tidak saya lepas karena ada ayah di rumah (pemikiran yang aneh, memangnya saya sebodoh itu..-____-“?? saya kan hanya terlampau senang dengannya..:D)

“Nes? Beneran baru pake jilbab? Kok langsung pake yang panjang? Gak panas gitu??”

Sedikit geli saya mendengar komentar ini. Pertama, karena jilbab pertama saya tidak terlalu panjang. Kedua, jadi anggapan orang yang tidak berjilbab seperti itu ya melihat wanita yang berjilbab?

Padahal entah mengapa dengannya saya merasa lebih sejuk, tidak hanya menyejukkan suhu tubuh, tapi juga hati..(:

“Huwaaa...teteh...”, komentar teman sekosan yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri ketika saya mulai mencoba memanjangkan jilbab saya

“Kenapa?”

“Enggak, takut aja nanti teh nestrinya jadi berubah, gak kayak dulu lagi...”, jawabnya polos dengan mata berkaca-kaca

Hei, hei, memangnya saya power ranger yang dalam sekejap berubah menjadi tokoh lain yang tak bisa dikenali..-____-“??

Tidak! Saya ya saya, tidak mencoba menjadi siapapun, hanya tetap menjadi diri saya, namun tentu saja: saya yang lebih baik..(:

Karena dengannya saya merasa nyaman, dengannya saya merasa kuat, dan dengannya saya merasa terjaga

How come?

Sejak saya mengenakannya saya sering sekali mendapatkan reminder yang datang menampar saya di dalam mimpi. Setiap saya lengah dalam dunia nyata dengan perilaku saya yang kurang pantas, mimpi mengerikan itu datang tanpa berita dan menghentak jiwa saya yang mulai mengeruh

Ya, mimpi itu teramat sering datang, terutama ketika saya sedang sangat lengah dengan tak menghiraukan penjagaan hati saya

Mimpi itu datang dengan perginya, selalu mimpi yang sama, dengan settingan berbeda, namun selalu dalam konteks yang sama, terus dan terus saya alami, mimpi itu datang dengan perginya

 
Dalam mimpi mengerikan itu, ia pergi dari tempat seharusnya ia berada. Dan ironisnya, dalam mimpi, sikap saya akan kehilangannya biasa saja!

Ingin menangis rasanya ketika saya terbangun, kenapa dalam mimpi saya tak merasa kehilangan akan kepergiannya?

ALLAH, DI MANA JILBAB SAYA??

Karena ia tak hanya menutupi mahkota wanita, tapi ia juga menutupi wanita dari kemungkinan melakukan tindakan yang mengotori hati murninya

Sehingga ketika beningnya hati ini mulai memudar... ALLAH, DI MANA JILBAB SAYA??

Karena ia tak hanya menjaga kulit dari terik matahari, tapi ia juga menjaga hati dari sesuatu yang bukan pada tempatnya

Sehingga ketika penjagaan itu melonggar... ALLAH, DI MANA JILBAB SAYA??

Karena ia tak sekedar ada, ia ada untuk membawa keindahan suci bagi para wanita

Sehingga ketika muncul sebesit saja kekaguman akan keindahan semu yang mengunci hati... ALLAH, DI MANA JILBAB SAYA??

ALLAH...

ALLAH...

ALLAH...

DI MANA JILBAB SAYA??

DI MANA???


Sungguh saya tak ingin kehilangannya..)’:







[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Desember 07, 2010

Life is sooooo beautiful, isn’t it^^??

5 Desember 2010

Life is sooooo beautiful, isn’t it^^??

“Jalan hidup tak selamanya indah, ada suka, ada duka. Jalani semua yang kau rasakan, kita pasti bisa”

Syair lagu edcoustic ini bener banget nih! Namanya juga hidup, pasti ada seneng, ada sedih, ada ketawa, ada nangis, ada pertemuan, ada perpisahan, hidup itu seimbang tul? Sinetron aja kalau gak ada adegan nangisnya gak laku, dorama jepang kalau gak ada adegan marahnya gak seru, telenovela juga..kalau isinya tokoh protagonis semua gak bakalan diputer di Indonesia dehh..d;

But, that’s a life! Itulah hidup! Gak asik kalau cuma seneng-seneng aja, gak berkesan kalau gak ada konflik dan masalahnya, tul?

