Add This...^^d!!

RSS

Kamis, September 30, 2010

CELOTEH DI USIA BARU

Rabu-Kamis, tengah malam, 29-30 September 2010

Kemarin pagi saya bermimpi, mimpi indah, sekaligus mimpi buruk. Indah karena dalam mimpi itu saya akhirnya pergi ke Garut, kembali mengunjungi adik-adik kecil yang sangat saya sayang di tempat KKNM (kuliah Kerja Nyata Mahasiswa) dulu. Buruk karena di tengah-tengah mimpi itu saya menyadari kalau itu hanyalah mimpi, sayapun menangis.



Kenapa cuma mimpi?

Kenapa?


Bangun dari tidurpun ingin sekali rasanya melanjutkan tangis di dalam mimpi, tapi yang lebih menyakitkan adalah ternyata airmata itu tak bisa keluar, entah kenapa.

Sekarangpun kalau mengingat mimpi itu lagi saya akan kembali dilanda sedih yang mendalam. Dalam mimpi itu saya dipeluk oleh seorang adik dari belakang, ia adalah Juang, adik yang paling sulit saya hubungi ketika saya sudah pulang dari sana.

Juang ditinggal ibunya yang menjadi tenaga kerja di Saudi Arabia, ayahnya masih ada meski telah bercerai dengan ibunya. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama neneknya, seorang nenek yang sangat luar biasa—bahkan saya sulit menggambarkan ke-luarbiasa-an nenek ini. Sang nenek sering kali menitikkan air mata ketika bercerita mengenai nasib Juang—cucu satu-satunya, meski tak jarang pula kemilau matanya digantikan oleh binar yang sangat indah tatkala beliau bercerita tentang kelebihan Juang.

Saya iri sebenarnya, mengingat saya sudah tidak mempunyai nenek. Tapi rasa bangga sesungguhnya jauh lebih besar mengalahkan kilasan iri yang muncul dan mengisi ruang hati, saya bangga bisa mengenal nenek yang luar biasa ini!!

Dalam mimpi, Juang memeluk saya dengan sangat erat, seolah tidak ingin saya tinggalkan lagi. Begitupun adik-adik yang lain, mereka mengeluh dengan jujurnya, “teteh…kenapa baru datenggggg??”

Sedih sekali saya dibuatnya. Karena bahkan saya belum datang ke sana lagi sampai sekarang. Itu hanyalah mimpi. Mimpi yang terlihat begitu nyata.

Kapan saya bisa kembali ke sana?


Padahal saya masih harus menunda rencana saya untuk mengunjungi mereka meski hanya untuk memastikan di mana surat yang telah lebih dari sebulan saya kirim namun masih belum sampai ke sana.

Ya, saya harus kembali menunda rencana yang tadinya sudah sangat matang: pergi ke Garut minggu ini juga.

Tapi saya kembali harus menundanya. Masih ada masalah lain yang harus saya selesaikan di sini.

Lantas kapan? Kapan saya bisa ke sana dalam waktu dekat?


Sedih sekali rasanya tiap membaca pesan dari adik-adik di sana yang menanyakan mengapa surat kiriman saya tak kunjung sampai.

Kapan saya bisa kembali ke sana? Kapan saya bisa segera ke sana dan membantu menemukan surat yang sangat mereka nantikan??

Ya, kemarin perasaan saya sungguh melankolis, penuh dengan sesal dalam diri, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang tak pasti. Ditambah lagi beberapa masalah yang datang bersamaan dan sangat menyayat hati, ingin sekali diri ini menangis.

feel so sad, mau nangis boleh ya Allah? boleh ya?? saya tau kok ini adalah salah satu ujian cintaMu, tapi gak papa yaaa nangis dikiiiiiiitt ajaaa...??

Fyuhh..

Akhirnya meski saya adalah tipe yang tidak suka keluar rumah ketika sedang sedih, saya membulatkan tekad untuk datang ke tempat les tempat saya mengajar yang hanya setengah jam dari kampus. Ingin sekali diri ini melihat senyum dan canda adik-adik di tempat les.

Saya tahu mereka bukanlah adik-adik yang hadir dalam mimpi saya. Namun mereka memiliki kesamaan yang sangat kental dengan adik-adik saya di Garut: senyum yang membangkitkan semangat.

Sebagaimana adik-adik di Garut yang mampu membuat saya melupakan lemasnya tubuh setelah beberapa jam sebelumnya saya terserang demam hingga 39,8⁰ C. Adik-adik di tempat les selalu mampu membuat saya lupa dengan masalah yang membebani diri.

Ya Allah, di awal usiaku yang baru, semakin bulat tekadku untuk melakukan sesuatu untuk mereka, meski mungkin baru dapat terlaksana 15-20 tahun ke depan…kumohon ridhoilah jalan yang akan mulai kutempuh ini, jalan cintaku pada para adik, dan jadikanlah pula jalanku ini sebagai perantara cintaMu pada adik-adik yang luar biasa ini

pasti akan kuwujudkan!! that's not just manifest in my life in a dream form...yeah, i can do it, and i'll do it..(:!!

Adik-adik, teteh sayanggggg sekali dengan kaliannn, teteh sayang kalian karena Allah..(‘:!!

Dan teteh tidak akan pernah berhenti menyayangi kalian, insyaAllah…

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, September 07, 2010

Saya dan adik-adik itu..

5 Agustus 2010

Hari ini (dan sebenarnya sejak beberapa hari sejak saya pulang dari tempat saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) di Dusun Cibaregbeg, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut) saya merasa sangat rindu dengan adik-adik kecil di sana

Bagaimana tidak? Nyaris setiap hari sejak kepulangan saya dari sana, handphone saya sering sekali berbunyi menandakan adanya sms yang masuk

Berikut adalah sms yang masih tersimpan di handphone saya (hanya sedikit, karena memori handphone saya hanya sanggup menyimpan paling banyak 60 pesan saja, jadi terpaksa beberapa sms yang lain saya hapus)



Mulai dari hari ketika saya pulang (bahkan bis saya masih sangat jauh dari dibilang sudah mau sampai..:D)

30 Agustus 2010

“Kapan 2 kesini lagi, di cibare9be9 nya kalau nanti 1 thn yaaa… . jgn lupa foto nya”, tulis sidqy, adik kelas 5 SD Karyamukti I—sekaligus tetangga
sebelah rumah saya ketika di sana—dalam pesannya yang mengingatkan saya juga mengenai foto yang ingin saya kirim lewat surat


“Belum, aku juga sudah sholat ka nestri udah belum kalau tidak sholat nanti saya pukul”, kalau yang ini Yudi, adik kelas 6 SD Karyamukti II membalas sms saya yang menanyakan apakah ia sudah sholat..(:


“aslmkm k dh spi, k pajar td plg sklh mrasa khlgan kk,? Mls makn k jgn lpa pajar ya k maksh spi ktmu d lain ksptn”, kali ini Fajar, adik kelas 5 SD Karyamukti I



Satu hari semenjak kepulangan saya dari sana..

