Add This...^^d!!

RSS

Kamis, Oktober 23, 2014

Chirpstory twitter @willgetmarried
Fb : Will Get Married
December 1, 2012

Oleh @nestrinadezda


Cinta. Trlalu byk definisi yg bs terurai.

Tp lebih dr itu semua, sejatinya ia bukan lah kata benda, krn ia adalah kata kerja.

Sebagai kata kerja, tentu ada aktivitas yg terlibat dalam mencinta.

Bagi seorang ibu, mencinta terwujud dari sentuhannya mengusap lembut kepala buah hatinya.

Bagi seorang ibu, mencinta terwujud dari untaian do'a untuk kebaikan anaknya dalam tiap tengadahan tangannya seusai shalat.

Bagi seorang ibu, mencinta terwujud dari tangisan rindunya menanti kepulangan anaknya yang tinggal berjauhan.

Bagi seorang ibu, mencinta terwujud dari teguran khawatirnya saat sang anak tersentuh khilaf.

Bagi seorang ayah, mencinta terwujud dari semangatnya mencari nafkah untuk kehalalan kehidupan keluarganya.

Bagi seorang ayah, mencinta terwujud dari ketegasannya dalam mendidik.

Bagi seorg ayah, mncinta trwujud dr ingatannya akn anaknya yg mampu mnjadi motivasi trampuhnya utk brtahan di tiap kesulitan

Bagi seorang ayah, mencinta terwujud dari kesyahduan hatinya saat melepas anak perempuannya dalam ikatan akad

Bagi sepasang insan, mencinta biasa dikaitkan dengan besarnya perhatian akan pasangannya.

Dan ketika wktunya blm tepat, mencinta tak lagi semulia namanya, ia hnya akan dijadikan alasan dan pembenaran utk bermaksiat.

Shingga bagi kbanyakan org, mncinta ditunjukkan dgn aktivitas pacaran. Makan brg, nonton brg, semua dibalut atas nama cinta.

Padahal cinta tak serendah itu! Kemuliaannya terletak ketika mencinta dilakukan karena, dan hanya karena, Allah. Ikhlas. Lillahi ta'ala.

Bila tak mmbwa kbaikan, tak prlu mncul dlm aktvitas apapun. Ckup dsimpan di ht, dlm blutan istighfar.

Bila ikatan akad blm ada, cukuplah terwujud dlm do'a utk kebaikan yg tercinta. Jaga rasa itu agar tak menguak ke permukaan.

Bila ikatan akad belum ada, cukuplah ia dalam usaha perbaikan dan persiapan diri.

Tak perlu ragu atau khawatir. Karena nama pasanganmu telah ada. Dan janji Allah itu pasti. Believe it!

Bhkn janji Allah jauh lebih pasti dr matahari yg akn terbit esok hr.

Mngkhwatirkan jdohmu srupa dgn mragukan janjiNya. Hati2!

Bila ikatan akad belum ada, jagalah kesucian cintamu, bukan untuk ia yang kau cinta, bukan untuk siapapun.

Tapi untuk pasangan masa depanmu, yang baru akan kamu ketahui siapa setelah akad terikrar.

Bersihkan hati dari penempatan cinta yang belum saatnya, karena hatimu adalah penentu kualitas dirimu di mata Allah.

Jangan biarkan ada cinta yang lain selain karenaNya. Karena sungguh, Allah sangat pencemburu, jangan duakan Allah!

Untuk yg sudah menikah pun, terus dan terus lihat kondisi hati.

Jgn smpai caramu mencinta tidak berlandaskan cinta karenaNya.Caranya?

Minta pada Allah! Minta dan teeruus minta, krn beda dgn makhluk, Allah tak pernah jenuh mendengar pinta hambaNya.

Bda dgn mkhluk, Allah bhkn mrindu pintamu.
Krn nya, msukkan inginmu utk mnjga ht hny utk mncinta krnNya sbagai slh 1 pintamu.

Jadi, yuk minta pd Allah! Di tiap sujud kita, di tiap zikir kita, di tiap hujan yg mngguyur bumi, di tiiiiaaaapppp waktu !!

"Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku, menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih aku cintai melebihi cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan dunia seisinya.."

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Oktober 21, 2014

Catatan 01 Cinta Hingga ke Syurga


# Catatan 01 Cinta Hingga ke Syurga # 

@nestrinadezda

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

 Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS At Tahrim 6]

 Ketika akad telah terikrarkan...maka status kita (duhai para muslimah) adalah seorang istri, yang tentu saja sejak saat itu kita merupakan tanggung jawab suami kita. Buruknya amalan kita, lalainya ibadah kita, hingga khilafnya diri kita dalam menjaga aurat kita bisa menyeret suami kita ke dalam neraka tanpa kita dan suami kita sadari. Mengerikan bukan?

 Maka seandainya kita berani berlisan (atau minimal merasakan di dalam hati) bahwa kita mencintai suami kita...maka buktikan! Buktikan bahwa tak cukup jikalau kita hanya bersamanya hingga akhir usia kita. Buktikan dalam ikhtiar terbaik kita untuk masuk ke syurga-Nya dengan disambut oleh jemari suami kita!

 Tidakkah romantis adalah ketika kita dan suami kita kembali dipertemukan Allah dalam satu majelis syurga tetap sebagai sepasang suami-istri?
Maka duhai muslimah, jagalah aurat kita, suami bukanlah mahram kita tapi ia jauh lebih berhak melihat aurat kita dibandingkan mahram kita yang lain. Panjangkan khimar kita, kenakan gamis nan longgar, kenakan kaus kaki dan dalaman celana panjang, tutupi dagu bagian belakang (karena ia pun merupakan aurat bagi seorang muslimah), serta kenakan manset tangan dan periksa selalu agar posisinya tak turun di bawah pergelangan tangan kita.

 Mari kita mudahkan jalan suami kita untuk masuk ke syurga-Nya

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, September 26, 2014

Mau lanjut spesialis apa?

Ketika ditanya, "dokter apa mbak?"

Maka jawabanku tentu, "dokter umum"

Sudah bisa ditebak bahwa pertanyaan berikutnya adalah, "mau lanjut ambil spesialis apa nanti?"

Padahal menjadi dokter tak selalu harus menjadi dokter spesialis, ada banyak pilihan yang bisa diambil.

Bagiku, kalau ambil spesialisasi...in syaa Allah spesialis kandungan adalah pilihannya, megingat masih sedikitnya dokter kandungan muslimah.

Kalau ambil S2...in syaa Allah aku akan ambil farmakologi supaya bisa jadi dosen yang paham obat, nampak seru.

Kalaupun tidak...cukuplah jadi dokter umum yang asik dengan klinik pribadi dan kepentingan dakwah umat.

Yang manapun boleh, karena in syaa Allah keinginan terbesarku bahkan bukan ketiganya melainkan menjadi ibu dari malaikat-malaikat mungil yang akan lahir dari rahimku kelak. Membina mereka dengan penuh kecintaan kepada Rabbnya, kepada RasulNya, dan kepada ayat-ayat cintaNya.

Menjadi generasi-generasi dengan akhlak bersinar yang mampu menjaga kemurnian al qur'an dengan menjadi al hafidz dan hafidzah sekaligus menjaga kemurnian sabda Rasulullaah dengan menghafalkan beribu al hadits, serta menjadi generasi yang mampu memberikan bobot pada bumi dengan kalimat laa ilaahailaallaah...

Cukup itu bagi diri ini in syaa Allah, karena impian terbesar seorang Nestri bukanlah menjadi dokter melainkan menjadi seorang ibu *senyum lebar

@nestrinadezda

[+/-] Selengkapnya...

Senin, September 01, 2014

Motor, Helm, dan Saya

Sudah beberapa hari ini saya mulai menggunakan motor, belajar mengendarainya pun baru mulai dalam pekan yang sama. Keputusan menggunakan kendaraan beroda dua ini sebagai kendarahan pilihan mulai terlintas di benak mengingat jadwal jaga di rumah sakit yang terkadang mengharuskan pulang malam ataupun berangkat malam. Khawatir, karena malam hari di Purwakarta sudah sepi dengan angkutan umum, sedangkan bermalam di rumah sakit pun tidak memungkinkan.

Wallahi, gemetar sekali ketika pertama kali mulai latihan menggunakan motor. Sebenarnya dulu saya pernah iseng menggunakan motor ayah untuk sekedar meyakinkan kalau saya juga bisa mengendari motor, meskipun sekedar motor matic. Tapi saat itu saya menggunakan motor ayah untuk sekedar berputar-putar keliling kompleks yang sepi, maka tentu saja saat itu saya mampu mengendarainya dengan lancar jaya.

Sedangkan kali ini ketika saya kembali berlatih, saya berlatih dengan motor saya sendiri dan untuk saya gunakan sendiri, bukan untuk sekedar bermain keliling kompleks yang sepi melainkan untuk saya gunakan menempuh perjalanan dari kosan ke rumah sakit maupun sebaliknya. Maka takut sekali rasanya diri ini ketika kembali menaikinya untuk berlatih, entah apa pastinya yang saya takuti, rasa geli pun menyusup dalam benak membayangkan betapa santainya saya dulu saat menggunakan motor ayah untuk berkeliling kompleks, sedangkan di kompleks yang sama ketika saya berlatih dengan menggunakan motor saya sendiri...gemetar dan tegang yang luar bisa menghinggapi diri. Geli, karena kok saya jadi terkesan tega sama motor ayah tapi penuh kehati-hatian ketika yang digunakan adalah motor sendiri yah? hehe.

Tapi alhamdulillaah, 3 hari menggunakan motor, saya sudah lancar menggunakannya, dan juga sudah tidak setegang sebelumnya. Namun ada satu hal yang senantiasa menjadi pikiran saya : helm.

Kenapa helm?

Pernah kemarin ketika saya sudah ingin menyalakan motor untuk berangkat kembali ke rumah sakit untuk mengambil barang yang tertinggal, saya teringat bahwa saya belum mengenakan helm, segera saja saya hendak kembali ke kamar kosan untuk mengambil helm yang saya letakkan rapi di atas tempat tidur kamar. Seorang teteh kosan yang bertanya mengapa saya kembali lagi berkomentar, “Gak papa kok, di sini mah polisinya baik-baik nes”, komentar itu membuat saya yang saat itu belum paham maksud sang teteh hanya berkomentar singkat, “oh iya yaa teh? Alhamdulillaah...”, saya pikir sang teteh kenal dengan polisi di sini dan pernah berbincang sendiri dengan pak polisi sehingga mengatakan kalau polisi di sini baik. Sehingga saya pun tetap kembali untuk mengambil helm yang tertinggal di kamar.

Saat itu, di perjalanan saya kembali memikirkan maksud sang teteh tadi, dan akhirnya saya pun paham bahwa yang dimaksud adalah “baik” yang tidak lantas mengejar ataupun menilang pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Padahal, dimana baiknya seorang polisi yang mendiamkan peluang kecelakaan dan regangan nyawa terjadi di depan matanya?

Dan kemudian, setibanya saya di rumah sakit, selepas saya mengambil barang yang tertinggal dan hendak kembali ke kosan. Datang sebuah mobil bak terbuka dengan tubuh yang terbujur kaku dan berlumuran darah di bak mobilnya, hanya satu yang terlihat bergerak dari tubuh itu, dadanya yang naik turun, bukan naik-turun karena nafas biasa, karena justru jelas terlihat bahwa naik-turun dadanya yang tidak biasa itu menandakan betapa suitnya sang korban bernafas, dirinya tak sadarkan diri, darahnya bergelimang dan menetes banyak sekali di sepanjang jalan depan Instalasi Gawat Darurat hingga ke ruang tindakan di dalam.

Bekerja di IGD rumah sakit, tak jarang saya lihat pasien yang tiba sebagai pasien kecelakaan adalah pengendara motor, atau korban yang ditabrak oleh pengendara motor. DI luar dari tak sedikitnya pula pengendara motor yang terlibat ternyata sedang dalam kondisi mabuk (dengan usia yang masih sangat belia : 16 hingga 18 tahun! Naudzubillaah...) yang jadi pusat pikiran saya adalah helm yang tak ada di lokasi kejadian. Banyak sekali korban kecelakaan tak mengenakan helmnya. Apakah karena alasan polisi Indonesia yang “baik” tadi?