Masalah dalam hidup mah pasti ada, hidup kan memang penuh masalah, karena kalau gak ada masalah...berarti kita gak hidup..d;!! hohho...^^V

Lagipula, kalau gak ada masalah, kapan kita bisa melatih rasa sabar dalam diri? Semakin besar masalah yang datang dan semakin teguh sabar yang kita pancangkan di hati, bukankah akan semakin indah pula manisnya kebahagiaan yang akan kita rasakan kemudian^^?

Life is so beautiful! Gak usah diperumit. Gak usah manja!

Sederhananya, hidup adalah seni mengelola masalah, menemukan hikmah dalam setiap ujian, memunculkan cahaya yang tersembunyi dalam kegelapan yang meliputi

Kemarin di bis menuju Jakarta saya berbincang dengan seorang mbak tentang kakaknya yang baru saja menerima medali perak karena menang dalam lomba lempar lembing. Dan luar biasanya olimpiade yang diikuti kakaknya adalah olimpiade yang diselenggarakan oleh suatu badan khusus bagi penyandang cacat, ya kakak mbak ini adalah penyandang cacat. Ia terserang virus polio semasa kecil dulu sehingga meski badannya berukuran normal, namun ia mengalami kesulitan dalam berjalan karena perkembangan kakinya terhenti, dengan ukuran yang sangat kecil

Hal luar biasa lagi yang saya dengar dari mbak ini adalah sang kakak yang tadi diceritakannya adalah anak nomor dua, tepat di atas mbak ini yang merupakan anak ketiga. Sewaktu sekolah dulu kakak pertama mbak ini yang juga laki-laki (sama dengan kakak keduanya yang tadi) sengaja mengurungkan niatnya untuk masuk sekolah negeri karena ingin menemani adik laki-lakinya itu (kakak kedua si mbak maksudnya..:D) untuk masuk pesantren, karena kakak kedua ini sangat ingin sekali masuk pesantren

Luar biasa bukan? Pertama, pengorbanan dan kasih sayang kakak pertama dari lima bersaudara ini begitu besarnya pada adiknya. Kedua, kakak kedua si mbak ingin masuk pesantren atas kehendak sendiri! Hal yang cukup jarang ditemukan dalam masa kini..(:

Hidup ini indah! Jadi nikmati saja, just let it flow..^^V!!

Jangan banyak mengeluh, tapi perkayalah rasa syukur dalam diri!

Kalau senang..bersyukur, kalau sedih..bersabar. It’s jut so simple like that, right^^??

Susah sih prakteknya, tapi kata siapa susah berarti gak bisa??

Percayalah pada diri sendiri kalau kita bisa menanganinya!

Gak mudah memang, tapi hidup kan bukan mi instan yang nikmatnya bisa dirasa hanya dengan menunggu 3 menit saja

Semakin berat penderitaan dan kesedihan yang kita rasakan, semakin indah luarbiasa ketika kebahagiaan akhirnya datang menyapa..(‘:

“Sabar yaaa sayang”, masih terngiang dengan jelas kalimat para tante dan om di kumpul keluarga tadi pagi, “Gak papa kok tek pik, justru kita bisa jadi lebih kuat karena ini”

Ajaba li amril mukmin, begitu kata Rasulullah. Artinya, sungguh ajaib orang mukmim itu. Mengapa? Sebab ketika ia mendapat kenikmatan, maka ia bersyukur, dan ketika mendapat musibah, ia bersabar

Masalah itu adalah bukti cinta Allah pada kita kok, jadi..semoga dengannya kita bisa semakin berada dalam naungan cintaNya ya..(‘:??

[+/-] Selengkapnya...

Senin, November 22, 2010

Allah adalah Tuhan saya

Tulisan saya mencermikankan karakter diri saya?

Karakter seperti apa yang diketahui orang-orang terhadap diri saya?

Ya Allah...benarkah pujian-pujian mereka?

Saya hanyalah pembohong besar!


Pemimpi yang berharap mimpinya dianggap hebat oleh orang lain!!

Atau ketakutan saya ini yang merupakan kebenaran sesungguhnya?


Ya Allah, ampuni saya, saya sungguh takut terlena dengan semua pujian-pujian ini...)’:

Ampuni saya ya Allah...

Apakah saya harus berhenti menulis kalau semua tulisan ini justru menghantarkan saya ke depan jurang kesombongan? menghantarkan saya dengan sukses untuk semakin menjauhkan diri ini dari cahaya cintaMU???


Ya Allah, saya sungguh ingin meninggal dalam keadaan mengingatMu, namun tentu saja saya tak tahu dan tak akan pernah tahu kapan waktunya engkau akan menjemput saya, lantas apa yang harus saya lakukan??