31 Agustus 2010

“Ka nestri aku mau men dengar suara kanestri lagi )-:”, Yudi lagi kali ini

Padahal baru satu hari gak ketemu!! Selain itu, smiley yang digunakan adik kecil yang ini adalah smiley khas saya, yaitu smiley terbalik dari yang biasa digunakan orang-orang lain, saya tidak menyangka adik ini mengingat smiley yang biasa saya gunakan..(“:



Keesokan harinya..

1 Agustus 2010

“Uni nestri ini sidki, aku kangeeeeee…….,nnnn.” Saya juga tak menyangka sidqy akan memanggil saya dengan sebutan ‘uni’, ternyata dia masih mengingat cerita saya mengenai panggilan saya di rumah..(:


3 Agustus 2010


“th ni ma sendi,, th gmna sma kbr nya,,th sendi kangen sma te2hm..” Sms kali ini benar-benar mengagetkan saya, karena setahu saya hanya ada satu adik yang bernama Sendi di sana, yaitu Sendi
kelas 4 SD Karyamukti I (kalau yang bernama ‘Sandi ‘ada banyak). Tapi Sendi yang saya kenal tidak bisa membaca! Lantas bagaimana mungkin ia bisa menulis? Bahkan menulis pesan di handphone yang tentu tingkat kesulitannya lebih tinggi??


Segera saja saya pastikan dengan menelepon balik ke nomor itu, ternyata dia benar Sendi yang saya maksud, Sendi minta tolong kakaknya untuk mengirim pesan kepada saya via sms, wah terharu sekali saya dibuatnya. Bahkan di telepon, Sendi yang susahnya luar biasa jika disuruh belajar membaca ini, dengan mudahnya berjanji pada saya bahwa dia akan belajar membaca dengan rajin, mengingat saya menjanjikan akan bermain lagi ke sana jika liburan panjang kuliah datang lagi tahun depan^^

Ya, Sendi berjanji bahwa tahun depan ketika saya main ke sana ia sudah bisa membaca. Subhanallah, sebuah janji yang sangat manis..(‘:


4 Agustus 2010


“Teh gimana kalau gadikirim ke aku teh aku nangis kalaunga gikirimin keaku”, kata Febi, ketua kelas 4 SD Karyamukti II, mengadu tentang kemungkinan tidak sampainya surat yang saya kirim ke sana. Padahal saat itu saya masih belum menyelesaikan surat-surat dan foto-foto yang ingin saya kirim


8 Agustus 2010

“Teh nelepon ke IYANG”, tulis iyang, kelas 4 SD Karyamukti I, semena-mena

Tapi saat itu saya sedang di tengah-tengah persiapan acara keluarga di Jakarta, bagaimana mungkin saya menelepon iyang dan meninggalkan pekerjaan di sana (meski hanya sekedar membantu-bantu persiapan acara)?

Akhirnya untuk sementara pesan itu saya abaikan dahulu


Tak lama handphone saya berbunyi menandakan ada panggilan masuk—dari iyang

Duh, kalau untuk membalas sms saja saya sedang cukup sibuk, apalagi mengangkat telepon?


“Teh kenapa tadi ga di angkat”, terpaksa saya balas dengan mengatakan sedang ada acara keluarga di tempat saya


Tak lama kemudian..

“Teh udah pulang keluarga teteh belum”, tentu saja saya jawab belum, karena acara bahkan belum dimulai, masih dalam persiapan acara, dan saya masih sibuk, menyapu, mempersiapkan makanan, minuman, meja, piring-piring, gelas, wah banyak sekali yang harus dikerjakan


Lagi, tak lama..

“Teh udah pulang belum”, wah adik yang satu ini...-_-a


Sebenarnya adik-adik yang lainpun begitu, 5 menit saja tak segera saya balas…mereka akan segera mengirim sms kedua, “TEH KENAPA GAK DIBALAS?”, benar-benar khas anak-anak, tidak sabaran..:D


Akhirnya saya merayu iyang untuk ngobrol via sms saja,tapi…

“Ga mau SMSan mauny nelepon”

gyaaaa….

Haha, mereka memang banyak menuntut, tapi itulah lucunya mereka…(:


9 Agustus 2010


“Teh kenapa gak di ankat”, kali ini Nabil yang mengirim pesan di handphone saya, saya lupa saya sedang melakukan apa saat itu hingga tidak bisa mengangkat telepon dari adik kecil ini

“Teh gak nyampe nyampe topinya”, adu Nabil di sms berikutnya. Saya memang menjanjikan akan memberikan topi untuk nabil. Karena waktu itu, beberapa hari terakhir menuju kepulangan saya dari sana, nabil tak muncul di rumah tempat saya tinggal (sedangkan adik-adik yang lain tak pernah sepi dari rumah). Dan akhirnya sehari setibanya saya di kosan saya, Jatinangor, saya menelepon handphone nabil, dan karena nabil sedang tidak ada, akhirnya saya mengobrol dengan ibu nabil (karena ternyata itu memang handphone ibunya nabil..:D ). Sang ibupun bercerita bahwa pada hari kepulangan saya, nabil sedang sakit dan sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, nabil juga menangis karena tidak diperbolehkan orangtuanya untuk bermain dan mengantarkan kepulangan saya.