Siang tadi saya kembali keluar menggunakan motor, dan mengamati pengendra-pengendara motor yang lain. Ternyata selain mereka yang keluar mengendari motor tanpa helm, banyak sekali pengendara motor berhelm yang tak mengaitkan kunci helmnya dan hanya sekedar menempelkan helmnya di kepala untuk kemudian dengan santai menjalankan motornya.

Lantas apa fungsi helmnya? Untuk menghindari tangkapan polisi?? Padahal, bukankah tujuannya adalah untuk melindungi tulang kepala dan otak yang ada di dalamnya dari benturan keras yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu dalam sebuah kecelakan yang kita tidak pernah tau kapan ia menyapa sang pengendara motor? Sedangkan sekedar “menempelkan” helm di kepala tentu saja akan dengan mudah menyebabkan helm tersebut terlepas ketika terjadi benturan keras, helm akan terlempar, dan peluang kepala akan terbentur dengan sangat keras adalah besar.

Lantas apa fungsi helm nya?

Ayah saya memesankan kepada saya untuk mengendarai dengan kecepatan 30-40 km /jam saja ketika melepaskan motor saya untuk saya gunakan di kota ini. Bahkan pagi tadi via telepon entah kenapa meskipun ayah mengulangi nasehat lain yang sama persis dengan nasehatnya di hari sebelumnya mengenai kehati-hatian untuk mengendarai sepeda motor saya ini, angka yang disebut mengalami perubahan, yang tadinya disebut 30-40 km/ jam tadi mendadak berubah jadi 20-30 km/jam saja. Haha entah karena lupa dengan angka yang disebut dalam nasehatnya sebelumnya, entah karena dirinya dihinggapi rasa khawatir akan diri saya sehingga ayah memang dengan sengaja meminta saya untuk mengurangi kecepatan normal saya untuk mengendarai motor.

Seorang dokter di rumah sakit mengatakan bahwa kecepatan saya mengendarai motor adalah kecepatan sebuah sepeda, haha, lucu sekali komentar ini, saya pun dibuatnya geli sekali mendengar komentar polos sang dokter. Tapi mau bagaimana lagi, seandainya saya bisa memilih, tak ingin saya meregang nyawa dan mengakhiri kontrak hidup saya di dunia dengan lumuran darah akibat kecelakaan.

Karena apabila kecelakaanlah yang menjadi penutup usia saya, ada dua hal yang menjadi pikiran saya.

Pertama, apabila saya meninggal ketika kecelakaan tanpa helm di kepala...tentu tak ada guna rasa takut pada pak polisi, karena seharusnya saya lebih takut pada Allah. Karena saya tidak tahu harus menjawab apa pada Allah apa alasan saya membunuh diri saya sendiri dengan berlalai-lalai menjaga amanah kehidupan yang Dia amanahkan pada saya karena enggan menggunakan helm.

Kedua, ketika terjadi kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan pendarahan pada diri saya, maka besar kemungkinan setiba di rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama...hijab yang saya kenakan akan dibuka untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memeriksa apakah ada luka fatal di kepala saya atau tidak.

Belum lagi dengan kemungkinan robek-robek di pakaian akibat kecelakaan kendaraan bermotor yang saya alami, tentu saja hal ini meningkatkan kemungkinan aurat saya akan terlihat oleh petugas kesehatan yang menangani saya maupun masyarakat lain yang kebetulan menolong saya, ataupun yang kebetulan melihat karena berada di lokasi kejadian.

Padahal lihatlah kisah seorang wanita Palestina yang ketika tidurnya tetap mengenakan hijab lengkap. Jawabannya ketika ditanyakan mengenai alasannya tersebut sungguh menggetarkan hati,

“Agar apabila roket-roket dan bom Israel menghancurkan rumah saya malam ini, saya siap menghadap Tuhan saya dengan keadaan aurat saya tetap terjaga."

Masyaa Allah...Allahu Akbar!!

Tentu saja saya tidak mempunyai kuasa untuk menentukan akhir hidup saya, tapi saya memiliki kesempatan untuk setidaknya berusaha semampu diri untuk menjaga diri saya sendiri agar tidak mengizinkan diri ini menutup usianya dengan lumuran darah yang bisa membuat saya menghadap Allah dalam keadaan tidak menjalankan perintahNYa : menutup aurat dengan baik.

Semoga Allah mengizinkan saya dan hamba-hambaNya yang lain untuk mengakhiri hidup dalam keadaan yang diridhoiNya.


@nestrinadezda

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Desember 29, 2013

One Day One Juz--pilihan untuk selalu mengingatNya

Tiga puluh sembilan hari sudah aku melalui hari dengan tilawah minimal 1 juz sehari bersama sahabat ODOJ61. Pernah rutin harian terjalani hampir selalu berjalan dengan minimal 2 juz perhari (karena mengambil lelangan Juz yang ada), bahkan pernah sampai dalam satu hari bisa terbaca 4,5 juz, masyaa Allah...menyenangkan sekali rasanya.

Semakin membaca ayat-ayatNya...semakin aku sadar betapa aku belum memaknai seluruh kalimatNya, bahkan harakat dalam membaca panjang-pendek bacaan tilawah saja masih seringkali salah, belum lagi tajwid bacaan yang entah benar-entah tidak.

Merasa terberatkan untuk menyelesaikan 1 Juz targetan sendiri pun pernah, perasaan terlampau sibuk dan letih untuk tilawah pun ada. Tapi sungguh, ketika diri telah membiasakan paksaan kebaikan untuk menunaikan minimal 1 juz dalam sehari, lama kelamaan nikmat yang akan terasa di jiwa.

Rasa penasaran akan arti ayat-ayat al-qur'an yang dibaca berbuah pada catatan dan stabilo yang dibeli khusus untuk menandai ayat-ayat tertentu di al-qur'an terjemahan untuk kemudian disalin di notes kecil yang bisa dibaca ulang kapanpun kumau. Kemudian berlanjut ke belajar tafsir ataupun diskusi dengan yang lebih ahli untuk menjawab aneka pertanyaan yang muncul selama mempelajari ayatNya. Menyenangkan!

Keraguan akan bacaan kemudian berbuah juga pada keinginan untuk lebih mempelajari lagi bacaan, panjang-pendek, tajwid, hingga irama bacaan dengan mengikuti gaya bacaan qori ternama sekelas Mishary Rasheed Al Afasy ataupun Muhammad Thaha Al Junayd. Menyenangkan!

Pernah seorang teman berkata, "Nes, salah satu kebarakahan ilmu adalah ketika kita merasa ingin belajar lagi dan lagi karena merasa ilmu yang ada masih teramat sangat kurang".

Penuh dalam harap bahwa ini adalah salah satu bukti kebarakahan program One Day One Juz. Ketika hikmah yang ada lebih dapat kita tarik dan temukan daripada rintangan kesulitan yang menghadang. Temukan (dan nikmati) hikmahnya! Karena salah satu pembeda antara hambaNya yang beriman dengan mereka yang kafir adalah kemampuan mengambil hikmah atas segala apa yang ada di muka bumi, semoga kita termasuk salah satu dari ahli hikmah itu...(':

Dan tak perlu khawatir jikalau penat kembali menyapa di tengah kesibukkan yang ada, tak perlu malu dengan teman ketika kita yang biasanya paling bersemangat berODOJ kemudian menjadi tenggelam dalam kesibukan. Pun malu, malu lah pada Allah, karena kesibukkan itu kondisi, tapi meluangkan waktu adalah pilihan. Dan pilihan itu ada di tangan kita ketika kita memutuskan untuk menomorsatukan akhirat diatas dunia dan seisinya.

Pun rasa penat kembali menggoyahkan azzam, minta. Mintalah kepada Allah untuk dimampukan, mintalah kepada Allah agar dikuatkan, mintalah kepada Allah agar tak ada bosan dan jenuh pada surat cinta terbaikNya untuk hambaNya, pada al-qur'anul kariim. Minta. Karena tiada daya dan upaya selain karena Allah yang Mengkehendaki. Mintalah kepada Allah.

Sungguh, kesibukkan hanyalah kondisi, sedangkan meluangkan waktu adalah pilihan.

"Maka Ingatlah kepadaKu. Maka akupun akan ingat kepadamu. ..." (Al Baqarah 152)

Maka pilihlah untuk selalu ingat kepadaNya...(':


@nestrinadezda

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Agustus 03, 2013

10 Pilar membangun karakter untuk membangun karakter dan kepribadian yang berakhlak mulia -catatan sharing ilmu

~Kajian dhuha pagi oleh ustadz DR. Ir Nana Rukmana, MA @Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 28 Juli 2013~

10 Pilar membangun karakter untuk membangun karakter dan kepribadian yang berakhlak mulia :

PILAR PERTAMA : SYUKUR
--> Terkadang kita sering lupa dengan nikmat yang sifatnya non materi seperti nafas dan nikmat sehat, padahal nikmat Allah ini jumlahnya tak terhingga. Bukankah aneh kalau kita tidak bersyukur?
--> Tidak perlu mengingat-ingat tragedi atau masalah yang sudah terjadi. Airmata yang sudah menetes biarkan saja, jangan berlarut-larut, tapi menataplah ke masa depan, kita harus terus optimis akan kelanjutan hidup.

Kenapa harus bersyukur?
- Karena ia adalah pengakuan bentuk kelemahan kita sebagai makhluk
- Seabagai bukti ketaatan, dengan cara mensyukuri segala ujian yang diberikan oleh Allah dengan sebuah keyakinan bahwa segala ujian itu adalah sarana untuk meningkatkan iman dan derajat kita di mata Allah.
--> Sebagai tanda syukur akan nikmat Allah yang kita peroleh, maka kita bisa mendayagunakan kenikmatan itu di jalan Allah. Dengan cara menebarkan nikmat itu ke orang lain di sekeliling kita, maka akan banyak orang yang ikut menikmati kenimatan yang kita rasakan.
Contoh : Jika kita bersyukur dengan ilmu yang kita miliki...maka tebarkan nikmat ilmu itu (:!

PILAR KEDUA : SABAR
--> Sabar adalah mentaati perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Kenapa harus sabar? Karena godaan yang ada terlampau banyak, dan biasanya yang dilarang itu yang enak-enak, maka...bersabarlah!

Dan nikmat itu bukan sebatas materi, banyak yang kaya tapi hidupnya tidak tenteram.

-Hadits mengenai syukur dan sabar-

Syukur dan sabar harus dikolaborasikan, contoh : ada seorang suami-istri yang ketampanan dan kecantikkannya sangat bertolak belakang, sang suami sangat tidak tampan sedangkan sang istri sangan cantik.

Dalam sebuah acara silahturrahim, sang suami berkata, "Ma, melihat teman-teman perempuan papa di sini tidak ada yang secantik mama, papa merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan istri secantik mama"

Sang suami pun bersyukur.

Kemudian istrinya menjawab, "Pa, melihat teman-teman papa...mama juga merasakan yang demikian, karena banyak teman-teman papa yang jauh lebih tampan dari papa. Tapi mama bersabar mendapatkan suami seperti papa"

Maka sang istri pun melengkapi syukur sang suami dengan sabar nya (:

PILAR KETIGA : TAWADHU
--> Tawadhu adalah perasaan rendah hati.
--> Merasa tidak lebih baik, lebih pintar, ataupun lebih mulia dari orang lain.
--> Mau berinteraksi dan bersilahturrahiim dengan semua orang tanpa membedakan kedudukan, jabatan, suku, ras, bahkan agama sekalipun.
--> Mau menerima kebenaran dari siapapun, termasuk dari orang yang lebih rendah kedudukannya dari dirinya.
--> Mau menghargai sekecil apapun keberhasilan yang berhasil diraih oleh siapapun, tidak lantas meremehkan keberhasilan yang sifatnya sangat remeh.