Dalam salah satu tulisan saya ya Allah...saya sendiri sadar dengan mengutarakan bahwa itu berarti bahwa saya tidak boleh lengah sedikitpun! Ya, sedikitpun saya tidak boleh lengah!!

Karena jemputan mautMu bisa datang kapan saja

Tapi ya Allah...sungguh saya sedang berada dalam titik terendah seorang hamba, titik terendah di mana tepat luar biasa posisi saya sekarang menggambarkan kemampuan diri yang menangis karena ketidakmampuan untuk menangis, benarkah tangisan saya ini adalah tangisan ketidakmampuan saya untuk menangisi diri yang lalai?

Ingin rasanya saya membela diri dan mengatakan tidak!
Bukan, ini memang tangisan penyesalan tulusmu, nestri! Tapi saya rasa hati saya saat ini begitu keruhnya hingga tak mudah lagi bagi saya untuk mempercayai diri saya sendiri..):

Ya Allah, jauhkanlah saya dari segala apa yang bisa membuat saya menjauhkan diri saya sendiri darimu ya Rabb..):

Saya mohon ya Allah...

Saya mohon ya Allah..

Saya sungguh ingin memiliki ketakutan hanya padaMu, dengan mewujudkannya dalam bentuk kehati-hatian diri dalam menjalankan hidup dan mewaspadai hidup itu sendiri untuk tidak mendekati hal-hal yang membangkitkan murkaMu. Namun kenapa terkadang untuk memohon hal ini saja saya merasa tidak pantas?? Saya merasa saya adalah serendah-rendahnya hamba dihadapanMu ya Allah, setidak berartinya makhluk di hadapanMu

Padahal tentu saja bukan itu yang terjadi, dalam janjiMu bahkan Engkau lebih dekat dari urat nadi saya sendiri, bukan begitu duhai kekasih? Dan bukankah tidak mungkin Engkau berada sedekat itu pada ia yang tidak berharga bagiMu?

Namun sungguh hati ini begitu picik mengharapkan cintaMu tanpa memberikan banyak cinta saya untukMu, ya Allah...seandainya penghalang cinta saya ini padaMu adalah karena sedikitnya kecintaan dan rasa cinta yang saya miliki terhadap apapun yang ada, kumohon bantulah saya ya Allah, bantulah saya untuk dapat jadi lebih peka terhadap apapun di dunia ini, karena sungguh siapa saya? Siapa saya tanpa pertolongan dan rahmat dariMu ya Allah?

Sungguh saya bukan siapa-siapa, sungguh saya tidak berharga sampai saya memberi harga pada diri saya sendiri..)’:

Karenanya ya Allah, saya yakin saya berharga, dan saya harus menjaga harga ini! Saya tidak ingin lengah lagi, kapanpun, mulai saat ini, saya sungguh tidak ingin lengah dan terjerumus lagi dalam jurang kelalaian, sehingga apapun itu yang akan saya sebarkan, apakah itu untuk para adik, orangtua para adik, dan siapapun itu, bukanlah suatu kebohongan, dan bukan pula khayalan semu buah dari imajinasi penciptaan karakter seorang nestri yang mereka inginkan


Karena saya berhak utuk lebih mengenal diri saya sendiri! Saya berhak untuk menjadi diri saya sendiri!!

ya Allah, ijinkanlah saya menjadi orang beriman yang dalam setiap tatapanku adalah pandanganMu, yang dalam setiap hembusan nafasku adalah deru cinta padaMu, sang pemilik cinta sejati..

ya Allah, saya ingin membangun cinta karenaMu, dan hanya karenaMu. Maka ridhoilah usaha saya untuk menjaga diri ini dari siapapun yang belum halal bagi saya, menjaga hati ini dari keakraban yang berlebih dari mereka yang belum tentu adalah imam bagi saya dan buah hati saya. Menjaga ucapan agar tidaklah berlebihan dan membuat orang lain mengelu-elukan saya, karena saya sama sekali tidak ingin terjebak dalam perangkap kesombongan! Menjadi seseorang yang jujur, dengan menjadikan orang lain hanya sebagai sosok pembelajaran, dan bukan sebagai kerangka pembentukan pribadi diri.