Itulah mengapa saya akhirnya menjanjikan akan mengirim topi saya untuk adik yang sangat saya sayang ini^^ (Nabil bilang dia juga mau topi seperti yang dipakai anak-anak lain yang diberikan oleh akang-teteh KKNM lainnya. Dan karena topi KKNM saya sendiri telah saya berikan ke Juang—adik
kelas 4 SD Karyamukti I—sayapun menawarkan topi lain yang saya dapatkan ketika menjadi panitia OSPEK di fakultas dulu, untunglah nabil tetap mau menerimanya^^)


10 Agustus 2010

“Teh lagi ngapain:-P”, tulis iyang dalam pesannya. Karena sedang tidak sibuk dan masih pagi (dan nomor iyang indosat sama seperti saya), saya pun menelepon iyang dan mengobrol cukup lama (mumpung murah..:D)


“Teh apa kbr surat nya blm iki terima waktu teh nestri krm pake almt mana rmh apa sekolah.”, kali ini giliran sidqy yang menanyakan surat, kemana para petugas pos ya?


11 Agustus 2010, hari pertama puasa

“Teh nestri selamat ber puasa udah saur blm”, tulis sidqy lagi menyapa saya dini hari di waktu sahur. Ah, mesra sekali..(:


“Teh sekarang neleponny”, kali ini iyang (lagi) yang meminta ditelepon (meski saya sudah bilang akan menelepon adik yang satu ini beberapa jam lagi). Baiklah, saya pun mengobrol lagi dengan iyang ditelepon (dan juga adik-adik lain yang sedang berada di dekat iyang saat itu^^)

Telepon pun terputus karena…entahlah, terputus pokoknya..:D, dan iyang mengirim satu pesan: “iyang kasian sama teteh habis pulsa”, saya tertawa, ternyata iyang bisa merasa kasian juga pada saya, meski ia lebih sering memaksa saya untuk meneleponnya..d;


“Kata derahma udah ada di sidki ngaakan dikeakuin”, pesan ini dari Febi, masih membahas surat yang belum sampai-sampai. Kenapa ada adik yang menuduh sidqy seperti itu? Padahal sidqy juga sedang sedih karena suratnya tak sampai-sampai..):


12 Agustus 2010, hari kedua puasa

“Ka ada gempa ke sana tadi jam 2 malam”, sms Fajar ini membuat jantung saya mendadak sakit sekali, kaget saya dibuatnya. Jadi ternyata ada gempa yang cukup besar menimpa desa ini (bahkan ada teman saya yang mengatakan kalau ternyata gempanya mencapai 5-koma-sekian ritcher). Namun Alhamdulillah Allah melindungi warga di sana karena tidak sampai menjatuhkan korban jiwa, bangunan pun sepertinya tak mengalami kerusakan berarti..(‘:


14 Agustus 2010

“Kainimamkangn”, tulis Imam setelah sebelumnya menelepon saya dan mengatakan hal yang serupa (Ketika menerima telepon waktu itu saya benar-benar tak percaya bahwa yang menelepon adalah Imam, ketua kelas 4 SD Karyamukti I. Karena Imam adalah adik yang sangat pendiam dan pemalu, meski sebenarnya saya sering menangkap senyum tipisnya ketika saya sedang menggodanya dan mengajak ia bermain. Namun sebaliknya, tak jarang imam justru kabur ketika melihat saya datang menghampirinya..-_-a)


19 Agustus 2010

“Kenapa mikirin Iyang”, tanya iyang di sms, menanggapi sms jawaban saya yang jail bilang ke iyang kalau saya sedang mikirin iyang. Habis iyang selalu mengirim sms yang sama untuk mengawali pembicaraan, dengan format tulisan yang sama: “Teh lagi ngapain” (Kumat deh iseng saya..:D)


23 Agustus 2010

“Baik ka aku pasti semangat kalau ada kaka aku itu kangen banget sama kaka aku selalu memimpikan kaka”, kali ini saya lupa siapa yang mengirim pesan ini (karena adik ini mengirim pesan menggunakan nomor yang asing di handphone saya, dan menurut sang adik nomor ini adalah nomor handphone teman dari kakaknya si adik^^). Sms yang sangat manis, padahal saya hanya mencoba memberi semangat pada adik ini untuk mengerjakan PR matematika yang kata si adik susah sekali untuk dikerjakan..(:


27 Agustus 2010


“Teh lagi ngapain teteh saum gak he…he…he”, goda nabil dalam pesannya (mengingat paginya ketika nabil mengirim sms pada saya, ternyata saya telah melewatkan waktu sahur karena baru terbangun ketika azan subuh sudah berkumandang)

“Teh disini gak ada yang namaya kurnia nabil terus memikirkannya”, tulis nabil lagi di sms berikutnya. Nabil sungguh ingin segera mendapatkan topi yang saya kirim, namun entah mengapa paket surat yang saya kirim tak pernah sampai ke sana.

Akhirnya setelah menanyakan pada kantor pos di Jatinangor mengenai keberadaan surat saya, saya mendapatkan nama ‘Kurnia’ yang dikatakan oleh pihak pos telah menjadi perwakilan penerima surat dari saya sejak tanggal 12 Agustus 2010 (itu kan sudah berminggu-minggu yang lalu, kenapa belum disampaikan pada adik-adik..>.

“Nabil juga mikirin teteh terus”, tulis nabil di sms ketiga, padahal sebelumnya saya menulis bahwa saya juga mikirin surat yang gak sampai terus, jadi agaknya nabil kurang nyambung di sini, tapi toh smsnya tetap membuat saya tersipu malu..(“:


(masih 27 Agustus 2010), malam hari

“Teh taraweh gak kalau nabil mah nungguin baji nabil kangen sama teh nestri”, tulis nabil lagi dalam sms. Wah bingung saya, saya kan biasa taraweh sendiri di kosan, jam 2 pagi pula, tadi apa? Baji? Siapa baji? Saya gak pernah dengar ada anak kecil yang namanya baji di sana..-_-a. Dalam sms balasanpun, saya menambahkan pertanyaan apakah saya boleh main lagi ke sana (berhubung nabil sering sekali mengatakan kangen pada saya..:D)


“Boleh kesini lagi teh tapi harus lama disininya 3 minggu teh baji itu kakeknya nabil masa taraweh jam 2 malam ha…ha…ha… Keburu imsak teh kemarin nabil mimpi jadi adiknya teteh cantik sekali teh nestri nya”, mesra sekali adik saya yang satu ini, berkali-kali saya dibuatnya tersipu malu..(“: (Meski dalam hati ada pertanyaan yang terbesit dalam pikiran saya dan membuat saya geli sendiri karenanya, “Kalau saya ‘ganteng’, saya dipanggilnya bukan ‘teteh’ dong..:D??”)