*tidak ada yang kebetulan, semua adalah ketetapan Allah*

"5 secret you have to know before you die" (5 rahasia yang harus anda ketahui sebelum meninggal dunia)--> Buku
1. Jujur pada diri sendiri.
2. Yang lalu biarkanlah berlalu.
3. Jadilah cinta.
--> Tidak akan masuk syurga seseorang sebelum ia beriman dan tidak akan beriman seseorang ketika ia belum mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri. (Al hadits)
4. Jalani hidup dengan sepenuh hati.
--> Jangan pesimis.
--> Begitupun dalam berdo'a, jangan pernah berputus asa ketika do'a yang dipinta belum dikabulkan.
5. Berikan lebih banyak dari yang anda dapatkan.
--> Gunakan ilmu sedekah, karena balasan Allah itu berlipat ganda!

Sumber kebahagiaan :
¤ Istri atau suami.
--> Tugas mengerjakan pekerjaan rumah adalah tugasnya suami, termasuk mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Hanya saja tugas seorang istri itu adalah taat kepada suami, termasuk taat dan patuh ketika diminta suami untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
--> Suami akan berderajat tinggi di mata Allah ketika ia lembut kepada istri
¤ Anak.
--> Ketika kita memiliki anak yang maju, kaya dan terhormat, tapi kata-katanya menyakitkan orangtua...tentu kita tidak akan bahagia, bukan?
--> Karenanya didiklah anak sejak kecil agar kelak bisa menjadi insan yang sholeh dan sholeha dan bisa berbakti kepada kedua orangtua.
¤ Orangtua.
¤ Para sahabat.
--> Materi atau harta bukanlah sumber kebahagiaan, ada sebuah kisah nyata mengenai seorang laki-laki yang berjuang mengejar kekayaan semasa muda, namun ternyata pada akhirnya tidak ada seorangpun yang menjenguknya ketika tua di panti jompo. Jelas, ia tidak memperoleh kebahagiaan dengan harta melimpah miliknya.
--> Kesuksesanmu bukan tabunganmu, tapi dari banyaknya teman yang kamu punya untuk membuat hidupmu jadi. lebih baik.
***

(Kajian ini hanya sempat membahas 3 dari 10 pilar yang ada)
TAWAKAL--> PUNCAK DARI KESEPULUH PILAR.
-- > Insya Allah dengannya kita akan menjadi orang yang bahagia dunia dan akhirat.
==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.com

[+/-] Selengkapnya...

Kajian dhuha 21 Juli 2013-catatan sharing ilmu

~Catatan sharing ilmu kajian dhuha pagi oleh Ustadz Subhan Bawazir @Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, Ahad 21 Juli 2013~


Ada nya haus dan lapar saat Ramadhan justru harusnya membuat kita lebih bisa merasakan manis nya iman

¤ Hanya di bulan Ramadhan ada lailatul qadr
--> kami turunkan qur'an pada lailatul qadr, pada malam-malam ganjil, pada sepuluh hari terakhir (tidak disebutkan hari keberapa, maka siapa yang menyebutkan bahwa lailatul qadr adalah malam ke-17 atau ke-27 atau lain sebagainya maka ia mendahului ketetapan Allah)
--> pada malam ini diturunkan malaikat dan jibril, sekarang jibril sudah tidak turun lagi karena sudah tidak ada wahyu lagi, yang adalah malaikat rahmah
--> jibril berkata bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah yang ada lukisan nya, inilah salah satu hikmah kenapa itikaf itu di masjid

Salah satu cara orang gak mau berbuat kebaikan bisa jadi karena kita, padahal sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling beriman

Jagalah oleh kalian 10 hari terakhir, jika kalian lemah paling tidak jangan tinggalkan malam ke-27 (bukan berarti lailatul qadr ada di malam ke-27 tapi itu sinyal di akhir kemuliaannya)

Barangsiapa yang hendak mencarinya maka carilah pada 7 hari terakhir

Bagaimana mendapatkannya? Apakah harus itikaf?
--> Tidak, itikaf itu ibadahnya orang-orang sholeh, tapi itu sunnah, dan bukan wajib. Kalau wajib kasihan yang perempuan, jangan sampai yang perempuan meninggalkan kewajibannya di rumah hanya karena mengejar itikaf di mesjid
--> Yang gak mampu cari semampunya, kalau siang gak mampu, malam jangan sampai enggak

lailatul qadr itu paketnya Ramadhan,

Kebanyakan orang melakukan itikaf tapi tidak tidak melakukan itikaf, seharusnya itikaf dilakukan dengan melakukan tafakur

Bacaan ketika bertemu dengan lailatul qadr, bacalah "allaahumma innaka afuwwun tuhibbul afuwa faa'fuanni", artinya : "Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku!”

Apa ciri lailatul qadr?
- Pagi harinya dari lailatul qadr, matahari terbit gak bersinar (mendung), seperti waktu dhuha, cerah, tidak hujan, tidak panas, tidak dingin, terbit seperti kemerahan (biasanya orang yang baik agamanya akan merasakan suasananya)

Hikmah itikaf :
- kebiasaan orang sholeh, karena tau puncaknya Ramadhan maka mereka akan takut kepada dunia sehingga butuh hijrah dan taqqarub kepada Allah

Syarat :
- di mesjid (bukan di mihrab, bukan pula di rumah-rumah. Walaupun ada perbedaan pada beberapa ulama dimana ada ulama yang mengatakan bahwa tidak ada itikaf kecuali di masjidil haram, nabawi, dan aqsa. Ulama lainnya menyamakan seluruh masjid asal tidak merubah fungsi mesjid)

Hal yang dilarang dan diperbolehkan :
- Boleh keluar apabila ada sebuah kewajiban lain
- Bercampur dengan istri (2: 187)
- Boleh mendirikan tenda di bagian belakang mesjid (untuk berlindung dari panas matahari--> kalau halaman mesjid nya luas)
- Tidur sebentar setelah zuhur
- Boleh melakukan kegiatan lain seperti ta'jil dan ifthor asal tidak mengganggu waktu sholat (jangan sampai waktu sholat jadi diundur karena ta'jil dan ifthor)
- Perempuan boleh itikaf selama tidak melanggar halangan dan tidak sedang haid, kalau haid dilarang itikaf

Hikmah :
- ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati (2 kebahagiaan, pertama ketika menjelang berbuka, kedua ketika berjumpa dengan Allah karena puasanya)
--> salah satu waktu yang mustajab untuk berdo'a itu menjelang berbuka, saat matahari mulai terbenam, sekitar 10-15 menit sebelum adzan maghrib
- akan diberikan kecukupan dan solusi (mahraj) oleh Allah dalam semua segi kehidupan (yang puasa lebih tenang, yang kegemukan lebih ringan, yang susah lebih senang karena banyak yang gak makan seperti dirinya)
- terlindungi, karena puasa itu protektor
- mendapatkan keberkahan, diisalawati hanya dengan sahur
-----------

Pertanyaan-pertanyaan :

¤ Bagaimana jika memajang foto (bukan lukisan) di rumah?
--> Foto dan lukisan beda, lukisan dibuat (maka Allah melaknat pembuatnya)
--> Foto itu dicetak jadi tergantung niatnya, kalau foto ktp kan memang dibutuhkan

Patung bagaimana? Sekarang kan jenis nya banyak seperti boneka2
--> Lebih baik dihindari karena ada banyak jin di antara boneka, hati2 juga pada junkfood dan makanan2 anak yang bergambar

¤ Bagaimana makan yang baik?
--> Makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan
--> hanya sekali makan pun kita akan tetap hidup kok
--> kalau hidup untuk makan, maka kita akan capek, karena mengunyah terus, dan tidak ada puasnya

¤ Tidur saat puasa, bagaimana?
--> alasannya karena apa dulu? Kalau karena sakit supaya puasanya gak batal silahkan, yang gak boleh itu...kalau tidur nya buat nunggu buka

¤ Bagaimana cara bayar puasa yang dulu dibatalkan karena gak kuat? Apakah boleh diganti dengan fidyah saja?
--> Tidak, puasa dibayar dengan puasa

¤ Apakah ada tuntunan merayakan nuzulul quran?
--> Tanya pada yang melakukan, ada gak contohnya? Karena apabila itu baik maka rasulullah akan mengajarkannya (kalau gak punya dalil nya jangan berdebat, itu nama nya debat kusir)


¤ Zakat fitrah apakah boleh diterima oleh amil?
--> Zakat fitrah berbeda dengan zakat biasa yang penerima nya ada 8 golongan, zakat fitrah khusus untuk orang miskin yang tidak mampu

¤ Kapann masuk dan keluar ketika itikaf?
--> Ketika 10 hari terakhir, keluar itikaf ketika hari terbitnya fajar pada malam ke-29, ada yang bilang ketika selesai malam itikaf

¤ Apakah untuk menjmput lailatul qadr harus dengan itikaf?
--> Tidak, bisa duduk, tidur. Hanya saja itikaf itu kebiasaan orang sholeh dan tempatnya di mesjid

¤ Apa boleh habis tarawih, witir, tahajud lagi?
--> Rasulullah tidak mencontohkan, biasanya Rasulullah habis tarawih tidur, kecuali kalau menganggap tarawih adalah tahajjud yang bertahap dan dipisah2 rakaatnya, boleh saja, hanya saja Rasulullah sudah mengajarkan hal yang mudah untuk kita lakukan

¤ Menggunakan gigi palsu, softlense, operasi plastik bagaimana?
--> boleh, tergantung niatnya

¤ Itikaf dalam keadaan haid tidak boleh, karena tidak boleh berlama-lama di mesjid, kecuali sekedar lewat

¤ Tidak itikaf tidak membuat puasa kita menjadi tidak afdhol, karena itikaf itu sunnah, yang membuat Allah mencintai kita (:
==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.com

[+/-] Selengkapnya...

Iman dan Takwa-catatan sharing ilmu

~Catatan sharing ilmu kajian dhuha pagi. Ahad, 14 Juli 2013 @ mesjid Agung Al-Azhar Jakarta (iman dan takwa)~
Rumus takwa = iman + amal sholeh
>> albaqarah 2-5
Amal sholeh itu bukti keimanan
Allah menyebut "hai orang2 yang beriman" dalam al-qur'an sebanyak 89 kali
Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat (an nisa 51)
Brbuat baik kepada tetangga termasuk bagian dari amal sholeh yang menandakan keimanan seseorang (an nisa 36)
¤ Iman itu pemisah antara penghuni syurga dan neraka
¤ Amal menentukan kedudukan dan derajat kita di mata Allah
¤ Orang beriman tidak berbuat syirik tapi ada dosa amalnya tidak terhapus semua, maka selama ia tidak membatalkan imannya...dia akan masuk neraka dulu tapi kemudian akan dibalas dengan syurga (tapi tentu saja di tingkatan syurga yang berbeda dengan mereka yang memiliki banyak amal baik, ibaratnya satu perumahan di Firdaus estate tapi beda komplek dan fasilitas)>> ini yang dimaksud dengan amal menentukan kedudukan, derajat, dan tingkatan kita dihadapan Allah
¤ Orang kafir berbuat baik tidak akan dihitung amal nya, jadi dia akan kekal di dalam neraka dan tidak akan dibalas dengan syurga karena nilai amalannya tidak ada, nol besar
Lihat Rasulullah! Kaki nya sampai bengkak krena terlampau lama berdiri ketika sholat, sholatnya Rasulullah itu dalam sehari tidak kurang dari 40 rakaat (17 wajib, 12 rawatib, 11 qiyam al lail), dan itu bahkan di luar Ramadhan!
>> Bandingkan dengan diri kita...kalau kita gimana? Ramadhan aja gak kayak gitu, apalagi di luar Ramadhan )':??
Sholat di mesjid itu sangat2 dianjurkan oleh laki2 muslim (bahkan abdullah ibn ummi maktum pernah ditegur Rasulullah karena minta izin untuk sholat di rumah)
>> Tapi lihatlah kita sekarang! Di saat Ramadhan sengaja maghrib atau bahkan isya di rumah dan kemudian baru tarawih di mesjid, ini adalah sebuah ironi...karena tarawih bahkan bukan sholat wajib dan tidak ada dorongannya dari Rasulullah mengenai keutamaan sholat sunnah di mesjid.
>> Dan itu bahkan di saat Ramadhan, di luar Ramadhan bagaimana )':?
=========================================
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu" (an nahl 99)
"Dan bertakwalah kamu kepada Allah kapan dan dimana saja" (al hadits)

==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.com

[+/-] Selengkapnya...