Karena saya adalah saya, dan cukuplah Engkau Ya Rabb sebagai sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik tempat bertanya..(:

ya Allah, saya sungguh ingin mengatakan bahwa saya mencintaiMu, saya tau bahwa Engkau bahkan tak perlu kata-kata romantis dari saya untuk membuktikan cinta saya padaMu, tapi saya ingin sekali mengatakan dan berteriak bahwa saya memiliki Engkau, Engkau yang begitu luar biasanya sehingga saya tak lagi memerlukan tempat lain untuk bersandar

Dan meski terasa konyol, tapi layaknya kalimat cinta yang kerap saya ungkapkan seperti “saya mencintaimu karena Allah”, rasanya ingin juga saya ungkapkan padaMu ya Rabb


Tapi bagaimana? Saya benar-benar merasa konyol saat ini, bukankah aneh bagi saya untuk mengatakan “Allah, saya mencintaiMu karenaMu”..:D

Wah, saya benar-benar makin merasa konyol karenanya


Tapi setelah berpikir ulang, agaknya tidak ada yang salah bukan duhai kekasih hati dengan kalimat saya tadi?

“Saya mencintaiMu karenaMu” berarti Saya mencintaiMu karena Engkau adalah Tuhan saya. Karena bukankah nikmat terbesar dalam hidup adalah Engkau, ya Allah, adalah Tuhan Kami..(‘:??

“Allah, saya sungguh mencintaiMu karenaMu...”

Bismillah, semoga saya berhasil menjemput syurgaMu, dan setiap detik yang akan datang hingga mautMu menjemputku adalah tiap detik di mana akan semakin bertambah kecintaanMu padaku, karena meski Engkau Maha Adil, saya adalah pencemburu yang handal, hingga rasanya saya tidak rela kalau saya tidak dicintai olehMu..^^V


ya..meskipun Engkau tentu saja lebih cemburu ketika hambaMu mendekatkan diri pada hal lain dengan kedekatan yang lebih besar daripada kedekatannya padaMu

Jadi...karena saya sangat ingin dicintai olehMu, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tiap denyutan jantung yang masih akan berdetak akan semakin menambah rasa cinta saya pula padaMu, kan tidak adil kalau saya hanya ingin menerima tanpa memberi apapun. Rasanya saya malu karena Engkau telah banyak memberi saya nikmat dan karuniaMu sedangkan saya bahkan belum memberi apa-apa yang berarti untukMu, meski tentu saja di lain sisi Engkau tidak membutuhkan apapun dari saya..:D

Ahh...ingin sekali rasanya saya berteriak,


“Allah, saya sungguh mencintaiMu karenaMu...”

Dan sekali lagi, saya benar-benar bersyukur karena Engkau Allah, adalah Tuhan saya..(:

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, November 19, 2010

menjadi syurga

She wakes early in the morning with a smile
And she holds my head up high:
"Don’t you ever let anybody put you down-‘Coz you are my little angel"
(Ia selalu bangun di pagi hari dengan sebuah senyuman, kemudian diangkatnya kepalaku dan ia berkata: “Jangan kamu biarkan orang lain meremehkanmu, karena kamu adalah malaikat kecilku”)

Then she makes something warm for me to drink -
‘Coz it’s cold out there, she thinks
Then she walks me to school - yes, I ain’t no fool, i just think my mum is amazing

(Lalu ia membuatkan sesuatu yang hangat untuk kuminum, karena menurutnya diluar sangat dingin.
Lalu ia mengantarkanku ke sekolah, dan aku tidak perlu merasa malu karenanya, yang kurasakan hanyalah ibuku adalah seorang ibu yang luar biasa)

She makes me feel - Like I can do anything
And when she’s with me there’s nowhere else I’d rather be

(ia selalu membuatku seolah dapat melakukan semua hal, dan ketika ia berada di dekatku, tidak ada satu tempat lainpun bagiku yang lebih baik dari sisinya)

After school, she’s waiting by the gate
I’m so happy that I just can’t wait to get home to tell her how my day went
Eat the yummy food only my mum makes

(sepulangnya dari sekolah, ia sudah menungguku di gerbang sekolah,
aku sungguh merasa senang hingga tak sabar untuk segera pulang dan menceritakan bagaimana aku menghabiskan hari di sekolah, sambil makan makanan lezat yang hanya mampu dibuat oleh ibuku)

Then I wind her up ‘coz I don’t want to bath
And we run around the house with a laugh
No matter what I say, she gets her way
I think my mum is amazing

(Kemudian aku melarikan diri darinya karena aku tidak mau mandi,
dan kamipun berlari berkejar-kejaran mengelilingi rumah dengan senangnya,
namun tidak peduli apapun yang aku katakan, ia selalu saja berhasil menangkapku,
sungguh ibuku adalah ibu yang luar biasa)