28 Agustus 2010

“Teh sahur…sahur jangan tidur lagi harus sahur ya teh nabil tau nama kurnia”, tulis nabil dalam pesannya di waktu sahur. Dengan semangat saya segera menanyakan siapa kurnia yang nabil tahu itu

“Kurnia yang di kecamatan yang kerja di satpol pp? Sama apa teteh makanya jangan lupa makan promah, nabil mh makannya sama sayur sop, ayam, telurkeju” . Baik sekali adik saya ini..(:


Tapia pa tadi? Petugas kecamatan!

Masuk akal sekali! Akhirnya saya mendapatkan sebuah titik terang saat itu. Berhari-hari setelah itu saya menghubungi sana-sini demi mendapatkan kepastian mengenai keberadaan orang bernama kurnia, dan tentu saja, keberadaan paket surat dari saya.

Akhirnya ada harapan! Ternyata benar adanya surat-surat memang biasa diterima oleh Kurnia, petugas kecamatan. Namun harapan itu pupus ketika ternyata surat dari saya tidak bisa ditemukan. Apa mungkin masih belum berada di tangan Kurnia ini? Ah, tak mungkin, kalau bukan di tangan Kurnia…lantas darimana pihak pos Jatinangor bisa menyebutkan nama yang benar—Kurnia?

Muncul kembali harapan baru ketika ternyata saya mengetahui bahwa yang dicari di sana di tempat pak Kurnia adalah ‘surat’ dari saya, padahal yang saya kirim adalah ‘paket berisi surat’, dan tentu saja ‘surat’ dari saya tidak pernah ada, karena surat itu ada di dalam kotak yang saya kirimkan dalam bentuk paket. Akhirnya pencarian dimulai kembali. Tapi entah kenapa hasilnya masih nihil…):


Sedih sekali saya mendengar kabar dari para orangtua bahwa adik-adik merasa kecewa karena harus pulang tanpa menerima surat dari saya. Ya Allah, saya sungguh tidak tahu ada di mana surat saya saat ini. Namun, saya telah banyak merepotkan warga di sana sekaligus mengecewakan adik-adik karena tindakan saya ini.

Semoga surat saya itu dapat segera sampai di tangan mereka../-_-\!! Karena jika tidak, saya harus segera bergerak, saya tidak boleh membiarkan adik-adik saya yang luar biasa ini semakin sedih karenanya. Saya akan berangkat ke dusun Cibaregbeg kembali demi memperjuangkan hak adik-adik yang tertunda karena kecerobohan saya ini

insyaAllah...






[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Agustus 31, 2010

Kenapa Harus Curiga Kalau Dengan Tanpa Kecurigaan Kita Bisa Menjalani Hidup Yang Lebih Berkualitas?


31 Agustus 2010

“Kenapa sih harus FK?? Kenapa cuma Fakultas kita sama FKG aja yang kayak gini coba??”, keluh seorang teman saya, menyikapi pengumuman fakultas mengenai keputusan wajib dari pemerintah kepada seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia bahwa mulai angkatan di atas kami (tentu saja berarti angkatan kami juga termasuk) untuk mengikuti magang selama setahun terlebih dahulu baru kemudian diperbolehkan membuka praktek di manapun yang disukai.


Kemudian, makian kepada pemerintah mulai keluar dari mulutnya, “akal-akalan doang tuh”, “biar gak keluar banyak uang”, “dasar licik”, “arggghhhh!!”
“iya gak nes?”, tanya dia akhirnya setelah panjang mengeluarkan unek-uneknya. Saya hanya manggut-manggut cepat mendengar ucapannya yang juga cepat itu, meski terkadang saya timpali dengan “oo..” di sela-sela ucapannya yang memang terdengar banyak argumentasi yang kuat itu

Obrolan entah kenapa merambat ke kenangan KKN kami di tempat masing-masing. Pada akhirnya saya ingin mengangkat profil seorang tokoh yang luar biasa (menurut saya) di desa tempat saya melaksanakan KKN tersebut ke dalam topik obrolan kami
Tokoh itu bernama Pak Agus, beliau adalah seorang mantri (perawat) yang mendirikan klinik desa di bekas Puskesmas Pembantu di desa Karyamukti, kecamatan Cibalong, Garut. Klinik Desa itu didirikannya sendiri karena Puskesmas Pembantu yang tadinya bertempat di tempat Klinik Desa tersebut berada telah dipindahkan ke desa sebelah

Namun, meski pindahnya Puskesmas Pembantu tersebut disertai dengan perbaikan kualitas Puskesmas baru di desa sebelah (yang kini tak lagi menyandang kata “Pembantu” di belakangnya), itu berarti kalau ada warga desa Karyamukti yang memiliki permasalahan kesehatan maka warga tersebut tidak akan bisa segera ditangani, karena harus pergi ke desa sebelah terlebih dahulu. Atau bahkan ke kecamatan sebelah jika ia ingin diobati oleh seorang dokter (Karena tetap belum ada eorang dokter yang bertugas di puskesmas baru)
Akhirnya atas dasar pemikiran seperti itulah Pak Agus mendirikan Klinik untuk warga desa Karyamukti, dengan usaha sendiri, dengan biaya sendiri
Sungguh inspirasi yang luar biasa

Namun teman saya ini menanggapi cerita saya dengan tanggapan yang sungguh membuat saya tersentak.
Ia meminta saya untuk tidak percaya begitu saja dengan cerita semacam itu, bisa jadi hal itu hanya bualan Pak Agus, karena pemerintah desa pastilah memiliki anggaran untuk masalah se-crusial permasalahan kesehatan macam tak adanya sarana kesehatan di sebuah desa seperti itu. Bisa jadi dananya dimakan sendiri oleh Pak Agus, namun ia bercerita seolah ia tidak mendapat bantuan apapun hanya demi mendapat pujian atau—lebih diharapkan lagi—sebuah bantuan (yang bahkan  mungkin akan dimakan sendiri lagi oleh beliau)
Inalillahi..sebuah pemikiran yang kejam

Saya tahu, pemikiran teman saya ini bisa saja memang benar-benar terjadi—sangat mungkin terjadi bahkan. Namun tidakkah ia berpikir kata-kata itu sangat menyakitkan bagi saya? Tidakkah ia mengetahui seberapa dekat saya dengan Pak Agus? Tidakkah ia malu jikalau seandainya saya berkata jikalau Pak Agus tersebut adalah saudara saya sendiri??