5 kiat menghadapi persoalan hidup-catatan sharing ilmu

Catatan sharing ilmu, sabtu 13 juli 2013

~5 kiat menghadapi persoalan hidup : ~
1. Siap pada berbagai kemungkinan (meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar)
>> al baqarah 216
¤ Berprasangka baik pada Allah (Bukankah Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya?)
¤ Ingat teori tukang parkir, siap menerima sebanyak2nya dan siap kehilangan sebanyak2nya
2. Ridho pada apa yang terjadi
¤ Ingat teori menanak nasi, kalau sudah terlanjur lembek dan jadi bubur kan gak mungkin diubah...ridho dan terima saja. "Nasi sudah jadi bubur"? >> Maka...jadikan ia bubur spesial ;D!!
¤ (Hr tirmidzi) "Barangsiapa yang ridha kepada Allah maka Allah akan ridha kepadanya"
3. Jangan suka mempersulit diri
¤ Ingat al baqarah 286, masalah yang kita terima gak mungkin melebihi kesanggupan kita kok, percaya deh, janji Allah loh itu^^. Sedangkan janji Allah itu jauh lebih pasti dari matahari yang akan terbit esok hari, masya Allah (: ♡
4. Evaluasi diri
>> masalah yang ada bisa jadi karena diri sendiri, bukan (:?
¤ Teringat ucapan sayyidina Ali bin Abi Thalib "Tiadalah sebuah musibah turun melainkan karena dosa, dan tiadalah ia bisa diangkat melainkan dengan taubat", jadi...yuk evaluasi diri (:!
5. Jadikan Allah, dan hanya Allah, sebagai satu-satunya penolong

==============
~Nestri~
Facebook : Nestri Nadezda
Twitter : @nestrinadezda
Website : http://nesutori.blogspot.comq

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, Mei 01, 2013

Untuk mereka yang akan segera tiba di bumi Allah

Yuk ciptakan sarana yang mendukung ajaran islam dalam tayangan pendidikan atau media2 lain!


Minimal kalau bukan kita yang pegang...ajarkan anak-anak kita nanti untuk mengkreatifkannya.

Kalau anak kita suka program...arahkan untuk membuat games-games islami, daripada games angrybird kan? Kasian games nya marah-marah terus, padahal islam kan mengajarkan kesabaran^^.

Kalau anak kita suka broadcasting...arahkan untuk membuat tayangan-tayangan islami, musnahkan sinetron minim manfaat dari muka bumi!

Kalau anak kita suka nyanyi...arahkan supaya melantunkan kalimat-kalimat kebaikan, kalahkan lagu-lagu gegalauan itu!

Kalau anak kita pandai bicara...arahkan supaya mereka jadi orator ulung yang siap menyuarakan suara-suara kebaikan di pelosok bumi.

Kalau anak kita suka menulis...arahkan agar tiap tulisan nya mengandung keindahan nilai-nilai islam, yang kelak akan terabadikan dalam sejarah perjuangan dakwah islamiah tercinta.

Kalau anak kita suka memimpin...arahkan ia jadi pemegang posisi dalam pemerintahan, agar parlemen kita kaya akan mereka yang lebih cinta pada Allah dan RasulNya daripada cinta pada harta dan jabatan, apalagi cuma demi mobil dinas yang mewah atau pun toilet yang cantik.


Yuk, yuk (: !!

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Maret 16, 2013

Al bashirah, memandang dengan hati. Catatan kajian

"Al bashirah: memandang dengan hati"

Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta
16 Maret 2013
ustadz bachtiar nasir


-pembukaan-
qs. az zumar 22

beruntunglah kita yang tidak melihat segala sesuatu hanya dengan pandangan mata (fisik) tapi juga dengan pandangan hati

qs. yusuf 108-111

salah satu gelar dajjal adalah al masih, kenapa? karena dajjal terhapus mata kanan nya, padahal mata kanan adalah simbol kebenaran, mata yang melihat yang baik, mata keimanan.
------------------------------------------------

al bashira, adalah melihat dengan hati, merupakan tahapan awal menurut ibnu qayyim bagi mereka yang sudah paham iyyaakana'budu wa iyyaa kanasta'iim (hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan), untuk menuju pemaknaan dari kalimat itu

Pada kenyataannya, melihat, bukan hanya karena mata, tapi juga dipengaruhi dengan keberadaan cahaya. Studi kasus: sesuatu yang haram tetap disentuh dan dilakukan padahal mata berfungsi baik dan cahaya pun ada, kenapa? --> Karena cahaya dalam hatinya redup

al bashira, adalah cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, syurga dan neraka, serta meyakini apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para wali dan musuhnya. Orang yang berada di persinggahan bashirah akan selamat dari kebingungan


-Melihat dengan hati-

Di dalam bashira ada kekuatan penglihatan, kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman.

Orang2 yang melihat berdasarkan bashira akan berpegang pada aqidah dan berhujjah

Ia akan jadi orang benar dan jujur

Ketika mata didukung dengan bashirah, ia akan menjangkau tangan yang tidak pendek dalam bentuk usaha dan upaya


-Melihat, memandang, meyakini. Apa bedanya?-

Contoh, selalu ribut menjelang ramadhan dalam menentukan awal ramadhan menggunakan cara melihat hilal (awal bulan), karena ada yang bilang melihat itu dengan mata, sedangkan muhammadiyah melihat tidak hanya dengan mata tapi juga dengan tekhnologi, dengan mata pikiran (itulah yang disebut dengan memandang), karena di atas 2 derajat bulan itu sudah di atas ufuk walaupun tidak terlihat oleh mata telanjang


Mata biologis atau mata fisik seringkali membutakan mata hati, contoh: ibu2 yang belanja ke mall, sebenarnya mereka tidak butuh, tapi dengan 'melihat', semua jadi terasa penting untuk dibeli

Jangan tergoda dengan hal2 yang kilat, yang boleh langsung ditaati ketika didengar itu hanya Allah dan rasulNya, bukan manusia!

Melihat dengan hati adalah melihat dengan kekuatan pemahaman, kecerdasan, dan analisis ilmiah yang valid, menggunakan pengalaman empiris yang sudah terbukti

Bashira = cahaya, cahaya di dalam hati


-Melihat janji dan ancaman-

Kasus: Ketika kita dihadapkan dengan 2 hal: pertama adalah hal yang masuk akal, kedua adalah hal yang dijanjikan Allah tapi nampak tidak masuk akal. Yang mana yang biasa dipilih orang? Dan yang mana yang akan kita ambil sebagai pilihan?

Berpeganglah pada apa yang dijanjikan pada Allah, karena ketika apa yang menurut kita tidak masuk akal...sebenarnya otak kita yang belum sampai! (ingat "sami'na wa atho'na", kami dengar maka kami taat!)

Biasanya orang merubah dari luar, dari performance. Padahal dari sudut pandang bashirah, seharusnya dari sisi dalam dulu yang diperhatikan.

tanya: bagaimana caranya?

jawab: BEST OF THE BEST IKHTIAR adalah...Tanyakan dalam diri:
Satu: bagaimana hubungan kita dengan Tuhan?
Dua: bagaimana sholat kita?

Cukup 2 itu, itulah sebenar2 penghantar perubahan
(bahasa aku mah...perbaiki dulu sinyal dengan langit, karena dengannya maka sinyal ke seluruh penjuru bumi sama sekali bukan masalah )

Harusnya kita bersyukur tiada tara ketika kita mendapatkan kesempatan untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan pada uang yang kita dapatkan, sebesar apapun jumlahnya yang kita terima. Kenyataannya?


Perhatikan lagi kehalalan uang kita: Mukena yang dipakai sholat, peci, sejadah, halal kah?

Perhatikan lagi bacaan sholat kita: Ketika kita berkata "inna sholati wanusuki wamahyahya wamamati lillahirobbil'alamin, sesungguhnya sholatku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah" dalam bacaan sholat, kita beneran bermaksud begitu atau hanya sekedar dibaca saja tanpa sadar arti dari yang kita baca?
------------------------------------------------

-Rahasia jantung/qolbu, berdasarkan lebih dari 70 referensi ilmiah-

Jantung, dianggap tak lebih dari hanya alat pompa, tapi mulai abad 21 ada fenomena aneh dari proses pencangkokan jantung, ternyata jantung mempengaruhi psikologi pasien yang jantungnya dicangkok. Terjadi perubahan pada apa yang ia cintai dan benci, bahkan hingga perubahan pada keimanan.

Jantung menemani otak, usia 21 hari dalam masa embrio sudah mulai bekerja. Saat usia beranjak dewasa, 70ribu liter darah setiap hari dipompa ke seluruh tubuh, bayangkan energinya!

Jantung dapat mengingat, merasa, dan mengirim perintah ke seluruh organ tubuh. Berisi jaringan neuron yang rumit, mengeluarkan hormon yang mengendalikan tubuh. Dapat mengendalikan emosi dalam setiap detakannya dengan mengirim sinyal ke otak. 

Jantung mengontrol seluruh badan tidak hanya otak

Prof Gary Schwartz, dokter jiwa di arizona melakukan penelitian kepada 300 orang pasien yang melakukan cangkok jantung, dan terdapat perubahan2 pada psikologi pasien sebelum dan sesudah menerima cangkok jantung

Jantung memiliki fungsi memahami, sebagaimana dipastikan dalam Al qur'an, "mereka punya qolbu (jantung), tapi tidak digunakan untuk memahami" --> al araf (7: 179)

Fungsi al bashirah
- melihat apa yang terjadi pada akhirat
- menyaksikan betapa hina dan rendahnya dunia (sebagaimana sabda rasulullah, dunia bahkan lebih hina dari bangkai kambing! jadi tiada guna berpegang teguh pada dunia)
- memastikan bahwa akhirat jauh lebih baik dan lebih memuaskan serta kekal abadi

Proses al bashirah
cahaya yang disusupkan ke dalam hati, dengannya kebenaran risalah para Nabi & Rasul begitu terang

Tingkatan al bashirah
1. Asma wa sifat (asmaul husna)
2. Perintah dan larangan
3. Janji dan ancaman 

Tanda terpenuhinya tingkatan dari al bashira:
1. Mengenal sifat2 Allah

2. Membebaskan hati dari penentangan! Akibat melakukan ta'wil, taqlid atau 
mengikuti hawa nafsu, sehingga hati bersih dari syubhat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah

3. Mempersaksikan pengendalian Allah terhadap apapun yang dilakukan setiap manusia, bahwa segala sesuatu yang terjadi baik di dunia maupun di akhirat, dibawah kendali Allah
--> Meragukan janji Allah, berarti meragukan keberadaan Allah

Output /hasil akhir dari kemampuan melihat dengan hati (al bashira):
- bangkitkan diri, bebaskan diri dari keragu2an
- singkirkan rintangan, hadapi tantangan
- cari ilmu pengetahuan dan dengarkan nasihat orang bijak

Pasca al bashira:
bulatkan tekad dan kuatkan tawakkal (ali imran 159)




Sekian, semoga bermanfaat ♡


[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Januari 01, 2013

Mencapai target karena Allah

2013 sudah tiba, 2012 telah tergantikan, orang-orang biasanya akan ramai membicarakan resolusi tahun baru, pembuatan target tahunan sekaligus merombak ulang target di tahun sebelumnya yang belum tercapai. Apa memang harus seperti itu?
Rencana, atau planning dalam beraktivitas sangat penting maknanya. Ia adalah cara untuk mencapai tujuan hidup bagi seorang muslim yaitu beribadah. Seorang muslim sejati akan bertindak didasarkan pada kecintaannya pada Sang Pencipta agar apa yang ia lakukan mendapatkan ridhoNya, agar apa yang ia lakukan bernilai ibadah.
Dan karena berakhirnya kontrak di dunia bagi  tiap manusia adalah misteri, maka sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita menenggelamkan diri dalam ibadah di tiap detik yang tersisa. Dan merencanakan akan dihabiskan dengan cara apa sisa waktu yang ada itu adalah sebuah kecerdasan spiritual tersendiri dalam mencari ridhoNya.
Merencanakan sering dikaitkan dengan membuat target. Sebagaimana kata seorang bijak, “Hati-hatilah dengan pandangan orang beriman. Karena ada pandangan Allah dalam tiap tatapannya.”
Lantas, seperti apa pandangan orang beriman itu? “Pandangan orang beriman adalah pandangan yang jauh ke depan.".
Karena itulah, seorang muslim yang cerdas adalah muslim yang selalu berpandangan jauh ke depan, yang merencanakan masa depannya dengan perencanaan terbaik.