In the evening, she tucks me into bed
And I wrap my arms around her head
Then she tells me a tale of a girl far away - who one day became a princess

(Setiap malam ia menghantarku ke tempat tidur, dan akupun melingkarkan tanganku untuk memeluknya, kemudian ia akan mulai bercerita tentang kisah seorang gadis nun jauh di sana yang suatu hari akan menjadi seorang putri)

I’m so happy - I don’t want her to leave
So she lies in bed with me
As I close my eyes, how lucky am I - to have a mum that’s so amazing

(Begitu senangnya aku hingga aku tidak mau ia meninggalkanku,
maka ia pun ikut berbaring menemaniku, dan ketika aku menutup mataku, aku berpikir betapa beruntungnya diriku karena memiliki seorang ibu yang luar biasa)

Then I wake up in the morning - she’s not there
And I realise she never was
And I’m still here in this lonely orphanage - with so many just like me

(Kemudian akupun bangun kembali di pagi hari, tapi ia tidak ada, dan akupun menyadari bahwa ia memang tidak pernah ada, sedangkan aku tetap berada di sini dengan kesendirianku sebagai seorang anak yatim-piatu, dengan masih banyak lagi anak lain sepertiku)

And as my dreams begin to fade
I try hard to look forward to my day
But there’s a pain in my heart that’s a craving:
How I wish I had a mum that’s amazing

(Dan ketika mimpi itu semakin memudar, akupun berjuang keras untuk tetap mampu melangkah ke depan, tapi tetap saja rasa sakit karena harapan yang membuncah itu menusuk-nusuk jiwaku, sungguh, betapa aku menginginkan kehadiran seorang ibu yang luar biasa)

Would be amazing

(Karena ia pasti adalah seorang ibu yang luar biasa)
------------


Lagu yang sangat menyentuh di awal, tapi menyentak di akhir

Then I wake up in the morning, SHE’S NOT THERE, and i realize SHE NEVER WAS


Sebuah nyanyian rindu seorang anak yang mencoba membayangkan ibu yang kasihnya tidak pernah ia rasakan

Saya benar-benar kaget ketika ternyata kisah sang anak dan ibunya di awal lagu ini yang begitu manis ternyata hanyalah bayangan sang anak yang hanya bermimpi, bermimpi bahwa ia memiliki seorang ibu, yang bahkan ketika bangun pun ia yakin bahwa seandainya ia memiliki ibu, ibunya pasti adalah seorang ibu yang luar biasa

How I WISH i had a mum that’s amazing. Would be amazing

Betapa menyedihkan mengingat beberapa dari kita yang masih memiliki ibu—atau setidaknya pernah merasakan kasih sayang seorang ibu—sering mengeluh tentang ibu kita yang terkadang tidak satu pemikiran atau sering menentang keinginan kita

Betapa kita bukanlah anak yang baik

Betapa SAYA sangatlah jauh dari sifat seorang anak yang baik

Padahal, seperti apapun seorang ibu—bahkan seburuk apapun, ia tetaplah seorang ibu, wanita biasa dengan status luar biasa: IBU

Bukankah menjadi ibu adalah menjadi syurga? Dan bukankah membesarkan seorang anak sama halnya dengan membesarkan masa depan?

Sebuah tugas yang luar biasa bukan untuk dilakukan oleh seorang wanita biasa?

Dan betapa saya juga sangat merindukan status mulia itu...(‘:


untuk mendownload lagu yang saya maksud, mangga klik myMOMisAMAZING ini^^

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, November 18, 2010

panggilah dengan indah..(:

“ih teh nestri kayak anak kecil”

Rasa-rasanya biasa saja seandainya yang mengucapkan kalimat tadi adalah seorang adik yang hanya berbeda beberapa tahun dari saya, tapi yang mengucapkan ini adalah adik kecil kelas 4 SD, EMPAT SD!! Dibilang kayak gitu saya benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa, apalagi adik ini sampai mengulang dua kali kalimat yang persis sama hanya selang beberapa hari setelah hari itu...-__-“

“Aku gemes deh sama teteh, pengen aku cubit rasanya”, kalau yang ini dari adik kelas 5 SD yang ngeliat saya autis sendiri main muter-muterin badan karena terlampau asik nikmatin cuaca pagi di lapangan sekolahnya

“Loh? Emang kenapa dek?”
“Abis teteh lucu kayak anak kecil”
“....”