Pak agus memang nyatanya bukan saudara saya. Namun saya sudah sangat menganggap seluruh warga desa tersebut selayaknya saudara saya sendiri. Tidakkah akan sedih hati seseorangg jikalau mendengar saudaranya sendiri ditimpa kecurigaan keji seperti itu?

“Maaf ya nes udah meracuni pikiranmu dengan pemikiran seperti ini…”, ucap teman saya tersebut sambil menepuk-nepuk pundak saya, “Tapi terlalu percaya sama orang lain itu gak bagus tau….”
“Nestri tuh gak pernah percaya sama orang lainnnn…..”, ucap saya mencoba menanggapi
“Wah, bagus, bagus itu…”, potongnya
Pembicaraanpun entah mengapa tiba-tiba terhenti di situ

Benar. saya memang tidak percaya dengan orang lain, saya pernah mengalami saat-saat sulit dulu dimana saya sama sekali tidak percaya dengan orang lain.
Semua ucapan orang hanya basa-basi!
Banyak penjilat di mana-mana!!
Jijik sekali saya dulu dengan orang dewasa yang memang dalam diri merekalah sifat basa-basi dan penjilat itu saya temui.

Tapi itu dulu

Saat ini, pemikiran saya sama sekali berbeda (meski saya masih tidak suka dengan orang yang hanya berbasa-basi manis di depan namun membicarakan lawan bicara dengan gelinya di belakang)

Tapi saya yang sekarang beda. Insya allah..

Kalimat saya yang terpotong tadi, ”Nestri tuh gak pernah percaya sama orang lainnnnnnnn….”,  sesungguhnya ingin sekali saya lanjutkan di hadapan teman saya itu, “…tapi Nestri INGIN percaya sama mereka”

Ya, saya ingin percaya
Sudah cukup masa-masa kelam saya
Sudah cukup semua itu!

Masih teringat jelas dalam benak saya kelamnya diri ini ketika hati saya menaruh kecurigaan kepada siapapun, sungguh perasaan seperti itu sangat tak mengenakkan jiwa. Hati saya serasa kosong, karena ia telah penuh terisi dengan makian kepada orang lain, dengan kecurigaan-kecurigaan. Sungguh saya muak dengan diri saya yang penuh kecurigaan seperti itu

Karenanyalah saya ingin mempercayainya.
Saya ingin percaya!!

Karena sebuah kepercayaan akan mengisi jiwa dengan sebuah harapan, dengan sebuah do’a tulus
Kalaulah ternyata kepercayaan saya disalahgunakan oleh orang yang saya percayai, berarti sayalah yang salah, karena saya hanya menaruh sebuah kepercayaan tanpa menularkan harapan saya pada orang tersebut. Atau mungkin saya lupa mendo’akannya untuk tetap menjadi orang yang yang seperti saya harapkan, yang membuat kepercayaan saya jatuh padanya
Saya yang salah

Saya ingin sekali menularkan kepercayaan itu, ingin sekali saya dengan tanpa berpikir panjang memberikan pujian yang tulus pada seseorang meski hal luar biasa yang diucapkannya sebenarnya kurang logis.

Namun coba kita renungkan kata-kata bijak yang mungkin sudah sering kita dengar, “Sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati”

                Saya sungguh ingin memberikan kepercayaan dan pujian tulus itu!!
Sebuah kepercayaan dan pujian yang datang dari hati, karena bukankah dengan begitu hanya dua hal luar biasa yang bisa terjadi?
Jika ia berkata benar, maka ia akan semakin memperjuangkan dan mempertahankan apa yang telah ia lakukan. Atau, jika ia berbohong, maka ia akan malu, hatinya akan terusik mendengar kepercayaan dan pujian yang saya sampaikan padanya, sehingga ia akan bersemangat untuk mewujudkan kebohongannya itu menjadi sebuah kebenaran, menjadi sebuah kenyataan

Kalaupun bukan dua hal tersebut yang terjadi, tanyakanlah pada diri… ”Sudahkah saya menyampaikan hati saya dalam setiap kepercayaan dan pujian yang saya sampaikan padanya?, Mungkinkah saya lupa memasukkan hati saya? Atau mungkin hati saya sedang tak ada? Tertutup oleh kelamnya prasangka??”

Sungguh, saya pernah terjebak dalam prasangka-prasangka dan kecurigaan keji yang terus terbesit dalam benak saya. Dan sungguh, saya menjalani hidup yang tidak tenang karenanya. Karena hanya keluhan demi keluhanlah yang meluncur keluar dari bibir, membelok kembali ke telinga, menyebar ke seluruh sel-sel tubuh, dan mengakar di jiwa. Padahal, kehidupan seperti apa yang bisa saya lewati dengan jiwa seperti itu?

Lantas kenapa saya harus menaruh kecurigaan kalau dengan tanpa kecurigaan saya bisa menjalani hidup yang lebih berkualitas?




[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Agustus 15, 2010

sebuah janji masa depan..

Minggu, 1 Agustus 2010


“…kak Nestri sudah sholat belum? Kalau tidak sholat nanti saya pukul”


Pesan tersebut diterima handphone saya di hari ketika saya baru saja menginjakkan kaki di Jatinangor kembali setelah sebulan penuh melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa di Desa Karyamukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Pesan singkat tersebut datang dari Yudi, anak kelas enam SD dimana saya dan rekan-rekan KKNM lainnya melakukan salah satu program kerja kami, program pendidikan, dengan mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris selama dua minggu di SD Karyamukti I dan SD Karyamukti II.


Dulu selama saya masih tinggal di desa tersebut, saya sangat dekat sekali dengan anak-anak kecil di sana, baik anak-anak di SD tempat saya mengajar, maupun anak-anak warga di dusun Cibaregbeg, tempat saya tinggal selama sebulan di Garut. Menurut saya, bermain adalah jiwa anak-anak, hingga sungguh tak mungkin memisahkannya dari seorang anak. Namun hidup harus seimbang, belajar dan beribadah juga harus selalu ditanamkan dalam diri anak.