Manusia tempatnya lupa, sehingga rencana atau target hidup yang dituliskan dalam lembaran kertas akan sangat bermanfaat untuk mengingatkan diri agar dapat tetap bertindak dalam koridor ibadah, dalam naungan islam. Jadi sebenarnya membuat target pun tak bisa sembarangan, seandainya apa yang ingin dicapai itu karena Allah dan memiliki nilai kebermanfaatan, maka tuliskan. Seandainya tidak, jangan.
                “Karena Allah” dan “memiliki nilai kebermanfaatan” memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lainnya. Karena kebermanfaatan sesungguhnya adalah kebermanfaatan yang dilakukan karena Allah, dan sesuatu yang bermanfaat akan bertahan sebagai amalan yang kekal nilainya. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah dalam surat Ar Rad ayat 17, Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi.

Mencapai target karena Allah, caranya?
1. Buat terlebih dahulu targetnya, tuliskan dalam bentuk nomor-nomor atau poin-poin.
2. Tuliskan target yang ingin dicapai yang pencapaiannya tidak akan menjauhkan diri dari Allah tapi justru mendekatkan diri padaNya. (Misalnya, ketika muncul ide untuk menargetkan memiliki toko pribadi, jangan lupa targetkan pula pengalokasian dana CSR dari toko tersebut, dialokasikan ke anak-anak yatim misalnya.)
3. Rincikan targetnya, kalau perlu tidak hanya target tahunan tapi juga target bulanan, mingguan, atau bahkan harian.
4. Tuliskan target atau rencana dengan serinci mungkin, kalau perlu tuliskan tempat dan tanggal ingin dicapainya target.
5. Tuliskan target atau rencana terkecil sekalipun, bahkan sekedar rencana untuk membalas sms atau email dari teman (terutama untuk target harian)
6. Tempelkan target tahunan di dinding kamar yang sering dilihat mata, di atas meja belajar atau meja kerja misalnya.
7. Buat kopian target tahunan di buku kecil yang bisa dibawa kemana-mana, tuliskan juga target bulanan, mingguan, dan harian di buku tersebut.
8. Luangkan waktu setiap harinya (lebih baik di sepertiga malam terakhir) untuk memuhasabahi diri sekaligus membaca kembali setiap target yang dibuat.
9. Evaluasi target. Seandainya target yang ingin dilakukan tidak terpenuhi, lakukan evaluasi untuk mengetahui apa yang salah. Seandainya masih mungkin dilakukan, tuliskan ulang target yang sama dengan waktu pencapaian yang diundur. Seandainya terjadi perubahan kecenderungan minat atau peluang, hapus target yang lama dan buat target yang baru.
10. Selalu berprasangka baik pada Allah. Lakukan yang terbaik untuk dapat mencapai target, namun tetap mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, yaitu tidak tercapainya target yang telah direncanakan.

Karena ridho Allah dalam tiap tindakan yang kita jalani sangat penting, maka melibatkan Allah harus selalu dilakukan agar kita bisa mendapatkan keberkahan untuk target yang kita rencanakan serta untuk pencapaiannya kelak. Dan satu hal yang paling penting untuk mengawali itu semua, sertakan nama Allah dalam tiap prosesnya! Bismillahirrahmanirrahiim.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, November 16, 2012

Manajemen masalah part 2 of 3: Bersihkan hati, senandungkan asmaNya!

Ketika masalah tiba, tak jarang kita mengeluarkannya dalam bentuk keluhan. Bahkan tak jarang kita membela diri dan merasa tidak mengeluh, dengan alasan hanya sekedar bercerita atau berbagi kisah. Padahal Rasulullah mendidik kita untuk tidak mengeluh, sebagaimana sabdanya, “Ada tiga pusaka kebajikan, merahasiakan musibah, merahasiakan sedekah, dan merahasiakan keluhan”. Kenapa? Karena merahasiakan keluhan akan mendatangkan kebaikan, kebaikan bagi kita, kebaikan bagi orang sekitar, insya Allah. Jadi jangan mengeluhkan masalah kita, apapun masalahnya, bagaimanapun bentuk keluhannya.

Tidak boleh dikeluhkan tapi harus diselesaikan, tapi bagaimanaaa?

Padahal masalah yang menimpa sangat berat dirasa, hingga pikiran pun terasa keruh hingga tak jarang menutupi jalan keluar, seolah memang jalan keluar dari masalah yang dihadapi memang tak ada, dan takkan pernah ada. Lantas bagaimana?

Ingat kalau masalah yang Allah berikan pasti dalam batas kesanggupan kita untuk menyelesaikannya, kalau terasa susah mah wajar, karena perjuangan menuju syurga memang tidak mungkin semudah terjerumus ke neraka toh? Tapi  jangan lantas dengan “susahnya” itu kita justru melarikan diri dari masalah, karena jalan keluarnya ada, Allah yang menjamin bahwa tidak akan seorang hamba dibebani masalah di luar kesanggupannya.  Sedangkan janji Allah itu pasti, jauh lebih pasti dari matahari yang akan terbit esok hari.

Karenanya, ketika pikiran terkeruhkan oleh masalah, bersihkan keruhnya! Jernihkan hati. Tenangkan jiwa. Caranya? Dalam surat cinta Allah di surat Ar Rad ayat 28 Allah telah mengajarkan bagaimana cara kita untuk menenangkan segala kemelut yang terasa: Dengan mengingat Allah!

“...ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Jadi, cerdaslah kita yang ketika masalah datang kita bersyukur dengan mengingat bahwa masalah adalah bukti dari cintaNya, maka ucapkan : Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Jadi, cerdaslah kita yang ketika masalah datang kita senantiasa mengingat dengan menyenandungkan asmaNya untuk membersihkan jiwa, menjauhi diri dari kecenderungan untuk mengeluh.


Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Quddus, Ya salaam, Ya Mukmin, Ya Muhaimin, Ya Aziz, Ya Jabbar, Ya Mutakabbir, Ya Khaaliq, Ya Baari, Yaa Musawwir, Ya Ghaffar, Ya Qahhar, Ya Wahhab, Ya Razzaq, Ya Fattah, Yaa ‘Alim, Ya Qaabidh, Yaa Baasith, Yaa Khaafidh, Yaa Rafi’, teruuuuus hingga tersebut kesembilan puluh sembilan nama indahNya. Ulangi lagi, lagi, dan lagi. Ulangi tiap hati terasa gundah, karena dengan mengingat Allah dengan keMahaKuasaanNya maka hati yang bergemuruh sekalipun akan tenang dengan sebenar-benarnya ketenangan, insya Allah.

Dan ketika hati telah terlepas dari kemelutnya, pikiran pun akan terlepas dari keruhnya. Sehingga pintu jalan keluar dari masalah pun akan berbaik hati memperlihatkan rupanya dari jalan yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Try and prove it by yourself (:!
Karena teori selamanya hanya teori sampai ada yang mempraktekkannya, maka...yuk^^!





[+/-] Selengkapnya...

Rabu, November 07, 2012

Manajemen masalah. Part 1 of 3: Berat, tapi manis luar biasa!

Beberapa bulan ke belakang saya mengalami hal-hal luar biasa. Sekumpulan masalah datang silih berganti, menyapa diri yang seringkali terlalaikan, menegur hati yang seringkali mengikrarkan kebaikan yang hampa.

Dan yang paling berkesan adalah betapa masalah-masalah yang muncul datang seolah ingin membuktikan teori-teori yang seringkali saya jelaskan pada orang lain, pada tulisan, teman, ataupun adik-adik angkatan. Kakak saya pernah mengomentari, “Adek tuh udah tau teorinya kalau dicubit itu sakit, nah sekarang adek lagi ngerasain sedihnya, lagi ngerasain sakitnya”. Subhanallah, benar sekali.

Teorinya, Allah tidak akan membebani seorang hamba di luar kesanggupannya, begitu firman Allah dalam surat cintaNya, alQur’anul Kariim. Prakteknya, banyak orang berguguran ketika berhadapan dengan cobaan, melarikan diri untuk melupakan. Bukan karena tidak sanggup menghadapi ujian yang datang, tapi MERASA tidak sanggup. Kita kah?

Teorinya, salah satu alasan kedatangan musibah adalah karena dosa, dan tidaklah akan hilang kesalahannya jikalau tak disertai dengan taubat, begitu ucap sayyidina Ali ibn Abu Thalib. Prakteknya, seringkali kita menyalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpa diri: nilai jelek karena dosennya pelit dan banyak maunya, handphone hilang karena pencuri menyebalkan yang mengintai diri, absen dicoret karena dosen hadir terlampau pagi, tugas tertinggal karena ada jarkom kuliah mendadak untuk datang lebih cepat, gagal ujian karena pertanyaan lontaran dosen terlampau aneh dan detail, janji tak tertepati karena macet menghadang tanpa ampun, materi tak bisa dimengerti karena penjelasan dosen berputar-putar tanpa arti, kepribadian rapuh karena didikan lingkungan yang tak benar, dan lain sebagainya.

Jarang, atau mungkin tak pernah, memikirkan kalau sumber masalahnya adalah diri sendiri, tak terlintas dalam benak bahwa kesalahan terbesar adalah khilaf diri terhadap beberapa hal di masa lampau. Nampaknya diri terlalu asik menyalahkan orang lain sehingga tanpa sadar merasa dirilah yang paling benar dan paling layak mendapat segala jenis kebaikan. Sombong. Loh? Kenapa sombong? Bukankah akar kesombongan ada dua? Pertama, ketika diri merasa lebih baik dari orang lain. Kedua, ketika diri merendahkan orang lain, baik sadar maupun tidak. Padahal sesungguhnya, Allah membenci orang-orang yang sombong dan membanggakan diri! Naudzubillah. Tsumma Naudzubillah.

Teorinya, Apabila Allah menghendaki kebajikan pada seorang hamba, maka akan diperlihatkanNya kekurangan hamba tersebut, begitu sabda Rasulullah Muhammad ibn Abdullah yang diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailami. Prakteknya, ketika diri merasa kurang, akanlah kita membandingkan diri dengan mereka yang nampak “lebih” segala-galanya, merasa diri tak berguna. Jauh dari syukur. Padahal bukankah seharusnya tak ada rasa lain selain syukur yang menggema di hati? Bukankah ketika kita mampu melihat kesalahan diri maka terdapat kehendak Allah akan kebaikan atas diri kita? Subhanallah walhamdulillah!

Namun mengapa dengan semua teori yang ada semua masih terasa berat? Yeee....syurga itu indahnya kebangetan guys! Semena-mena banget mau masuk syurga tapi usaha melawan beratnya ujian aja gak mau kan?



Di kala seburuk-buruk ujian adalah bukti cintaNya, maka nikmat Tuhan yang mana yang perlu kudustakan??