Sebenarnya bukan masalah saya yang seperti anak kecil yang ingin saya utarakan di sini, tapi betapa jujurnya mereka berkata. Memang tidak selalu hal yang baik dan merupakan pujian yang mereka utarakan, dan saya ingat sekali dengan kata-kata seorang adik lain yang berkata “teh nestri mah meni judes”, atau “teh nestri pelit”, dan lain sebagainya. Tapi itulah mereka: jujur (meski terkadang mereka memang sengaja menggoda saya..-_-a)

Kenapa mereka bisa begitu jujurnya? Karena mereka masih kecil? Ah, agaknya tidak. Masih tersimpan dengan rapi dalam inbox sms saya ungkapan jujur dari seorang adik SMKN 2 Sumedang di hari setelah saya mengisi acara pesantren kilat Ramadhan di sekolah mereka,

“Aku dari awal melihat teteh, subhanallah seperti ada seorang remaja muslim yang membangkitkan semangat dalam hati aku. Aku senang melihat cara teteh bicara begitu halus dan sopan.. Aku melihat teteh seperti siti aisyah yang cantik juga cerdas.. InsyaAllah, kalau aku dekat atau jadikan sahabat teteh alangkah bahagia.. Tapi aku malu.. :)”

Dan entah kenapa hanya selang 3 menit datang sms yang nyaris sama dengan konteks yang sedikit berbeda dari adik yang mengirim sms tadi,

“Aku dari awal melihat teteh, subhanallah seperti ada sayap putih yang mengepakan semangat dalam hati. Aku senang melihat cara teteh bicara begitu halus dan sopan.. Aku melihat teteh seperti siti aisyah yang cantik juga cerdas.. Sehingga aku malu.. :)

Sungguh saya masih sangat jauh dari sayidina Aisyah dengan akhlaq dan kecerdasannya yang luar biasa, dan kalimat adik ini tentu bukanlah sebuah fakta, tetapi hanyalah sebuah opini semata. Sebuah ungkapan jujur dari seorang adik

Kenapa mereka bisa begitu jujurnya? Karena masih kecil?
Tapi adik ini adalah pelajar SMK! Kelas dua pula..

“Terbang aja”, sms yang ini meski tidak masuk akal, tetap saja menggelitik perut saya karena polosnya seorang adik kelas enam SD yang meminta saya yang sedang ada di Jakarta untuk main ke Garut detik itu juga. Adik ini bercerita kalau ia sedang sangat merindukan saya saat itu. Jujur sekali bukan? Meski sangat khas anak kecil..:D

“Kak, di sana hujan gak? Di sini hujan besar, mau ikutan dingin-dinginan kak? Kakak lagi di rumah atau di kampus? Kak, kak wita mau maafin aku? Aku sudah minta maaf sama kak wita, hanya satu yang maafin aku yaitu bintang. Bintang itu sangat manis tetapi dia di Jakarta bersama bulan yaitu kak Nestri dan naoval. Tolong dibales kak. BALES”, ini adalah sms dari adik yang sama dengan yang menyuruh saya terbang ke Garut tadi..:D

Naufal itu adik kandung saya (meski adik ini tadi salah menyebut nama naufal..-__-“) yang sering saya ceritakan pada adik lain yang saya kenal, jadi wajar kalau para adik seolah sangat mengenal naufal saya ini...(:
Dan waooo, saya adalah “bintang” dan naufal adalah “bulan”...*-*/!!, benar-benar senyum-senyum sendiri saya dibuatnya. Sekali lagi ini bukanlah fakta, ini hanyalah opini, sebuah ungkapan jujur dari para adik...(:

Sikap mereka yang seperti inilah yang membuat saya semakin menyayangi mereka, ya saya sangat menyayangi mereka, saya sayang mereka karena Allah..(:!!

Belakangan ini saya membandingkan bagaimana para adik bersikap dengan sikap beberapa orang dewasa yang lain. Saya sungguh heran ketika dalam pergaulan rasanya sangat biasa sekali memanggil orang dengan sebutan, “nyet” (agaknya berasal dari kata monyet), “ ‘ndut” (gendut), “sapi”, “jelek”, atau sebutan-sebutan lain yang tidak ada unsur mesranya sama sekali

Kenapa ya?

Yang terkadang membuat saya semakin heran adalah ketika orang yang dipanggil demikian terlihat senang dengan panggilan barunya. Kenapa?

Apakah karena orang ini berjiwa besar yang demikian besarnya sehingga mampu terus bersabar meski dihina?

Begitukah?