Karena itulah, semasa saya tinggal di sana, meski saya selalu menemani anak-anak bermain, tak lupa saya tetap mengajak mereka belajar, mengerjakan PR bersama misalnya. Beribadah pun begitu, saya selalu mengajarkan agar anak-anak mengerjakan sholat terlebih dahulu ketika adzan berkumandang, meskipun mereka sedang asyik bermain.


“Teh Nestri mah meni judes!”, ledek seorang anak kalau saya sudah mulai mengambil mainan yang mereka pegang ketika mulai terdengar suara adzan. Ya, main boleh diteruskan kembali asalkan sholat telah mereka tunaikan, sebuah pola pikir yang selalu saya tanamkan dalam diri mereka. Karena sekali lagi, main memang adalah jiwa mereka, namun tentu saja tak berarti mereka boleh melepas jiwa lain yang juga sudah seharusnya ada dalam diri mereka: ilmu yang terus mengalir dan ibadah yang mengakar di jiwa.


Anak-anak di sana memiliki potensi sangat besar sebagai sebuah janji bagi masa depan, karena penanaman nilai-nilai agama dan moril sungguh sangat mudah dilakukan dalam diri mereka. Bangun ketika adzan subuh berkumandang cukup mudah bagi kebanyakan anak di sana, karena ada pengajian subuh yang dilaksanakan bagi anak kecil sesaat setelah sholat subuh ditunaikan. Bahkan, teman-teman saya dikelompok KKNM tak jarang yang baru bangun dari tidur dan hendak menunaikan sholat ketika matahari mulai mengintip dari kejauhan! Sungguh ironi yang pahit mengingat anak kecil mampu bangun lebih awal dan menjalani kehidupan dengan senyum mengembang di bibir disaat orang dewasa yang seharusnya lebih dewasa dalam menjalani hidup, justru semakin dalam menarik selimut mereka demi kembali terlelap dalam tidur.



Terbayang pula dalam benak saya indahnya kebersamaan dengan anak-anak di sana saat itu. Berlari-larian di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggal kami—hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki—sering sekali kami lakukan sebagai salah satu cara saya untuk menanamkan nilai pembelajaran. Karena meski yang mereka tahu mereka hanya sedang bermain di pantai, namun sesungguhnya tanpa mereka sadari mereka sedang belajar hal-hal baru bersama saya dan beberapa teman lain dengan berjalan di sekeliling alam. Dimana di sepanjang perjalanan, kami mencoba membaca pesan kebesaran illahi, sebuah pesan yang dapat terbaca nyata dengan hanya melihat segalanya yang telah nampak sempurna: gunung, ladang, air, dan angkasa raya. Hingga akhirnya hanya satu kata yang bisa terucap, Maha Suci Allah pencipta alam semesta ini.


Pesan singkat dari Yudi tadi menyadarkan saya kembali di masa kini, betapa anak-anak di sana selalu mengingat hal-hal yang saya ajarkan. Padahal kebanyakan dari apa yang saya ajarkan hanya terlontar sesaat dari mulut saya ketika mereka sedang asyik bermain. Tapi mereka mampu mengingatnya dengan baik! Sungguh sesuatu yang luar biasa.


Saya, Nestri, Saat ini menginjak tingkat terakhir di Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran, yang sampai saat ini memiliki sebuah angan kecil untuk menjadi seorang dokter anak, merasa sangat terpanggil untuk turut membesarkan mereka, membesarkan anak-anak di sana. Karena sungguh, bukankah membesarkan anak sama halnya dengan membesarkan masa depan?


KKNM kali ini sungguh menginspirasi masa depan saya. Terpikirkan oleh saya untuk ikut mengabdi di desa Karyamukti, karena selain keberadaan dokter memang tidak ada sama sekali di Kecamatan tersebut—sehingga warga harus naik angkutan umum selama setengah jam dengan terlebih dahulu harus menunggu angkutan umum yang datangnya tak jarang lebih dari setengah jam sendiri—dokter anak memiliki potensi yang besar untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak dan membantu mengarahkan anak-anak di sana agar tidak pantang menyerah dalam menjalankan kehidupan dan memenuhi janji yang mereka miliki, sebuah janji masa depan.


Insya Allah…



[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Maret 06, 2010

Assalamu’alaykum pak siput...(:

Sore kemarin perasaan saya sesungguhnya biasa saja, sedikit melankolis bahkan, namun tiba-tiba saya teringat bahwa saya belum mengucap nama Allah dalam perjalanan pulang menuju kosan.

Bismillah, dengan menyebut namaMu ya Allah…


Lalu saya berpikir sendiri, saya telah menyebut nama Allah dalam perjalanan ini, maka saya lihat kedua kaki di ba sesaat, kaki ini berjalan dengan namaMu ya Rabb…Mau saya bawa ke mana kaki yang dipersembahkan atas namaNya ini? Ke kosan?

Ya. Ke kosan, namun karena Allah..


Segala sesuatu yang saya lewati entah mengapa jadi terasa saaaangaaat indahh. Hati pun terasa jadih lebih cerah, senandung ringan terlontar dari bibir, rintik hujan pun membalut mesra dedaunan hijau di lingkungan Unpad, dan, ah, apa itu?

Pak siput! Ada siput besar di antara tangga yang terlihat saat ingin melewati Fisip menuju Sastra (Karena memang itulah rute saya sebelum pulang ke kosan...:D). Siput itu pada awalnya membuat saya merasa agak ingin menjaga jarak.

Tapi hei! Atas dasar apa saya menjauhinya? Lihatlah gerakannya yang sangat perlahan namun pasti itu. Bukankah dalam keperlahanannya itu dia pun berjalan dengan nama Allah? Bukankah alam dan malaikat senantiasa selalu berzikir menyebut asma Allah? Bukankah itu tadi hal yang juga ingin saya coba lakukan?

“Assalamu’alaykum pak siput…(:!!”, ujar saya sambil melewatinya, senang, karena merasa ada teman seperjuangan (hihi, siput adalah teman saya^^!!)

Senyum. Itulah hal yang kulakukan ketika saya melihat dua anak kecil muslim yang mengenakan pakaian koko, sepertinya mereka baru selesai mengaji. Bukankah mereka pun berusaha menyebut nama Allah?

“Haloooooooooooo, assalamu’alaykumm…”

Yang satu tersenyum malu-malu, yang satunya sudah berlalu lebih dahulu, namun setelah anak-anak itu melewatiku, terdengar bisik-bisik lucu di antara mereka,


“Siapa itu?”