Sungguh Allah, skenarioNya begitu indah, sentuhanNya untuk mengajarkan hambaNya begitu dashyat. Masya Allah. Masya Allah.

Segala puji bagi Allah, bahagia rasanya ditempa untuk menerapkan teori yang diucap diri. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Semoga disayangNya.

Dan, manisnya kebahagiaan pun akan terasa dalam seringnya helaan nafas karena ujianNya. Berat. Tapi manis luar biasa (:!

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Oktober 21, 2012

fight, flight, frozen

Ada tiga jenis kemungkinan seseorang ketika sedang berhadapan dengan masalah: fight, flight, frozen (hadapi, melarikan diri, terperangkap). Rata-rata dari kita pernah mengalami semuanya, mari kita bahas satu persatu.

Pertama, flight, atau melarikan diri. Salahkah? Bukankah tak semua orang kuat dan sanggup menghadapi masalah yang ada? Rasulullâh Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan:
“Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan, dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.”

Kecewa adalah emosi yang muncul ketika kita dihadapkan pada masalah yang tidak sesuai dengan bayangan dan harapan kita. Maka jangan cepat dienyahkan, jangan melarikan diri. Karena Allah menginginkan kita untuk mengikis rasa kecewa yang ada dengan perlahan, layaknya gunungan pasir yang terhembus oleh semilir angin. Dan juga karena dengannya kita akan semakin terkuatkan, semakin bersyukur atas skenario Allah yang ada.

Kedua, frozen atau terperangkap. Pernah mendengar kesurupan? Atau kepribadian ganda? Itu adalah contoh nyata dari beberapa kasus yang bisa terjadi ketika seseorang terperangkap dengan masalah-masalah dan ketakutan yang ada. Ia terdiam, dan melarikan diri (flight) ke dalam dirinya sendiri, bertukar tempat dengan sifat-sifat lain yang selama ini terpendam di pelosok ingatan.

Maka muncul lah kepribadian lain (yang sebenarnya dibentuk oleh ingatan dirinya sendiri), atau muncul dalam bentuk kejang seperti kesurupan (Karena reaksi seperti itulah yang diingatnya. Sehingga tak jarang terjadi kesurupan massal, karena ketika 1 orang kesurupan maka orang yang melihat akan merasakan ketakutan yang amat sangat sehingga ingatan akan reaksi kesurupan temannya itulah yang muncul ketika bertukar dengan kesadarannya).

Atau contoh tersering dari frozen adalah hendaya (henti daya), sering disebut juga dengan disabilitas, atau sederhananya, kehilangan minat. Hilang minatnya untuk bicara, hilang minatnya untuk berinteraksi, hilang minatnya untuk makan, hilang minatnya untuk beraktivitas. Sehingga tak jarang ia hanya berdiam diri di kamar, tak mau dan tak bisa melakukan apapun.

Pernah, di perjalanan kehidupan koas saya, saya membantu mengabsenkan teman yang terlambat hadir. Segala puji bagi Allah yang dengannya menegur saya ketika tindakan saya itu ketahuan sehingga saya dan teman saya itu pun dipanggil menghadap untuk mempertanggungjawabkan tindakan kami. Kemungkinan terburuk saat itu adalah tidak diluluskan dari bagian itu. Saya siap dengan sesiap-siapnya kesiapan, insya Allah, tapi ternyata alhamdulillah kami hanya dinasehati dan diberikan tugas sebagai gantinya. 

Beberapa waktu berselang, teman saya tadi mengajak berbincang tentang kejadian waktu itu selepas ada orang yang menegurnya karena mempersulit saya saat itu. "Aku kan udah minta maaf sama kamu, Nes. Dan kamu juga bilang kalau kamu gak papa, kamu malah bilang makasih sama aku. Aku mikirnya kalau kamu kan gak pernah bermasalah sama absen, kamu juga deket sama Allah, gak mungkin lah kamu kena masalah. Yaudah aku jadinya mikirin diri aku sendiri."

Saya memang berterimakasih sekali dengan adanya kasus itu, karena dengannya saya dapat kembali membenahi diri menjadi pribadi yang lebih baik, lillahi ta'ala, bertindak karena-dan hanya karena-Allah. Karena dengannya saya semakin dipekakan untuk tidak melulu memudahkan orang lain seandainya bukan dalam kebaikan, bukankah nasehat Rasulullah adalah agar kita saling tolong-menolong dalam kebaikan?

Kejadian itu sungguh menampar saya, saya malu. Malu pada diri sendiri, malu pada teman-teman yang sering saya nasehati, dan terlebih, malu pada Allah. Tapi saat itu saya fight, ketika di ruang kuliah yang dipenuhi oleh koas ditanyakan siapa yang berbuat curang dengan mengabseni yang tidak hadir, meski sempat terlintas untuk tidak mengaku, saya pun akhirnya maju dan mengatakan, "punten dok, saya dok."


Tapi bukan berarti saya tidak punya masalah, terkadang saya pun terperangkap dalam bentuk frozen dan menyiakan waktu yang ada. Perasaan gundah, hati tak tenang, semua nampak keruh, jalan keluar pun seolah tak ada dan takkan pernah ada. Maka saat itulah langkah pertama yang biasa saya lakukan adalah menyenandungkan asma Allah, karena sungguh, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang. Dan setelah itu Allah dengan sifat Maha Kasihnya mengingatkan saya yang terlalaikan untuk kembali menggenggam manisnya iman dan menyerahkan sesuatu hanya pada Dia yang kuasaNya meliputi langit dan bumi. Maka pada saat itulah jawaban dari permasalahan yang ada akan muncul dari jalan yang tidak disangka-sangka. Maka pada saat itulah manisnya nikmat dari suatu masalah yang menghadang akan terasa.


Karena melarikan diri (flight) dari masalah ataupun terdiam tak berdaya (frozenketika berjumpa dengan masalah hanya akan mengulangi atau bahkan memperburuk kondisi jiwa ketika masalah yang serupa kembali berulang. Karena masalah yang datang hadir dengan menyembunyikan mutiara hikmah dibalik keruhnya problematika yang mendera, maka adalah cerdas kalau kita fight untuk menemukan mutiara yang tersembunyi itu. Let's fight!
















[+/-] Selengkapnya...

Minggu, Oktober 14, 2012

Jadi, masalahnya...

Bedaaa sekali rasanya ketika kita membandingkan karakteristik manusia di zaman Rasulullah dengan yang ada di zaman kini, ya kita-kita ini lah contohnya. Ingatlah Umar ibn al-Khaththab, al-Faruq, yang ketika cahaya islam telah menyinari qalbunya maka tak sedikitpun terbesit keinginan dirinya untuk menyembunyikan kebenaran yang telah sampai padanya, diumumkannya lah keislaman dirinya kepada seluruh kaum Quraisy, “Aku tidak akan menyembunyikan kebenaran setelah mengetahuinya. Aku akan terus memisahkan kebenaran dan kebohongan, sama seperti Tuhan memisahkan siang dan malam.”, maka bergetarlah seluruh Makkah. Masya Allah.

Sedangkan kita? Ringan sekali mengucapkan atau melakukan kebohongan-kebohongan ataupun penipuan “kecil”. Terasa kecil, padahal dengannya diri semakin lalai menggampangkannya, sehingga seandainya kita jeli, sudahlah kebohongan itu menumpuk membentuk gunung ketidakjujuran. Naudzubillah.

Bagi yang kuliah, keterlambatan diri ketika menghadiri kuliah biasa dijawab dengan “Maaf pak/bu, dari toilet” kalau ditanya dosen dengan “Darimana? Kenapa baru datang?”. Atau, masih bagi yang kuliah, biasa sudah rasanya perihal mengabseni atau diabseni, ada yang hanya karena terlambat datang, ada juga yang memang tidak datang sama sekali.

Kembali kepada Umar radiallahu ‘anhu, ia pernah menasehati, “Berkata jujurlah, walaupun ia akan membunuhmu.”, Itulah lah Umar, ia akan berkeras dalam ketaatannya terhadap Allah dan RasulNya. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam pun menasehati kita untuk bertahan dalam kejujuran, “Jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada syurga” (HR Bukhari).  

Tapi, bagaimana dengan berbohong untuk kebaikan? Yakinlah, tidak ada kebaikan yang bisa ditebus dengan keburukan, tidak ada. Yang ada, ketika kita berbohong apapun alasannya, katakanlah misalnya untuk membela diri yang sedang dianiaya, dan seandainya kita tidak berbohong maka penganiayaan akan kita akan terus dilakukan, maka segeralah memohon ampunan Allah setelah kebohongan itu terucap, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat.

Ingatkah dengan Amar ibn Yasir? Ibunya Sumayyah menjadi hamba Allah pertama yang meninggal dalam keadaan syahid setelah dibunuh oleh Abu Al Hakam karena tidak mau mengingkari keislamannya dan mengatakan bahwa Muhammad, manusia terbaik sepanjang masa, adalah seorang pembohong. Ayahnya pun tak lama meninggal karena penyiksaan yang dideranya, dan Amar? Ia tidak meninggal, ia menyerah pada kebohongan saat siksaan demi siksaan ditujukan padanya, ia berbohong dan menghinakan Rasulullah seperti yang dipinta kaum kafir Quraisy. Segala puji bagi Allah, Amar masih dikaruniai usia untuk memohon ampun atas kebohongannya, yang insya Allah kebohongan yang ia ucapkan tak pernah sedikitpun ia benarkan dalam benaknya. Maka kemuliaan syurga pun dijanjikan Allah bagi Amar sekeluarga.

Pernah seorang teman membela diri dengan mengatakan bahwa tentu tidak akan pernah bisa disamakan antara para sahabat atau bahkan Rasulullah sendiri dengan keadaan kita saat ini. Padahal kenapa tidak bisa? Rasulullah sendiri yang mengatakan bahwa Umat terbaiknya adalah mereka yang mencintai Allah dan RasulNya dengan sebenar-benarnya kecintaan padahal mereka tidak pernah menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri wajah dan watak Rasulullah. Itulah kita, insya Allah, seandainya kita mau.

Karena benar, beda sekali karakter kebanyakan dari kita jikalau disandingkan dengan sahabat ataupun Rasul sendiri, padahal yang membedakan hanyalah keimanan dan ketakwaan kita, sedangkan iman dan takwa seseorang adalah buah dari kemauannya. Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an diturunkan untuk umat sepanjang masa, bukan hanya bagi umat yang hidup di zaman Rasulullah! Jadi apa yang mustahil? Masalahnya, kita mau atau tidak?

Meneladani seseorang dengan Al-Qur’an sebagai akhlaknya akan menjadi mustahil ketika membuka Al-Qur’an saja kita malas. Meneladani seseorang dengan Al-Qur’an sebagai akhlaknya akan menjadi mustahil ketika mempelajari sejarah hidupnya saja kita enggan. Meneladani seseorang dengan Al-Qur’an sebagai akhlaknya akan menjadi mustahil ketika “mustahil” itu sendiri adalah kalimat favorit yang terucap bahkan sebelum kita melakukan apapun.


Jadi masalahnya, kita mau atau tidak?

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, Oktober 12, 2012

Sehat jiwa tanpa gangguan

Apa kecemasan terbesar kita? Sampaikah ia mengganggu aktivitas atau mengganggu gerak yang ada? Kalau iya, hati-hati! Bisa jadi kita mengalami gangguan kejiwaan yang dikenal dengan ansietas atau gangguan kecemasan,  sebuah diagnosis bagi mereka yang memiliki anggapan terhadap suatu kondisi atau objek di luar dirinya yang dianggap sebagai sebuah ancaman sehingga muncul dalam bentuk ketakutan-ketakutan. Ketakutan-ketakutan inilah yang kelak akan menghalangi diri dalam mengambil langkah untuk move on.