Tapi kalaupun begitu, bukankah Rasulullah menganjurkan kita untuk memanggil teman kita dengan panggilan yang disukainya? Layaknya panggilan “ya khumaira” (yang kemerah-merahan) yang Rasul sematkan pada sayidina Aisyah?

Bukankah begitu?

Mungkin panggilan-panggilan aneh tadi memang terkadang disukai dan terkesan mampu lebih mengakrabkan diri satu sama lainnya (mungkin karena dianggap hanya orang-orang terdekat yang berani memanggil seperti itu), tapi saya yakin pasti ada setidaknya setitik bentuk penolakan dalam diri orang yang diberi “nama panggilan” itu

Saya teringat ketika saya harus mencari suatu data dari teman saya yang sering dipanggil “nenek”, saat itu saya mengetik nama “nenek” di searching list facebook saya untuk melihat informasi yang ada, tapi namanya tidak ada di friend list saya (secara nama aslinya bukan “nenek”..-__-), dan saya sungguh menghabiskan banyak waktu untuk berfikir siapa nama asli teman saya ini (untuk mengingat kacamata yang baru saya letakkan saja bisa makan waktu berhari-hari, apalagi untuk mengingat hal-hal semacam ini..-__-a??)

Begitulah nama panggilan, terkadang disematkan dengan alasan yang juga mengatakan sebagai sebuah ungkapan kejujuran untuk menggambarkan kepribadian diri, tapi kan...panggilan yang bagaimanaaaaa?? Panggilan-panggilan yang menegaskan kekurangan seseorang?

Bingung sendiri saya dibuatnya, apa karena mereka dewasa dan para adik masih kecil? Inikah pergaulan orang dewasa saat ini? Kalau iya, saya tidak ingin bergabung dalam geng orang dewasa itu, biarkan saja saya tetap menjadi anak-anak seperti dalam kisah peter pan..d;

Tapi rasanya tidak, anak kecil juga banyak yang menggunakan “nama panggilan” semacam itu, sebaliknya orang dewasa (atau remaja menengah?) seperti adik SMKN yang saya ceritakan tadi juga banyak yang mampu memberi panggilan yang sangat mesra

Lantas kenapa? kalau seperti ini berarti bukan faktor usia dan kedewasaan yang berperan kan? Lantas apa?

Bersihnya hati adalah jawabannya

Terkadang ketika kita ingin memberikan sebuah pujian yang ikhlas, kalimat pujian itu terhenti begitu saja di tenggorokan

Kenapa?

Susah sekali rasanya memuji orang lain jika hati kita tidak bersih, tidak ikhlas dengan apa yang ingin kita sampaikan. Sehingga kalaupun berhasil terlontar, kalimat tersebut terasa sebagai kalimat kosong tanpa makna dengan bumbu kebohongan sebagai kemasannya

Karenanya, bersihkan hati, sucikan jiwa.

Saya pribadi tidak menyarankan untuk selalu memuji orang lain, pujian memang perlu, tapi rasanya tidak untuk selalu dielu-elukan

Sebuah pujian sangat rentan mengantarkan orang ke jurang kesombongan, padahal bukankah inahu la yuhibbu manka la munta lan fakhuur?? Sesungguhnya Allah membenci orang yang sombong dan membanggakan diri

Tapi rasanya kalau untuk panggilan, tidak ada yang salah dengan memanggil dengan panggilan yang disukai seseorang. Kalaulah sulit menentukan panggilan apa yang disukai, bukankah setiap orang memiliki sebuah do’a yang melekat dalam dirinya: nama
Sebuah perwujudan harapan orangtua yang diberikan pada buah hatinya yang berharga. Kalau begitu, panggil saja dengan namanya yang sudah ada. Tidak sulit bukan..(:??

Nama saya Nestri, dan meski terdengar hebat, saya tidak suka dipanggil “bu dokter”, jadi saya cukup senang kalau dipanggil dengan Nestri..(:

“Anggap aja do’a nes”, kata seorang teteh ketika saya mengutarakan ketidaksukaan saya dengan sebutan bu dokter tadi

Tadinya sih saya mengiyakan, “iya juga ya teh? teteh pinter!”, tapi kok...asa tetap saja saya tidak suka ya?? Selain karena saya memang belum jadi seorang dokter, menjadi dokter memang bukan sesuatu yang saya sukai. Sehingga mendengar seseorang memanggil saya dengan sebutan ini membuat saya merasa sangat tidak nyaman (inilah salah satu alasan mengapa saya sangat sadar betapa memanggil seseorang dengan panggilan yang disukainya sangat penting)

Dan itulah pelajaran berharga yang kembali saya dapatkan dari para adik, panggilah dengan jujur, panggilah dengan panggilan yang disukai seseorang, karena ucapan adalah do’a, dan apa-apa yang kita sebutkan juga berarti adalah do’a kita untuk orang lain. Karenanya, panggilah ia dengan indah..(:

[+/-] Selengkapnya...