“Gak tau”

“Tanya dongg..”

“Gak tauuuu, gak kenal”

“Yeee…makannya tanya dongg..”

Hihi, dasar bocahh, apa tadi pak siput juga berpikir seperti itu yaaaa…d;??


Ah, tampaknya tidak, manusia—bahkan anak kecil sekalipun—memang terkadang berpikir terlalu rumit, kenapa kita harus mengenal seseorang terlebih dahulu kalau kita ingin mengucap salam kepadanya??


Padahal, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu Anhu, "Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri."

Kalau tidak salah ada juga sabda beliau—gak tau diriwayatkan oleh siapa—yang kurang lebih begini: “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya melebihi dirinya sendiri. Dan maukah kalian kuberitahu bagaimana cara agar dapat saling mencintai diantara kalian? Tebarkanlah salam”


Salam. Kasih. Cinta. Iman. Mereka adalah suatu kesatuan yang saling memunculkan satu sama lain, sebagaimana ucapan seseorang:

“Jika iman adalah salju maka cinta adalah dinginnya. Karena rasa pertama dari iman adalah cinta. Sehingga semakin beriman seseorang, semakin penuh kasih ia”

Karenanya saling mengasihilah karena Allah.

Kasihilah saudara kita sesama makhluk ciptaan Allah.

Tebarkanlah salam kepada siapapun, atau bahkan apapun, karena memberi salam kepada pak siput atau mungkin bu rumput adalah salam kepada alam, dan mencintai alam adalah mencintai sang pencipta alam…(:

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, Januari 22, 2010

find the way

Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
_Al Qur'anulkarim, Al Fatihah ayat 6 dan 7_







 Persepsi, baik yang keluar dalam diri maupun yang dilihat dari diri kita adalah buah dari sebuah rumusan universal sederhana:

k  Pengetahuan + Kepribadian = Persepsi

dengan k adalah konstanta yang menunjukkan banyak-sedikitnya pengetahuan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu

Begitupun dengan islam, agama universal yang, dalam penerapannya membutuhkan sebuah pencarian nurani demi menemukan jalan menuju taman surga. Berbagai persepsi akan tercipta dalam diri terhadap islam, pengertiannya, penerapannya, tujuannya, dan kelengkapan lainnya. Persepsi yang tercipta tentu sebanding dengan besarnya pengetahuan tentang islam dan juga jenis kepribadian seperti apa yang kita miliki.
Lantas bagaimana menciptakan sebuah persepsi yang benar mengenai islam?
Tentu saja jawabannya adalah dengan menyesuaikannya terhadap besarnya rasa haus akan ilmu keislaman dalam diri serta menciptakan kepribadian diri yang terbaik.
Teorinya tidaklah sulit, cukup mempelajari apa yang rasulullah salallahu 'alaihi wa salam lakukan, dan meneladaninya. Sehingga setidaknya kepribadian diri yang tercipta pun adalah kepribadian yang mendekati nabiyullah, sang kekasih Allah. Karena sungguh, siapakah suri tauladan yang lebih baik dari beliau?

Muhammad salallahu 'alaihi wa salam, apa yang ia lakukan adalah apa yang ia pelajari langsung dari Allah, Al-Waasi'. Nafasnya adalah Al-Qur'an, hidupnya dipersembahkan demi menegakkan agama Allah. Ia lah manusia yang paling sempurna dari manusia terbaik lainnya. Karenanya, siapakah suri tauladan yang lebih baik dari beliau?
Magnet Muhammad. Adakah kekuatan yang lebih dahsyat dari daya tarik memukau yang beliau miliki? Bahkan Michael H. Hart pun menempatkannya dalam urutan teratas dalam tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia dalam bukunya yang berjudul THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTAL PERSONS IN HISTORY.

Sekarang beliau telah tiada. Namun beliau pernah berkata bahwa suatu saat nanti akan lahir umat terbaik dari segala umat yang pernah ada, yaitu umat yang mencintai Allah dan rasulullah walaupun tidak pernah bertemu dengan beliau, itulah umat yang lahir ketika beliau telah tiada.
Kitakah?

Bagaimana caranya menjadi umat yang bahagia itu? Umat yang dirindukan dan didamba surga Allah.
Bagaimana?

Semua itu butuh pencarian. Semua itu butuh perjuangan. Berjuang untuk menghasilkan persepsi islam yang benar bisa dilakukan dengan belajar dan terus mempelajari kebenaran dalam islam, dan kuncinya adalah belajar tanpa henti.

Lantas bagaimana caranya menciptakan kepribadian terbaik dalam diri? Bagaimana caranya agar kita mampu meniru, atau setidaknya menyerupai...rasulullah?
Bagaimana?

Kesempatan adalah kuncinya, mencari kesempatan atau menciptakan kesempatan untuk mampu mengikuti jejak rasulullah bukanlah hal yang sulit dilakukan jikalau kita memang mau mencobanya. Fasilitas demi fasilitas terbentang, seandainya kita mau mencari tahu.
Organisasi keislaman adalah salah satu kesempatan yang tercipta. Karena di sana terdapat sekelompok orang dengan tujuan yang sama, meraih ridha Allah, menempuh jalan orang yang Allah karuniakan nikmat kepadanya. Jalan yang lurus, sebagaimana yang selalu kita inginkan tatkala terucap dari bibir kita tatkala membacakan surat Al-Fatihah ketika menghadap kepadaNya dengan penghambaan terbesar ketika melakukan sholat lima waktu setiap hari
            Ya, organisasi keislaman, di mana terdapat sekelompok manusia yang saling mencintai dan mendukung karena Allah, dalam sebuah pencarian yang sama, dan dengan niat tulus yang akan saling menguatkan tatkala melemah dan mengokohkan tatkala goyah. Itulah kekuatan indah dari organisasi keislaman, apapun itu, termasuk DKM Asy-SyifAa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran...(:



Nestri, 17 Januari 2010
dalam sebuah perenungan diri

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Januari 14, 2010

Berat tuk dilepas, meski letih kurasa…

MedIs atau Medical Islam adalah salah satu divisi dalam DKM Asy-SyifAa Fakultas Kedokteran Unpad

MedIs sendiri bergerak dalam bidang dakwah yang berkaitan dengan kedokteran islam, dimana dengan background kerja MedIs yang berdasarkan pada kajian, MedIs tentu saja akan berkaitan dengan pengkajian islam terkait dengan bidang kedokteran, dan kemudian berbagi informasi penuh makna tersebut kepada sesama muslim lain. Sebuah jalan dakwah yang sangat Subhanallah, begitu pikir saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dalam jalan ini

Manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya. Sudah 2 tahun kepengurusan saya berada dalam divisi ini. Tahun pertama cukuplah saya hanya sebagai pengamat dan pembelajar yang mengamati gerak dan arah kerja MedIs yang 'seharusnya', tapi justru karena pemikiran seperti itulah maka yang saya dapatkan sampai akhir kepengurusan di tahun pertama pun hanya sekedar tahu MedIs seharusnya seperti apa.