Kenyataannya, cemas merupakan bagian dari emosi yang bisa terjadi pada orang tanpa gangguan kejiwaan, bedanya ia akan disebut sebagai "gangguan" ketika muncul dalam keadaan berlebih yang tidak dapat ditangani oleh dirinya. Sedangkan kesamaan diantara mereka dengan tingkat kecemasan normal dan mereka dengan gangguan kecemasan adalah memiliki masalah. Faktor apa yang menentukan sehingga masalah yang sama dapat dapat ditangani dengan baik olah seseorang sedangkan pada orang yang lain justru menimbulkan gangguan kecemasan? Keimanan? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.

Secara keseluruhan, gangguan kejiwaan apapun itu bentuknya memiliki tiga besar pokok penyebab munculnya gangguan yaitu organobiologis, psikoedukatif, dan sosiokultural. Iman, menurut saya secara pribadi, berkaitan dengan poin kedua dan ketiga yaitu bagaimana lingkungan maupun kebudayaan di sekitar seseorang membekalinya dalam menanamkan paradigma berpikir seperti apa yang pada kemudian hari dapat menjadi dasar bagi dirinya dalam memecahkan masalah kehidupan yang menghadang, sehingga semakin lemah pembekalan keimanan seseorang, semakin rendah daya tahannya terhadap tekanan, hingga bahkan masalah yang sangat remeh sekalipun dapat membuat dirinya seolah sedang ditimpa oleh badai cobaan.

Sedangkan poin pertama (organobiologis) adalah suatu keadaan dimana gangguan kejiwaan muncul sebagai reaksi dari kerusakan pada organ tubuhnya yang disebabkan karena penyakit, misalnya pada beberapa pasien jenis epilepsi (kejang) tertentu yang dapat menimbulkan kerusakan pada beberapa lokasi otak. Kerusakan-kerusakan pada kasus seperti ini dapat menimbulkan halusinasi atau persepsi palsu terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ketika kerusakan terjadi di pusat pendengaran, dapat saja muncul halusinasi dengar dimana seolah ia dapat mendengar suara-suara yang berbicara padanya, dapat berupa suara yang sedang memarahi atau mengejeknya, ataupun suara ramah yang sedang mengajaknya berbincang.  Kerusakan di pusat-pusat lain di otak juga dapat menimbulkan jenis halusinasi lain seperti halusinasi lihat, cium, bahkan raba.

Sejatinya akan mudah bagi kita mencegah munculnya gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh poin kedua dan ketiga tadi, karena bahkan sekalipun gangguan kejiwaan sudah mulai muncul, keimanan yang kuat dan benar dapat membantu mengembalikan ke kondisi semula dan bebas dari ketergantungan terhadap obat-obatan psikiatri, insya Allah. Ya, keimanan yang kuat dan BENAR. Karena kuat saja tidak berarti seandainya ia meyakini sesuatu yang salah bukan? Justru keyakinannya yang salah itu lah yang dapat mencetuskan munculnya gangguan dalam dirinya.

Katakanlah pasien A, ia keluar dari tempatnya bekerja karena teman-teman kerjanya sering mengajaknya bermain kartu, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa ajakkan temannya itu salah, buang-buang waktu katanya. Tapi seberhentinya ia dari pekerjaannya, ia justru hanya berdiam di kamar sepanjang hari, mendengarkan radio yang memperdengarkan ceramah-ceramah keagamaan dan mengajarkan berbagai hal yang dilarang, dan sejak saat itulah ia yang menelan bulat-bulat materi dari radio yang didengarnya membuatnya meyakini ajaran-ajaran agamanya dengan sangat keras hati. Semua anggota keluarganya dimarahinya karena menurutnya tidak becus dalam menerapkan ajaran agama. Ibunya ditendang karena menurutnya tidak berguna karena tidak bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang sukses. Hingga sampai tahap kecurigaan bahwa semua orang berniat jahat padanya yang datang membawa kebaikan ajaran agama.

Bayangkan betapa bahayanya informasi yang hanya tersampaikan sepotong-sepotong! Apalagi informasi mengenai ajaran agama, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, berbeda dengan muslim (orang yang berislam), ia tidak akan mencapai kesempurnaan dan kemuliaan islam seandainya tidak menerapkan islam secara kaffah (menyeluruh). Kuncinya, teruslah belajar, belajar, dan belajar! Tapi jangan berkeras hati memegang suatu pendapat karena bisa jadi persepsi kita yang salah, bukankah islam mengajarkan kita untuk bermusyawarah dalam memecahkan suatu masalah? Pun pendapat kita yang benar, tidak lantas menjadikan diri kita lebih mulia dan menjadikan orang dengan pendapat berbeda menjadi terhinakan bukan?

Karenanya jangan pernah berhenti meminta pada Allah agar hati kita dibersihkan, sehingga dapat mempelajari ilmuNya dengan berpegangan pada ketentuan-ketentuan yang sudah tercantumkan dalam al-Qur'an dan As sunnah, bukan pada kesombongan diri yang merasa sebagai orang yang paling benar. 
Ada baiknya kita meniru do'a Rasulullah Salallahu 'alaihi wa salam, "Ya Allah bersihkanlah hatiku dan sucikanlah jiwaku, sesungguhnya Engkau yang Maha membersihkan hati". Ulangi terus dalam setiap sujud kita, insya Allah dengannya akan lebih mudah bagi kita menerima kebenaran yang datang dari Allah, bukankah akan lebih mudah menulis pada lembaran kertas yang bersih dari coretan?


Sertakan Allah dalam tiap hembusan nafas kita, bahkan dalam problematika teremeh sekalipun yang kita alami dalam hidup. Seperti ucapan Hasan Al-Bashari, "Allah merahmati hamba yang berhenti saat terlintas keinginannya. Jika dilakukan untuk Allah, ia lanjutkan. Jika tidak, ia tunda."


















[+/-] Selengkapnya...

Kamis, Maret 29, 2012

Sungguh, ia tidak mengenal orang, waktu, dan tempat!

Sabtu 24 Maret 2012 pukul 7 pagi adalah jam dimana akhirnya aku mengakhiri jadwal jaga di Rumah Sakit Hasan Sadikin yang diawali sejak 12 jam sebelumnya yaitu Jum’at pukul 7 malam. Seharian tidak tidur adalah hal biasa bagi seorang koasisten sepertiku, terutama saat itu di IGD Bedah tempatku berjaga semalaman sedang ramai-ramainya pasien “berkunjung”.
Alhasil paginya mataku perih karena belum sempat dipejamkan sama sekali, namun hanya selang 20 menit dari berakhirnya waktu jaga di rumah sakit, aku pun melanjutkan perjalanan bersama salah satu teman satu kontrakan untuk ikut kelas Yoga di salah satu Gym di Braga Citiwalk, hasil dari voucher gratis yang dihadiahkan oleh teman lain yang juga satu kontrakan

Di akhir gerakan yoga yang penuh ketenangan, aku sempat tertidur sesaat (berharap tidak ada yang menyadari kalau aku tertidur sejenak saat itu), lelah! Bahkan aku pun kembali tertidur saat aku dan teman mampir ke suatu tempat makan seselesainya kami berolahraga, saat itu sudah sekitar pukul 11 lewat, kaget tingkat tinggi sewaktu aku dibangunkan untuk perjalanan pulang kembali ke kontrakan.
Tapi pulangkah aku setelahnya? Memang, tapi bukan untuk beristirahat, hanya untuk sejenak meletakkan peralatan-peralatan kedokteran yang kubawa selepas jaga rumah sakit kemarinnya, dan juga perlengkapan-perlengkapan lain selepas berolahraga. Sesampainya di kontrakan, terlihat bu Aah yang sedang menyetrikakan pakaian seorang teman lain yang berlangganan mencuci dan setrika baju pada bu Aah, Rabu dan Sabtu memang hari rutin bagi bu Aah untuk datang dan mengerjakan pekerjaan rutinnya. Sejuk sekali rasanya melihat beliau yang giat bekerja, malu rasanya mengatakan bahwa diri ini lelah saat beliau menyapaku yang baru saja datang. Apalah keletihanku dibadingkan dengan perjuangan beliau mencari uang? Pagi hari mencuci hingga berbaskom-baskom, kemudian mengejar waktu untuk menjemur agar bisa kering siang itu juga, dan siangnya di waktu dzhuhur seperti saat aku pulang saat itu, beliau kembali datang dengan setumpuk pakaian untuk menyetrikakan dan meletakkannya rapi di lemari temanku yang berlangganan padanya

Berbarengan dengan bu Aah yang menata pakaian yang telah disetrika ke lemari baju temanku, aku pun menata barang-barang yang akan kubawa ke tempat berlangsungnya pernikahan massal yang akan diselenggarakan oleh teman-teman Kampus Peduli, “Mau pergi lagi neng??”, tanya bu Aah seolah takjub. “Iyaaa buu, mau ke akad nikahan”
Ya, dini hari sebelumnya aku teringat tentang rencana nikah massal yang katanya akan membantu menikahkan adik-adik jalanan yang sudah kukenal beberapa bulan ke belakang, dan segera kukirim pesan singkat kepada beberapa teman yang kuharap saat itu bisa memberikan jawaban tentang kapan hari diselenggarakan ritual suci itu, dan jawaban yang kudapatkan adalah siang itu juga pukul satu. Dan itu berarti setengah jam lagi dari setibanya aku di kontrakan untuk meletakkan barang-barang pos-Jaga

Seberangkatnya aku ke tempat yang diberitahu oleh teman yang menjawab sms, sulit rasanya untuk tak tertidur di angkutan umum yang kunaiki, terkaget saat terbangun tepat di tempat seharusnya aku berhenti, aku pun segera turun dari angkutan yang kunaiki untuk berganti angkutan umum lain, dan bekerja keras menahan mata agar tetap terbuka dan tidak tertidur lagi.
Sesampainya di tempat tujuan, tak kulihat ada siapapun yang kukenal atau adanya tanda-tanda diadakannya sebuah acara. Selepas kuajukan jurus andalanku: bertanya, seorang bapak baik hati membantuku mencarikan orang lain yang sekiranya tau tempat tujuan pastiku. Alhamdulillah, aku pun diantarkan hingga dekat tempat tujuan, dan dengan tanpa bayaran. Subhanallah, padahal sebelumnya dikatakan untuk membayar seadanya, rasanya isi kantungku lebih dari seadanya saat itu (walaupun tetap terhitung pas-pasan, hehe), tapi takjub tingkat tinggi rasanya diri ini ketika beliau mengatakan kalau beliau tidak apa tidak dibayar karena mengantarku, jazakallah aa’ baik hati! Meskipun takkan luput amal baikmu dicatat, izinkan aku untuk tetap mendo’akan keikhlasan hatimu dalam berbuat baik

Berikutnya, kembali ditunjukkan oleh aa’ baik hati lain jalan menuju tempat berlangsungnya acara, akupun bertemu dengan Rofi, teman Kampus Peduli yang tampaknya mengingatku, maafkan karena aku tak ingat (insya Allah paska hari itu kuingat terus jasa baiknya^^), berkat petunjuk Rofi dan seorang adik lain yang kutemui di perjalanan, aku pun tiba di tempat acara, pukul 2 siang, telat sejam dari waktu yang dikatakan untuk berlangsungnya acara, namun syukur Alhamdulillah ternyata akad belum dilangsungkan, aku masih bisa untuk turut serta mendo’akan pasangan berbahagia yang akan diikat dalam sebuah mitsaqan galidzha, mendo’akan kebarakahan pernikahan mereka, segala puji bagi dan hanya bagiMu ya Rabb..(‘:

Perih mata ini karena belum sempat beristirahat rasanya terlupakan seutuhnya di tempat itu, berbincang dengan teman-teman lama yang akhirnya sempat bertemu lagi, menggendong bayi mungil dari pasangan pengantin yang berbahagia, berbincang dengan teh eli yang sempat menginap di kontrakanku paska melahirkan bayinya, hingga berbincang dengan seorang bapak yang menyapaku ketika aku memutuskan untuk melangkah pulang, saat itu sudah mendekati pukul 5 sore, sebenarnya diri ini sudah sangat ingin beranjak pulang, mengejar agar bisa pulang ke kontrakan sebelum maghrib tiba.
Namun berbincang dengan bapak itu menghadiahkan do’a tulus darinya kepadaku, terutama ketika beliau akhirnya tahu bahwa aku adalah seorang dokter muda yang sedang berprofesi di RSHS, amin ya Rabb...semoga malaikat mengaminkan do’a yang sama dan jauh lebih indah untuk bapak itu.