Senin, November 01, 2010

bermain dengan alam


saya sukaaaaaa sekali dengan wangi rumput

saya juga sukaaaaaaa sekali dengan wangi tanah yang terkena siraman air hujan

tak kalah juga rasa sukaaaaaaaaa ini terhadap bulan dan bintang yang kini jarang sekali terlihat di langit malam....)’:

saya juga sukaaaaaaaa sekali dengan serangga-serangga, meski kalau untuk yang ini saya lebih suka mengamati mereka dari jarak jauh, maaf ya pak serangga, ibu hexapoda, saya sedikit takut dengan bapak dan ibu, apalagi sama om periplaneta americana yang menulisnya di tulisan ini saja sudah membuat saya merinding berkali-kali (maaf lohh om peri, seandainya waktu kecil dulu saya gak ditakut-takuti sama om peri...T^T)

eh? apa? ada yang gak tau apa itu periplaneta americana?? itu nama latin dari kecoa (tuh kan, saya merinding lagi...T________T)

gyuuuu...


di samping saya sekarang juga ada serangga yang sedang bingung karena posisi badan nya dalam keadaan terbalik (dan agaknya ia kesulitan membaliknya ke posisi semula), tapi.....nanti ya tante serangga, saya kumpulin keberanian dulu buat ngebantu tante...;D


kenapa saya jadi merambat ke duni per-serangga-an ya? bingung sendiri saya...(-_-a)


sebenarnya saya juga tidak tahu mau saya bawa ke mana arah tulisan ini, saya hanya ingin sedikit melarikan diri dari segala penat diri dengan apa-apa yang saya suka ini


Tapi belakangan ini kalaupun saya sempat berjalan di dekat bu rumput, jarang sekali saya sempat untuk menghirup aromanya sepuas hati, bahkan lebih sering bagi saya tidak dapat menghirup apa-apa karena terlalu tergesa-gesa

Bulan dan bintang juga kian hari kian jarang menampakkan dirinya (sepertinya karena sekarang sudah resmi masuk musim penghujan, jadi langit semakin jarang terlihat cerah..T^T), padahal saya sangat merindukan kehadiran mereka...

Pak siput pun sudah lama tidak terlihat, padahal sekarang sudah musim hujan, ke mana perginya yaaaa?? Pak siput, saya rindu ingin menyapa bapak lagi...)’:

Kalau dipikir-pikir, saya sering ditertawakan kalau terlihat oleh teman sedang menyapa bu rumput atau dek kucing, padahal kan seru... \(´▽`)/!! Tapi agak seram juga ya kalau mereka membalas sapaan saya... (¬_¬"). Tapi sebenarnya senang juga kalau sapaan saya dibalas dengan “meongg” dari dek kucing atau sekedar lambaian mesra dari bu rumput yang tertiup angin... (◦'⌣'◦) (meski kalau dengan pak ayam saya lebih senang kalau mereka bereaksi dengan melarikan diri dari kejaran saya, entah kenapa saya suka sekali mengejar-ngejar ayam, jadi ingat waktu di Garut dulu saya pernah main kejar-kejaran di lapangan bola dengan keluarga ayam di sana... (◦'⌣'◦), wah, seru sekali pokoknya^^/!!)


Saya benar-benar merindukan itu semua...


Tapi kapan ya saya bisa meluangkan waktu untuk bernostalgia dengan mereka? Bercanda riang dengan alam?


Jalan pintas memang, tapi yang terpikirkan oleh saya saat ini adalah jalan-jalan ke kebun binatang, meski tidak bisa bermain secara bebas dengan binatang-binatang di sana, saya toh tetap bisa berbincang dengan mereka^^ (asal tidak ada yang menganggap saya aneh saja..-_-a)


Tapi kapan ya? Rencana saya ke Garut untuk bertemu dengan para adik saja harus saya tunda terus dan terus..)’:


Agaknya ujung dari ini semua adalah manajemen waktu! Kalau banyak yang harus dilakukan, jangan lengah untuk melakukannya seefisien mungkin, betul?


Okay, i’ll try it.

And now, for sure, i’ll do it



[+/-] Selengkapnya...