Sehingga di akhir tahun pertama dan menuju awal tahun kedua saya sempat goyah untuk keluar dari naungan DKM, karena pada saat yang sama saya masih belum merasakan feel MedIs terikat pada hati saya, Kalau tidak tetap di MedIs, lantas untuk alasan apa lagi saya bertahan di DKM? Begitu pikir saya saat itu

Tapi entah mengapa hati ini terasa berat, hati nurani saya seolah berteriak, saya belum melakukan apa-apa!! Ya. SAYA-BELUM-MELAKUKAN-APA-APA!! Belum untuk DKM AsySyifAa. Belum untuk MedIs. Hingga akhirnya ada suatu event besar yang diadakan dan hanya bisa diikuti oleh anggota DKM AsySyifAa, yaitu pelatihan TMA (Tim Medis AsySyifAa), Kata 'Medis' dalam tim ini adalah 'Medis' yang berkaitan dengan keperluan-keperluan Medis seperti kegiatan Balai Pengobatan, Khitan, maupun bantuan medis lainnya

Tertarik bergabung? Sebenarnya tidak juga, meskipun banyak orang yang rela bergabung dengan DKM AsySyifAa dan hanya menjadi anggota 'bayangan' demi memenuhi syarat dan mendapat 1 tiket untuk ikut bergabung dengan Tim Medis ini. Entah mengapa saya merasa bahwa seolah event ini berkata pada diri saya untuk tidak keluar dari DKM, dan itu artinya tentu saja tetap bertahan dalam divisi MedIs DKM AsySyifAa

Tapi sekali lagi, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya

Meski tekad saya sudah sangat bulat untuk tetap bertahan dalam MedIs. Meski 100% adalah angka yang meluncur keluar dari mulut saya ketika Yasser, sang ketua MedIs baru saat itu, bertanya mengenai seberapa yakin saya dengan keberadaan diri dalam MedIs. Meski banyak impian yang ingin saya torehkan bersama rekan MedIs lainnya dalam tahun itu. Meski banyak agenda-agenda kecil yang indah yang terangkai untuk dilaksanakan bersama.

Namun…ketika saat ini saya bertanya pada diri sendiri apa yang saat ini telah MedIs berikan? Tapi tunggu! Mungkin lebih tepatnya apa yang telah SAYA berikan? Apa saja yang telah saya lakukan?? Masya Allah, saya lagi-lagi telah lengah, membiarkan jiwa MedIs saya menguap dalam diam.

Padahal, bukankah pengkerdilan terkejam adalah membiarkan pikiran cemerlang diam dalam tubuh yang malas??

Saya punya banyak impian untuk Medis, begitupun (saya yakin) dengan rekan MedIs lainnya yang itulah mengapa menjadi alasan kehadiran kita dalam pertemuan dalam satu divisi ini, Medis

Itulah akhir perenungan saya di akhir masa kepengurusan tahun kedua saya berada di MedIs ini, ingin menangis rasanya, ampuni aku ya Ghaffaar, ampuni hamba yang lalai ini

--------------



Berhenti. Keluar dari DKM. Itulah lagi-lagi pikiran yang sama keluar dari benak saya kali ini, menjelang kepengurusan tahun ketiga saya (jikalau saya masih mau meneruskan keberadaan saya di MedIs)

Tapi itulah, manusia tidak bisa hidup sendiri, begitupun saya

Letih, saya letih berada dalam MedIs, dalam kesendirian yang mengiris hati, dalam diam di tengah pikiran cemerlang diri

Padahal semestinya saya tidak boleh letih, walau dua tahun yang telah saya lewati seolah tanpa hasil, seolah tanpa makna. Karena sengguhnya bukan usaha saya tidak ada hasil. Tapi usaha saya belum cukup, dan tak akan pernah cukup, karena ibadah yang baik adalah yang meski dilakukan sedikit tapi kontinyu

Semestinya letih tak boleh terlintas dalam diri ini, meski dua tahun ini telah terlewati, bahkan meski lima atau sepuluh tahun mendatang hidup saya

Semestinya….

Dan lagi-lagi ada suatu kejadian yang seolah menunjukan jalan pada saya untuk tidak keluar dari kesempatan luar biasa dan bertahan lagi dalam MedIs, bukan TMA (meski kemarin saya gagal masuk, dan saya memang berniat mengulangi pelatihan untuk masuk tim ini, tapi bukan untuk bergabung, karena saat ini bahkan tidak terpikir sama sekali untuk menjadi bagian dari tim Medis, karena saya hanya ingin mengikuti pelatihannya saja, berhubung pelatihannya sangat menyenangkan^^)



---------


Kali ini, lagi, saya memiliki banyak impian untuk saya goreskan dalam perjalanan dakwah ini, bersama MedIs. Karena ya…saya akan tetap bertahan di sini, dalam kesempatan indah yang Allah karuniakan pada saya, MedIs

Dan manusia TAK AKAN pernah bisa hidup sendiri, begitupun saya

Sehingga kali ini saya tak pula akan membiarkan pikiran cemerlang ini diam dan mengendap dalam diri, karena saya tak sendiri, saya memiliki rekan MedIs lainnya, yang mungkin juga memiliki pikiran cemerlang yang pula terdiam dan berhenti dalam tubuh yang sendiri

Karena saya tak sendiri….

Karena kita akan bersama…

Menggores catatan perjalanan…

Meniti jalan dakwah…

Dan tak akan pernah berhenti, meski nanti MedIs bukan lagi jalan dipilih..

[+/-] Selengkapnya...