Pukul 5. Sudah benar-benar harus pulang kurasa, akupun pamit sekali lagi ke teman-teman yang sebenarnya sudah kusalami dari sebelum bertemu bapak tadi, dengan tergesa-gesa akupun berusaha untuk tidak menghentikan jalanku agar bisa sampai tepat waktu di kontrakan, pamit sepintas dengan bapak tadi dengan menangkupkan kedua tangan, salam, dan dengan sepasang kaki yang tetap berjalan tergesa. Namun kedua kaki ini kembali terhenti ketika hanya selang sekitar satu meter dari bapak tadi ada seorang ibu yang mengejarku untuk turut serta bersalaman mengantarkan kepulanganku.
Sungguh tak kusangka ketika selesai menjawab salam dan ucapan “hati-hati ya neng” dari ibu tadi, badan yang telah kubalikkan untuk kembali bergegas pulang membalik kembali ke arah sang ibu yang ternyata ucapan salamnya belum terhenti, “Ibu gak bisa ngasih apa-apa buat eneng, Ibu cuma bisa ngedo’ain aja supaya eneng sukses dan enggak ngelupain orang-orang kecil macam ibu”.

Allah. Orang kecil macam mana yang ikhlas mendo’akan orang yang baru saja ditemuinya? Aku pun berlari kecil ke arah ibu tadi, “Ibu, boleh aku meluk ibu??” Aku pun lekas memeluknya. Ibu tadi kembali mengulangi kata-kata yang sama, “Ibu, do’a ibu jauh lebih dari cukup, lebiiihh dari cukup, nuhun ibu, do’akan saya supaya bisa jadi dokter yang baik ya bu??”, hampir-hampir aku tak bisa melihat wajah sang ibu karena air mata memenuhi kedua kelopak mata ini. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan, Allah cintailah ibu tadi..

Berjalan pulang dengan arah sekenanya (karena ingatan ruangku sangat tidak baik) dan berbekal pertanyaan menuju jalan raya terdekat, akupun melajutkan perjalanan untuk pulang. Kembali bertemu dengan seorang ibu, dan kembali, hanya dengan menyapa ibu ini sembari meminta izin untuk lewat, ibu kali ini menahanku karena mengatakan diriku sangat sopan, beliaupun menceritakan banyak hal tentang anak-anaknya (dan sesuatu seperti alangkah bahagianya jika dapat menantu sesopan aku, duh), aku bahkan dimintanya untuk mampir ke rumahnya dan turut makan malam di rumah beliau. Setelah diselamatkan dari motor yang hampir-hampir saja menabrak kami karena jalan yang ada hanyalah satu jalan kecil, akupun berhasil mengulangi pamitan kesekian kepada ibu kali ini, beliaupun membekali aku dengan do’a-do’a dengan bahasa sunda (setidaknya aku tau yang diucapkan ibu ini adalah do’a untuk kesuksesanku, amiin, semoga sukses akhirat ya bu^^?)

Akhirnya tiba di jalan raya, tak kusangka ternyata hanya sekitar 20 menit aku pun berhasil sampai kembali di RSHS, dan hanya sekitar beberapa menit kemudian akupun telah terbaring di tempat tidurku yang ramah menyapa. Perih kembali hadir di kedua mataku, tapi ia tak langsung membuatku terlelap dalam tidur. Sungguh luar biasa sore tadi. Betapa masih banyak orang-orang sederhana yang ikhlas memberikan do’anya kepada orang lain yang baru, benar-benar baru saja, dikenalnya. Masya Allah. Masya Allah.

Teringat dengan sebuah hadist, senyum mu kepada saudara mu adalah sedekah. Dulu aku sempat berpikir ketika ada beberapa teman yang memilah-milih untuk bersedekah, ”Jangan ke orang itu! Lihatlah badannya, lebih dari bugar untuk mampu mencari uang dengan cara bekerja, kalau mau ngasih...kasih ke pengemis yang benar-benar sudah tak mampu menghidupi dirinya”. Tapi hei! Memangnya ada aturan untuk bersedekah?

Ada sebuah cerita bijak ketika seseorang yang baru saja belajar mengenai keutamaan bersedekah segera menyedekahkan hartanya kepada orang yang ditemuinya. Segera, ia dikomentari dengan celaan, “Hei fulan! Untuk apa kamu sedekahkan hartamu kepada orang tadi? Tidak tahukah kamu bahwa wanita yang kamu berikan sedekah tadi adalah seorang pezina dan pendosa yang tidak layak mendapatkan belas kasih?”

Dengan tak mengerti, ia pun hanya bisa mendo’akan agar sedekah yang dikeluarkannya bermafaat dan mendapatkan Ridha Allah. Kembali, ia menyedekahkan hartanya pada orang lewat lain yang ditemuinya, dan kembali ia dikomentari oleh orang-orang di sekitarnya yang melihat apa yang dilakukannya, “Hei fulan! Tak habis pikirkah engkau? Orang yang baru saja kamu berikan sedekah adalah seorang pencuri yang tidak pernah makan makanan yang halal dan tidak pernah bekerja untuk mendapatkan uang yang halal, bagaimana mungkin engkau memberikannya uang sedekah kepadanya dan masih berharap untuk mendapatkan Ridha Allah?”

Sedih, ia pun hanya bisa mengulangi do’anya agar harta yang telah ia sedekahkan bermanfaat dan diterima di sisiNya. Untuk ketiga kalinya, ia pun ingin kembali mengamalkan ilmu sedekah yang baru saja dipelajarinya, kembali ia memberikan sedekah kepada orang yang baru saja ditemuinya, dan lagi-lagi, kembali, ia dikomentari dengan nada mencemooh oleh orang-orang yang memperhatikan apa yang dilakukannya, “Fulan, sungguh, belum pernah kami melihat orang sebodoh dirimu, menurutmu untuk apalah engkau memberikan sedekah kepada orang yang kau lewati tadi, beliau adalah saudagar terkaya di kota ini, untuk apa kau pikir guna dari sedekahmu yang tak seberapa dibandingkan harta kekayaannya yang berlimpah?”
Termangu, ia pun terpuruk dalam kesedihan, betapa bahkan untuk berbuat baik saja dirinya tak bisa. Namun ia pun kembali mengulangi do’anya, berharap Allah mengerti niat baiknya

Hari-hari berikutnya, ia disapa oleh seorang wanita yang ternyata adalah seorang wanita yang diberikan sedekah olehnya beberapa waktu lalu, wanita itu mengucapkan terimakasih padanya, wanita itu mengaku tergugah dengan kebaikan tulusnya yang tak melihat latar belakang seseorang untuk diperlakukan dengan baik, selama ini orang-orang menganggap wanita itu sebagai pezina yang tidak layak mendapatkan ampunan Allah dan tidak layak untuk menerima kebaikan oleh manusia manapun, makhuk rendah, yang memandangnya saja adalah sebuah kehinaan besar. Namun karena sedekah darinya, wanita tadi terenyuh dan mendapatkan hidayah Allah dengan seketika, bersyukur dengan masih adanya orang yang memperlakukannya dengan baik, wanita itu kemudian bertekad untuk bertaubat, seberat apapun jalan yang mungkin nanti akan ditemuinya dengan cemoohan orang lain dengan apa yang telah dilakukannya, ia yakin Allah masih menyayanginya, karena bahkan ternyata masih ada orang yang memperlakukan orang sehina dirinya dengan baik untuk meraih Ridha Allah, seperti apa yang telah dibulatkan dalam tekad wanita itu kini

Ketika masih dalam keadaan terpana dengan apa yang dikatakan oleh wanita tadi, ia kembali disapa oleh seseorang, yang ternyata adalah seorang pencuri yang juga diberikan sedekah olehnya beberapa waktu lalu, lelaki ini juga mengucapkan terimakasih atas sedekahnya dahulu, selama ini belum pernah ia mendapatkan uang halal yang diberikan untuknya dengan tulus bahkan oleh seseorang yang baru saja dikenalnya, selama ini ia hanya berbekal dari usahanya mencuri untuk bertahan hidup dengan uang tidak halal yang diperolehnya. Tidak pernah terpikir dalam benaknya bahwa diantara pikiran-pikiran buruk orang lain tentang dirinya yang tidak akan mungkin berubah, ternyata masih ada orang lain yang tulus memperlakukannya dengan baik dan bahkan memberikan sedekah kepadanya, yang kemudian berbekal dari uang sedekah yang diperolehnya, lelaki itu pun memutuskan untuk menghentikan hidupnya yang selama ini jauh dari baik dan berusaha untuk memulai hidupnya kembali dari awal, dengan cara yang halal

Tak lama sepeninggalnya lelaki tadi, ia kembali disapa oleh orang ketiga, yang juga diberikan sedekah olehnya, apa yang akan dikatakan oleh saudagar kaya yang mendapatkan sedekah tak seberapa darinya? Tersinggungkah saudagar ini? Ternyata kembali ucapan terimakasih yang diterimanya, saudagar ini merasa sangat tertampar ketika dirinya diberikan sedekah oleh orang yang tak dikenalnya, jumlah yang sangat tidak ada apa-apanya dengan harta yang dimiliki sang saudagar justru mampu menyadarkan dirinya mengenai betapa selama ini hanya dunialah yang dikejarnya, hingga hartanya yang menumpuk sama sekali tidak pernah ia sedekahkan kepada yang membutuhkan. Tapi lihatlah orang asing yang memberikan sedekah padanya, orang asing ini bahkan tak berusaha mengetahui siapa yang ia berikan sedekah, karena hanya keinginan untuk bersedekahlah yang memenuhi dirinya. Sang saudagarpun teringat dengan kewajibannya untuk menzakatkan sebagian hartanya dan menyedekahkan sisanya, ia sungguh berterimakasih karena sedekah yang diberikan kepadanya mampu mengembalikan sang saudagar dari posisi lupa diri dari banyaknya harta yang mengelilinginya, sehingga sang saudagar masih bisa melakukan sesuatu untuk kepentingan akhiratnya

Subhanallah, betapa indahnya berbuat baik, kepada siapapun, bukankah tak ada aturan untuk berbuat baik? Ketika bersedekah tidak diharuskan hanya kepada orang-orang tertentu, dan menyapa juga tak harus pada orang yang kita kenal, layaknya fulan yang berhasil memberikan hidayah kepada mereka yang diberikannya sedekah karena mengharap ridha Allah, atau upaya ringanku untu tersenyum dan menyapa mereka yang kutemui di jalan yang membalas sapaanku, yang mungkin bagi orang lain tak ada harganya, yang dibalas dengan sebuah do’a untuk kelanjutan perjalananku

Tidakkah ia indah? Ketika diri ini belum sanggup bertindak seperti fulan yang memberikan sedekah tanpa melihat siapa yang ia berikan sedekah dan juga dengan tanpa putus asa tetap bersedekah meski dicemooh orang lain, bukankah bibir kita masih dapat melakukan senyum simetris dan mendo’akan orang yang kita temui di jalan, siapapun itu, ‘Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh, salam dan selamat untukmu, semoga Allah merahmati dan memberkahimu. Tidakkah hal tersebut mudah untuk dilakukan dan bernilai sedekah di mata Allah?

Lantas apa lagi yang kita tunggu?

Sungguh, berbuat baik tidak mengenal orang, waktu, dan tempat! Dan sungguh, disapa dengan senyuman tulus oleh orang lain mampu menghadiahkan kebersihan hati dalam diri untuk melanjutkan senyuman tulus kepada orang yang lain lagi. Lantas apa lagi yang kita tunggu? Tidakkah ia adalah multi level pahala yang sangat menjanjikan?



“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari yang terbit dan terbenam.”
(HR Bukhari)

[+/-] Selengkapnya...